Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Rendi belum nyerah deh


__ADS_3

*Keesokan harinya


Seperti biasanya di waktu istirahat tiga orang sahabat berkumpul di perpustakaan.


"Nur, jujur saja aku masih penasaran soal kemarin malam" tanya Lidya


"Kemarin malam?" tanya Nurul sambil mengernyitkan keningnya.


"Iya, waktu kamu dan kak Rendi"


"Iya aku juga, cerita dong" desak Ani


"Masalah itu, tapi kalian harus janji dulu, kalian nggak boleh marah" pinta Nurul.


"Iya, iya cepat cerita" desak Lidya


"Bismillah" gumam Nurul, "Kemarin malam itu... kak Rendi nembak aku."


"Haah..." ucap Lidya sangat terkejut.


"Seperti yang aku duga." gumam Ani


"Jadi... kamu sudah tau An?" tanya Nurul


"Maafin aku Nurul," ucap Ani sambil memilin ujung kamejanya karena merasa bersalah, "Sebenarnya sudah berapa kali kak Rendi nitip salam sama kamu, tapi..."


"Aku ngerti kok." ucap Nurul menenangkan Ani kemudian memegang tangan Ani. "Lagipula aku dan kak Rendi cuma temanan aja, nggak ada yang spesial." sambungnya


"Jadi, maksud kamu?" tanya Ani dengang sinar mata yang sudah berbinar.


"Iya, aku tahu kamu suka sama Dia kan...."


"Ekh.. bukan gitu, aku..." ucap Ani dengan enggan


"Lagi pula aku sukanya sama seseorang..."


"Ehem... ehem.... Siapa Pria yang beruntung itu ya?" goda Lidya


"Ada deh..... Oh iya An, aku tidak ingin persahabatan kita rusak hanya karena memperebutkan seorang cowok " ucap Nurul dengan tegas dan tatapan serius. "Aku tahu kemarin kamu marahin aku karena cemburu kan..." sambungnya


"Iya, tapi aku sudah minta maaf." ucap Ani sambil menunduk.


"Iya, tapi jangan diulangi lagi."


"Iya ustazah... he he he...."


"Sungguh akhir yang bahagia...." sambung Lidya sambil merangkul kedua sahabatnya.


Ting


Ting


Ting


Tak lama kemudian bel masuk pun berbunyi dan seluruh siswa masuk ke dalam kelas untuk melanjutkan pelajaran.


****


*Malam hari


Setelah sholat Isya di Mesjid, Rendi menunggu Nurul dan teman-temannya di depan gerbang namun sayangnya ia hanya bertemu dengan Lidya dan Ani.


"Assalamu'alaikum..."


"Waalaikumussalam, ada apa Kak?" tanya Lidya


"Kok kalian cuma berdua aja, Nurulnya mana?"


"Nurul nggak ikut kami ke Mesjid Kak, katanya kurang enak badan." bohong Ani.


"Apa dia lagi menghindar dari aku?" batin Rendi


"Kenapa Kak, ada yang mau disampein?"


tanya Lidya.


"Nggak usah nanti aku ke rumahnya aja, kalau gitu aku duluan, assalamu'alaikum"


"Waalaikumussalam"


"Kayaknya kak Rendi belum nyerah deh" gumam Ani.


"Sepertinya begitu, ekh kamu nggak apa-apa kan..." tanya Lidya khawatir jika sahabatnya itu cemburu lagi.


"Nggak Lid aku sudah sadar kok, cinta itu nggak boleh dipaksain. Lagipula Nurul nggak salah apa apa, kak Rendi juga nggak salah kalau menyukai Nurul. Yang salah itu aku, karena sudah mencintai orang yang jelas-jelas mencintai sahabatku." ucap Ani dengan menahan genangan air di pelupuk matanya.

__ADS_1


"Tenang saja An kalau jodoh pasti nggak ke mana, dan Allah sudah nyiapin jodoh yang lebih baik buat kamu." ucap Lidya sambil memegang bahu Ani.


"Makasih ya Lid" kemudian mereka berpelukan.


"Aku boleh mampir ke rumah kamu nggak, siapa tahu kamu butuh teman curhat." ucap Lidya sambil melepas pelukan.


"He he he... Kamu pengertian bangat sih..."


****


Di sebuah kamar yang sederhana, duduklah seorang gadis yang sedang asyik dengan lantunan ayat-ayat Al qur'an yang terdengar sangat menyejukkan hati. Setelah selesai dengan kegiatannya, ia segera membereskan mukena dan menaruhnya di dalam tas.


Ia lebih memilih untuk melaksanakan sholat di rumah untuk menghindar dari Rendi.


Tak lama kemudian terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya


Tok tok tok


"Iya Umi"


"Ada teman kamu yang mau ketemu sama kamu Nak,"


"Siapa Umi?"


"Nak Rendi."


"Kak Rendi, kenapa?" batin Nurul. "Iya Umi sebentar lagi Nurul keluar."


Setelah selesai dengan mukenanya, Nurul pun keluar dari kamarnya.


"Sudah lama Kak ?" sapa Nurul kepada Rendi yang sedang duduk di ruang tamu.


