CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Merenung


__ADS_3

Ririn tersenyum dengan maksud hati yang lain. Ia memanfaatkan Rendra yang sangat mencintainya untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan membalaskan dendam nya kepada Nadia yang menjerumuskan dia ke dalam kesengsaraan.


.


Di sisi lain...


Rendra nampak termenung dan memikirkan ucapan dari sang istri. Ucapan Ririn serasa teriyang-iyang di telinganya.


"Aku tidak tahu, kenapa aku harus melakukan kekerasan pisik pada istriku? Padahal jelas, aku sangat mencintainya!" Tuturnya dengan sedih.


Rendra pun menatap supir yang sedang melajukan mobilnya dengan hati-hati.


"Umar...!"


Si supir pun menoleh. "Iy..a bos!" Jawabannya dengan sedikit gemetar, karena tak biasanya Rendra memanggil namanya.


"Hentikan mobilnya...!" Titahnya dengan nada dingin.


Umar segera menepikan mobilnya dengan rasa takut.


"Ada apa ini? Apa aku sudah membuat kesalahan?" Batinnya yang terus bertanya-tanya.


Rendra menatap supir itu dengan dingin. "Apa kau sudah menikah?"


"Su...sudah bos!" Jawabannya dengan gemetar.


Rendra menganggukkan kepalanya. "Apakah kau menyayangi istrimu?" Tanyanya kembali.


"I..i..iya!"


"Apakah kau suka memukul pisik istrimu?"


"Tidak bos, saya tidak berani! Saya sangat menyayanginya dan saya tidak ingin melihatnya meneteskan air mata!" Jawab Umar tanpa ragu.


Rendra merenung memikirkan ucapan dari sang supir.


"Apakah memukul dan menyakiti istri termasuk cinta?" Tanyanya yang semakin penasaran.

__ADS_1


Umar menggelengkan kepalanya. "Kalau menurut saya itu bukanlah cinta, semua itu obsesi dan mungkin lelaki seperti itu harus di bawa ke rumah sakit jiwa!" Jawabannya dengan lantang.


Rendra sedikit terkejut mendengar jawaban dari sang supir. Ada rasa kesal di hatinya karena Ia di sebut orang sakit jiwa.


"Turun...!"


"Hah...! Apa salah saya bos?" Tanyanya heran.


"Kau tidak salah, aku hanya ingin sendiri. Ambil uang itu dan kembali ke rumah!" Tuturnya sambil melemparkan amplop coklat.


Umar tak banyak bertanya lagi, Ia segera mengambil uang tersebut dan keluar dari mobil.


Rendra terdiam merenungi ucapan dari Umar. Dan ia mengingat kembali, masa-masa dimana Ia selalu mencambuk setiap istrinya terutama Ririn. Semakin dia mencintainya, semakin Ia ingin menghajarnya.


"Iya, mungkin Umar benar! Aku ini sakit jiwa, tapi aku tidak tahu harus bagaimana? Tangan ini rasanya ingin selalu menyakiti!" Ucapnya sambil menatap telapak tangannya sendiri.


Rendra pun mulai meneteskan air mata. Untuk pertama kalinya, air matanya mengalir deras di pipinya.


"Mungkinkah semua ini karena masa mudaku yang selalu mendapatkan perlakuan tidak baik dari kedua orang tuaku!" Batinnya yang terus bertanya-tanya.


Akhirnya Rendra pun menguatkan dirinya dan mulai melajukan mobilnya dengan cukup kencang. Ia pergi untuk menemui sahabat lamanya.


30 menit kemudian...


Rendra akhirnya sampai di sebuah klinik yang tidak cukup besar. Ia pun keluar dari mobil dan menatap dingin tempat tersebut.


"Dulu aku bertengkar dengan Dimas karena telah merebut kekasihnya dan aku tidak tahu, apakah dia mau bertemu denganku!"


Rendra melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam, Ia bertemu suster dan bertanya.


"Apa dokter Dimas ada di dalam?"


"Ada, tapi dia masih ada pasien. Jika anda ingin berobat, anda bisa daftar dulu!" Jawab suster dengan ramah.


Rendra nampak acuh, Ia langsung nyelonong masuk ke dalam meskipun suster sudah melarangnya.


"Pak tolong jangan masuk dulu...!" Pinta susternya.

__ADS_1


Rendra seakan tak mendengar, Ia langsung masuk dan mendobrak pintu. Dokter yang ada di dalam dengan pasien langsung menatapnya dan Rendra pun mengusir pasien itu dengan kasar.


"Pergi, saya tidak suka menunggu!" Bentaknya.


Dokter Dimas, memberi isyarat kepada pasiennya untuk pergi. Pasien itu pun pergi dengan ketakutan.


Dimas menatap dingin sahabatnya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Rendra pun duduk di sofa dan melamun.


Keduanya nampak tak bicara untuk sesaat, tapi walau bagaimanapun Dimas adalah dokter dan Ia pun mulai membuka pembicaraan.


"Tuan Rendra yang terhormat...! Apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya dengan dingin.


Rendra menatap sahabatnya. "Sob, lupakan dulu masalah kita! Aku butuh bantuan mu."


Dimas tak menjawab dan Rendra pun bangkit dan merangkul bahu sahabatnya.


"Iya, aku mengaku salah! Maafkan teman mu yang tamak ini!" Pintanya dengan nada manja.


Dimas membuang nafas kasar. "Oke, saya akan memaafkan kamu tapi untuk apa kau datang menemui ku?"


Rendra memeluk Dimas dan menangis di pelukannya. "Aku galau, aku sakit...!"


Dimas termenung, untuk pertama kalinya Ia melihat Rendra yang seakan hancur jiwanya. Ia langsung mengajaknya untuk duduk dan memberikan segelas air putih.


"Minum dulu, agar kau tenang!"


Rendra meminumnya dan menatap Dimas dengan dingin. "Apakah kau si pahit lidah?" Tanyanya.


Dimas mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?"


"Kau tahu, mungkin semua ini adalah karmaku. Dulu saat aku merebut kekasihmu, kau memberikan sumpah serapah. Jika aku tidak akan pernah merasakan cinta yang sesungguhnya!" Tuturnya dengan sedih


Dimas terdiam dan Iya, dulu Ia pernah berkata seperti itu. Tapi melihat sahabatnya seperti itu, ada rasa bersalah yang menyelimuti hatinya.


"Maafkan aku...! Semua itu tak sengaja terucap dari bibirku," Jawabannya.


Rendra tersenyum. "Iya, semua ini bukan salahmu! Aku yang terlalu merasa sombong akan wajah dan kekayaan."

__ADS_1


Dimas pun tersenyum dan menepuk bahunya. "Apa yang membuatmu datang kemari? Dengan jiwamu yang hilang itu!"


__ADS_2