CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Hari yang panjang


__ADS_3

Jeremy nampak tak bisa mengalihkan pandangannya. Wanita yang ada di hadapannya benar-benar mengingatnya kepada Riana. Benny nampak tak senang dan kesal melihat tatapan Jeremy. "Ingatlah satu hal, dua bukan Riana!" Ujar Benny sambil menarik tangan Nadia.


Jeremy nampak termenung, kerinduannya semakin besar saat melihat wajah Nadia. "Jeremi sadarlah, wanita itu bukan Riana." Batin Jeremi sambil memukul wajahnya sendiri.


Di kamar Benny...


Benny nampak melempar Nadia ke atas ranjang. "Apakah kamu puas melihat wajah lelaki itu?" Tanya Benny dengan nada kesal.


Nadia nampak menundukkan kepalanya dan meneteskan air mata. "Maaf mas, aku tidak bermaksud membuatmu kesal!" Jawabnya.


"Sudahlah, aku tidak mau lagi berdebat sama kamu. Ingatlah satu hal, kamu sekarang adalah istriku dan aku minta kamu sekarang pergi ke kamar mandi dan layani aku." Perintah Benny sambil membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Nadia nampak mengangguk dan pergi ke kamar mandi. Dengan cepat, Nadia membersihkan tubuhnya dan tak lupa membersihkan **** *************. Setelah merasa cukup puas dengan acara mandinya, Nadia keluar dari kamar dengan menggunakan sehelai handuk.

__ADS_1


Nadia berjalan menghampiri Benny dan membuka handuknya. Benny tersenyum dan menarik tubuh Nadia ke atas ranjang. Benny nampak tak bisa membendung lagi, body yang aduhai dan kulit putih bersih membuatnya semakin bergairah.


Benny nampak menyusuri semua bagian tubuh Nadia dari atas sampai bawah sebagai pemanasan. Tak lupa, Benny meninggalkan tanda kepemilikan di leher istrinya.


Setelah cukup puas dengan acara pemanasan, Benny langsung menuju tempat yang di tunggu-tunggu. Benny memasukkan perlahan barang miliknya dan Nadia nampak memejamkan matanya. "Ah...mas! Pekan sedikit.." D e s ahnya.


"Diam dan nikmati saja!" Jawab Benny dengan nada ketus.


Benny nampak mempercepat permainannya dan Nadia semakin merasakan kenikmatan. Nadia nampak meremas bantal dengan tangannya. "Mas, lebih cepat lagi!" Ucapnya.


Benny tersenyum dan menuruti keinginan Nadia. Terlihat Nadia semakin tak karuan, suara d e sahnnya terdengar cukup keras. Hingga sampai ke kamar yang ada di sampingnya, yaitu kamar Jeremi.


Jeremi nampak menutup telinganya tapi sayang suara d es ahan Nadia semakin kencang dan terdengar menggoda. Birahi Jeremi mulai menghampirinya, dua. terus mengingat wajah Nadia seiring dengan suaranya yang terdengar menggoda.

__ADS_1


Hingga akhirnya Nadia berada di puncaknya dan tersenyum. "Mas.." Lirihnya dengan nafas yang tak beraturan.


Benny tersenyum dan melanjutkan aksinya. "Apakah kamu puas?" Tanya Benny.


Nadia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sedangkan Benny mengayunkan kembali pinggulnya dan melakukan aksinya. Nadia nampak menahan rasa sakit dan sekarang kenikmatan mulai datang kembali. Nadia nampak menjerit dan meraung kembali, hingga akhirnya mereka keluar bersama dan tertidur lemas.


Nadia menatap langit-langit kamarnya dan sesekali menoleh ke arah Benny yang tertidur di sampingnya. "Andai saja, kamu yang ada di sampingku!" Batinnya.


Di kamar Jeremi...


Jeremi nampak sedang mengguyur tubuhnya di bawah shower yang menyala. Dia tak bisa melupakan suara d e sahan Nadia yang mengingatkannya terhadap Riana.


"Sepertinya, jalan yang ku lalui akan cukup sulit. Dan sepertinya mas Benny ingin menjebak ku dan mencari kesalahan ku dengan adanya wanita yang mirip dengan Riana." Ucap Jeremi sambil membuang nafas panjang.

__ADS_1


__ADS_2