"Nggak, baru aja nyampe."


"Ada apa Kak, kok malam-malam ke sini?"


"Kata Ani kamu sakit .."


"Sakit?" sambil mengernyitkan keningnya, "Oh.. iya, tapi sudah agak baikan kok cuma masuk angin aja."


"Syukurlah kalau bagitu."


Tak lama kemudian Umi datang membawakan secangkir teh dan sepiring kue serabi.


"Iya, makasih Umi."


"Jadi nak Rendi mau jenguk Nurul ya..."


"Iya umi, tadi sempat ketemu Ani dan katanya Nurul lagi sakit."


"Nak Rendi perhatian sekali ya..."


"Umi...." rajuk Nurul


Rendi hanya tersipu malu sambil meminum teh.


"He he he... Umi ke dapur dulu."


"Maaf Umi, sepertinya saya harus pulang sekarang sudah malam."


"Iya Kak, salam ya buat Bunda."


"Iya, assalamu'alaikum..."


"Waalaikumussalam"


Setelah Rendi pergi, Abah dan Umi mengajak Nurul duduk bersama di ruang keluarga.


"Ada apa Bah???"


"Kamu dan Rendi ada hubungan apa?"


"Nggak ada hubungan apa - apa Bah, kita cuma temanan aja."


"Abah harap itu benar Nak, bagaimana pun Abah bisa melihat sesuatu yang spesial di mata nak Rendi."


"Iya Bah, Nurul nggak bohong."


"Iya Nak, Umi sama Abah percaya sama kamu, ingat ya Nak sebentar lagi kamu ujian kelulusan jadi kamu harus fokus dulu sama sekolah kamu."


"Iya umi."


****


Sementara itu di tempat lainnya Lidya menemani Ani untuk tidur malam ini, ia khawatir kalau Ani kecewa dan melakukan sesuatu yang tidak baik.

__ADS_1


Malam itu Ani mencurahkan semua isinya hatinya pada Lidya tanpa menutupi sedikit pun.


Lidya menghabiskan malam dengan mendengarkan curhatan Ani sampai mereka berdua tidak bisa lagi menahan rasa kantuk.


Keesokan harinya mereka terbangun setelah mendengar adzan subuh.


Setelah sholat subuh keduanya pergi ke rumah Nurul dan mengajak Nurul untuk jogging.


"An, semalam kamu bohongin kak Rendi ya?" tanya Nurul


"Maaf Nurul." ucap Ani dengan tulus


"Kak Rendi benaran datang ke rumahmu?" tanya Lidya memastikan.


"Iya, trus Umi sama Abah kirain kita pacaran, aku jadi kena marah deh." ucap Nurul sebel mengingat kejadian semalam.


"Sungguh kasihan nasibmu Sobat, he he he" goda Lidya


"Godain aja terus" rajuk Nurul kemudian berlari menjauhi kedua sahabatnya.


"Kayaknya Nurul marah sama aku." ucap Ani


"Paling sebentar lagi baikan, kamu nggak usah masukin ke hati."


"Aku harus minta maaf sama Dia"


"Biarin aja An, biar Dia tenang dulu." cegah Lidya. "Mending kita langsung pulang aja."


"Iya"


Setelah keduanya pulang, Rendi pun mendekati Nurul.


"Assalamu'alaikum , boleh gabung nggak?"


"Waalaikumussalam, ada apa Kak?"


"Mau nemanin kamu yang lagi sendirian aja, Lidya sama Ani ke mana?"


"Hehh..." Nurul pun hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar, "Kayaknya mereka udah pulang"


"Kalian marahan lagi?"


"Yah... begitulah, aku bisa minta tolong nggak sama kak Rendi?"


"Iya, bilang aja."


"Tolong jauhin aku Kak, takutnya orang - orang mikir kalau kita lagi pacaran."


"Maaf Nur, aku_"


"Pliiss kak...." ucap Nurul memohon


"Aku nggak bisa Nurul."


"Kalau gitu kita nggak usah temanan lagi kak, assalamu'alaikum." rajuk Nurul kemudian berlari meninggalkan Rendi.


"Maafin aku, aku nggak bisa jauh dari kamu Nurul" ucap Rendi di dalam hatinya.


****


*Di Sekolah


Setelah lonceng berbunyi, seluruh siswa masuk ke kelas masing masing dan memulai pelajaran. Nurul yang biasanya sangat penuh semangat kini lebih banyak diam dan tidak konsentrasi dalam pelajaran.


"Lid, kayaknya Nurul masih marah deh"


"Sebaiknya kamu jangan dekat-dekat Dia dulu deh, biar aku yang ngomong sama Dia." ucap Lidya.


"Iya, aku langsung ke kantin aja ya... tolong kasihin sama Nurul." ucap Ani sambil memberikan sekotak kue brownies.


"Hmmm" jawab Lidya singkat


.


.


.


Jangan like, favorit dan votenya


Kalau mau kasih saran, silahkan tulis aja di komentar ya...


Karena dukunganmu sangat berarti bagiku


Happy reading Readers...

__ADS_1


__ADS_2