
Pipi Laras nampak memerah, mendengar pujian yang di lontarkan Jerry. "Sudahlah mas, jangan gombal terus!" Ucap Laras.
"Aku gak gombal kok, aku serius!" Ucap Jerry sambil menatap wajahnya.
Laras menggelengkan kepalanya dan tersenyum, pegawai butik langsung membantu Laras untuk membuka baju pengantinnya. Setelah selesai, mereka langsung membungkusnya dan Jerry membayar dengan harga yang cukup fantastis. Tak lupa, Jerry mengeluarkan 5 lembar uang seratus ribuan untuk tip para pegawai butik. "Ambillah!" Ucap sambil menyodorkan yang tersebut.
Kedua pegawai butik nampak saling menatap satu sama lain. "Apa ini mas?" Tanyanya.
"Ini tip untuk kalian, dan aku tidak suka di tolak!" Ucap Jerry dengan nada memaksa.
"Tapi mas, ini terlalu besar!" Ucap salah satu pegawai tersebut.
__ADS_1
"Ambillah anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih kami karena kalian telah melayani kami dengan baik dan sabar menghadapi pria yang satu ini." Ucap Laras menyela pembicaraan.
Kedua pegawai tersebut nampak tersenyum dan bahagia. "Terima kasih mas, mbak! Semoga pernikahan kalian lancar dan menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah," ucap pegawai tersebut mendoakan keduanya.
Jerry dan Laras menganggukan kepalanya dan tersenyum. Mereka pamit dan pergi meninggalkan butik. Jerry membawa baju pengantin yang telah di kemas. Mereka saling tertawa dan berpegangan tangan.
Di sebrang jalan, terlihat seorang wanita tengah mempersiapkan mereka dengan tatapan tidak suka dan iri. "Kenapa Laras bisa bersama Jerry? Ternyata Berin pembohong, aku tidak rela mereka bersatu!" Ujar Sindy dengan nada penuh kebencian.
Terlihat seorang wanita yang cukup berumur datang menghampiri Sindy dari belakang. "Kenapa kamu memperhatikan mereka? Kamu tahu, itulah yang selama ini tidak suka dengan kebahagiaan orang lain." Ucap mamahnya Sindy.
Plakkk...
__ADS_1
Tamparan pun mendarat di pipi kanan Sindy, wanita itu nampak memberikan tatapan tajam dan senyum jahatnya. "Aku telah membesarkan mu, inikan balasan mu untukku!" Ucap mamahnya.
Sindy nampak meneteskan air matanya, dia tak menyangka mamahnya menamparnya di depan umum. "Aku berkata yang sejujurnya, kenapa mamah malah menamparku. Aku ini anak mamah, kenapa mamah seperti tidak pernah menyayangiku." Ucap Sindy sambil menangis.
Mamahnya yang bernama Indri langsung mencengkram dagu Sindy dengan cukup keras. "Aku memang tidak pernah menyayangimu, kamu tahu kenapa karena aku membenci ibumu." Jawab Tante Indri dengan tatapan sinisnya.
Sindy nampak terdiam mendengar jawaban dari mamah kebanggaannya. "Jadi aku bukan anak mamah!" Ucap sindy dengan nada pelan dan tak percaya.
"Iya, kamu bukan anakku! Aku sengaja menyembunyikan semua ini untuk membalaskan dendam ku kepada keluargamu, melalui dirimu. Tapi nyatanya kamu tidak berguna, kamu hanyalah benalu untukku!" Ucapnya sambil melepaskan cengkeramannya.
Laras nampak terjatuh dan tubuhnya serasa lemas. Mamahnya pergi tanpa menoleh ke belakang. "Jadi ini alasan mamah tidak pernah menyayangiku. Lalu dimana keluargaku, dan aku anak siapa?" Batin Sindy yang terus bertanya-tanya.
__ADS_1
Disaat Sindy tengah putus asa dan tak berdaya. Terlihat uluran tangan seorang lelaki mendarat di depan wajahnya. "Butuh bantuan?" Tanyanya sambil tersenyum.
Sindy nampak terkejut mendengar suara yang nampak familiar. Dia menatap tubuh lelaki itu, dari ujung kaki sampai wajahnya. Sindy nampak tak bisa berkata-kata, saat melihat wajah lelaki itu. "Rama!" Ucap Sindy sambil menatapnya.