
Rendra dan Dimas nampak mengobrol tanpa rasa canggung. Rendra mencurahkan semua kegundahan di hatinya. Karena secara Dimas adalah seorang psikiater yang cukup terkenal.
"Bagaimana menurutmu? Apakah aku sakit jiwa?" Tanya Rendra dengan penuh ketegangan.
Dimas membuang nafas kasar. "Emm, sebenarnya ini adalah masalah yang sulit. Kecanduan melakukan kekerasan dalam berhubungan ****, itu adalah sebuah penyakit. Dan penyakit itu hanya bisa kau sembuhkan sendiri." Tuturnya sambil menatap Rendra.
Rendra nampak tak berdaya, karena semua itu bukanlah hal yang mudah.
"Iya, aku tahu. Tapi bagaimana mungkin? Jika aku tidak melakukan kekerasan, rasanya hampa dan gairahku berkurang."
Dimas tersenyum. "Iya aku mengerti, bagaimana jika kau mencoba melakukan kekerasan pada barang lain? Seperti bantal atau guling, mungkin kepuasannya akan berbeda tapi setidaknya kau tidak menyakiti wanita yang kau cintai."
Rendra tertegun dan mencoba memikirkan saran dari sahabatnya. Meskipun terbilang tak masuk akal tapi semua ini demi kebaikan dirinya.
"Baiklah, aku akan mencoba saran mu!"
...
Sementara di kediaman Candra, Nadia masih bergelut di kamar Jeremi dengan nafsu yang bergebu-gebu. Hasrat ingin memiliki Jeremi semakin kuat, setelah membayangkan wajahnya yang membuatnya terpesona.
"Jeremi kau hanya akan menjadi miliki! Jika aku tidak bisa memilikimu, itu artinya regina juga tidak bisa memilikimu!" Tuturnya dengan senyum aneh.
Mendengar keramaian di luar, Nadia segera merapikan kamar Jeremi dan setelah selesai Ia pun keluar dari kamar tersebut.
Nadia menatap Jeremi yang datang dan Ia terlihat bahagia. Tapi sayang, tangannya di gandeng oleh Regina.
__ADS_1
"Kalian...!"
Regina tersenyum seraya meledek. "Maaf yah, aku gak ajak kamu. Sekarang kami sudah resmi menjadi suami istri!" Tuturnya dengan santai.
Srreat...
Hati Nadia serasa tersayat, mendengar ucapan Regina dan melihat kedekatan mereka. Nadia terduduk di lantai dengan tatapan kosong.
"Kenapa harus regina, Jeremi?"
Jeremi terdiam, melihat Nadia seperti itu. Tapi regina tak menggubris pertanyaan dari Nadia. Ia menarik tangan Jeremi dan membawanya masuk ke dalam.
"Ayo sayang, kita lanjutkan pertempuran semalam!" Ajaknya dengan nada tinggi.
"Sudah cukup kau menjadi belenggu di antara hubungan kami berdua, sekarang aku sudah kembali dan sampai kapanpun Jeremi adalah cintaku dan juga suamiku!" Batin Regina penuh dengan kepuasan.
Nadia menatap kepergian mereka, tak terasa air mata sudah membanjiri pipi. Ia pun menangis sambil memegangi bagian dadanya yang terasa sakit.
"Kenapa hidup tak pernah adil bagiku? Apa salah, jika aku menginginkan kebahagiaan dengan lelaki yang ku cintai. Kenapa dia lebih memilih wanita asing dari pada diriku?" Lirihnya dengan penuh kesedihan.
...
Tak terasa malam pun tiba, Nadia berinisiatif untuk memasak makanan yang sangat banyak dan kelihatan cukup lezat. Setelah selesai, Ia mengetuk pintu kamar Jeremi dan Regina.
Tok...tok...
__ADS_1
"Makan malam sudah siap...!" Teriaknya.
Tak ada jawaban dari dalam, yang terdengar hanya suara raungan samar dan gecitan ranjang. Jantung Nadia berdebar kencang mendengar semua itu dan untuk memastikan dia menempelkan telinganya di balik pintu.
"Ah sayang, aku sudah tidak tahan...! Aku ingin keluar...!" Begitulah suara racauan dari bibir regina.
Nadia pun menjauhi pintu dan tangannya terlihat mengepal. Ia pun dengan tak sabar menggedor pintu dengan keras dan kasar.
Tok...Tok...
Akhirnya Regina pun keluar dengan tubuh yang terbalut selimut, rambutnya nampak berantakan dan terlihat banyak tanda merah yang berada di lehernya.
"Kenapa sih, berisik sekali? Apa kau tak tahu, kita sedang melakukan pertempuran hebat dan suara mu sangat menggangu!" Ucapnya dengan nada kesal.
"Aku hanya ingin mengajak kalian makan!"
Regina tersenyum. "Bagus, akhirnya kau tahu diri! Seharusnya itu yang kau lakukan, karena di dunia ini tidak ada yang namanya hidup numpang gratis." Ketua Regina.
Jeremi yang mendengar keributan itu segera menghampiri dan mencoba melerai. Ia hanya menggunakan celana bokser dengan dada yang terpampang nyata.
"Sudahlah, jangan bicara seperti itu!" Tuturnya dengan suara lembut.
Nadia menatap dada Jeremi yang terlihat atletis meskipun usianya sudah tidak muda lagi. Ada banyak keringat di dadanya yang membuat Nadia menelan ludahnya sendiri.
"Berarti kalian benar-benar sudah melakukan hubungan badan!" Tuturnya tak percaya.
__ADS_1