
Hancur berantakan dan patah berkeping- keping, itulah perasaannya saat ini.
Nurul yang berhati lembut memang sangat mudah untuk menangis, tapi bukan berarti dia adalah gadis yang lemah.
Nurul pun menyeka air matanya dan maju selangkah mendekati Friska, dengan suara yang cukup lantang dan ekpresi yang sangat serius ia menunjuk wajah Chika dan berucap, "Silahkan umumkan rencana pertunanganmu, aku tidak peduli!"
Seluruh tubuh Lidya terdiam kaku tak bisa berkata-kata lagi, ia tidak menyangka Nurul akan mengatakan hal itu.
Hal yang sama pun dialami Chika, bahkan semua teman-teman Chika kebingungan dibuatnya.
Tubuhnya bergetar hebat kala itu, ia pun berputar arah dan lari sekencang-kencangnya. Deraian air mata tumpah ruah mengiringinya, seakan ingin menjadi jejak kesedihannya.
Sementara itu, Ari yang sempat mendengar percakapan keduanya bergegas menyusul Nurul dan menarik lengannya kemudian menyembunyikan wajah manis yang sedang dibanjiri air mata itu ke dalam pelukan hangatnya.
"Sungguh sebuah adegan yang sangat mengharukan." tambah Author, he-he-he...
Di sisi yang lainnya, Lidya, Chika dan seluruh teman-temannya melotot kaget dengan kedatangan Ari yang langsung memeluk Nurul.
Nurul yang masih belum menyadari keberadaan Ari, hanya menangis sesegukan dengan air mata yang terus membasahi dada bidang seorang Pria yang sedang memeluknya.
Ia merasa nyaman, dan menggenggam kemeja bagian belakang Ari dengan sekuat tenaga.
Detak jantung mereka seakan berbaur menjadi seirama dalam alunan sendu.
Flashback on
Setelah kepergian mereka, Pria yang bersinggungan dengan Lidya ketika di Universitas A adalah orang yang memberikan surat mereka kepada Chika.
__ADS_1
Karena rasa ingin tahunya yang begitu besar, dia memungut dan membaca secarik surat yang telah di buang Chika ke dalam kotak sampah.
Tak hanya itu, Pria itu juga yang melaporkan kepada Ari tentang kedatangan dua orang gadis desa yang tidak lain adalah Nurul dan Lidya, karena Pria itu khawatir akan terjadi sesuatu kepada Chika. Bagaimanapun Chika adalah calon tunangannya Ari.
Ya, kabar pertunangan mereka sudah menjadi rahasia umum. Dan pelakunya tidak lain adalah Chika sendiri, ia sengaja melakukan hal itu agar para gadis yang mempunyai rasa terhadap Ari untuk segera mengubur harapan mereka.
Ari pun langsung menyusul Chika karena berdasarkan ciri-ciri yang dikatakan Pria itu, sama persis dengan Nurul dan Lidya. Ia khawatir Chika akan mengatakan hal-hal yang akan menyakiti Nurul nantinya.
Ia tidak mempermasalahkan perbuatan Chika yang menyebarkan rencana mereka di kampus, karena ia merasa sedikit terbantu karena para gadis yang sebelumnya mendekatinya untuk mencari perhatian, kini menjaga jarak darinya.
Untuk identitas Ari yang sebenarnya akan Author tuliskan di bab selenjutnya ya...
Ok, kita lanjut Readers...
Setelah rasa sakit hatinya mulai mereda, Nurul pun baru menyadari bahwa orang yang sedang mendekapnya adalah seorang Pria.
Namun, tak lama kemudian;
Perlahan, Pria itu mengangkat dagu Nurul yang tetap menunduk malu. Ia malu bahkan sangat malu melebihi malu-malu kucing, hi hi hi.
Nurul mencoba memejamkan kedua matanya karena ia belum siap untuk melihat sosok pria tersebut,
Ingin rasanya Ari mencubit hidung Nurul yang sudah kemerahan karena tangisannya barusan. Dengan lembut, kedua tangannya mengusap sisa-sisa air mata di wajah Nurul kemudian membingkai wajah yang manis itu dengan telapak tangannya.
Deg!
Seperti tersengat listrik, irama jantungnya menjadi semakin kacau. Seketika perasaan sedihnya menghilang begitu saja. Ia mencoba membuka matanya perlahan, dan...
__ADS_1
Sebuah senyuman hangat dari seorang Pria yang ia rindukan bersiap menyambutnya. Ia masih tidak percaya dengan kenyataan tersebut, ia mencoba meraih lengan Ari dan meraba sampai ke punggung tangannya.
Ari yang terus menatap Nurul dengan tatapan yang tulus itu, berucap dengan suara yang sangat jelas. "Jangan pernah membohongi perasaanmu sendiri, maafkan aku yang belum siap mengatakan kebenarannya Nurul. Tapi izinkan aku mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu dan aku berharap kamu adalah tulang rusukku."
Nurul sangat terharu dengan ucapannya setetes butiran bening pun jatuh membasahi wajahnya.
Tak hanya Nurul, bahkan Lidya pun terharu sambil menyeka air mata kebahagiaannya.
Lain halnya dengan mereka, Chika merasa sangat kesal dan memilih untuk pergi meninggalkan semua orang.
Nurul tak bisa berkata-kata lagi, ia hanya menatap wajah Ari yang dihiasi oleh ribuan bintang yang mengelilinginya.
Tak hanya sampai di situ, Ari menunduk mendekatkan wajahnya dengan wajah Nurul sehingga membuat perasaan Nurul menjadi semakin tak karuan.
Bingung, tak tahu harus bagaimana dan berbuat apa, akhirnya Ia menutup kedua matanya dengan sesekali membuka salah satu matanya untuk mencuri lihat apa yang akan Ari lakukan terhadapnya.
Melihat tingkah polosnya, Ari menarik sudut bibirnya samar.
Cup
Sebuah ciuman mendarat di dahi Nurul dalam tempo yang cukup lama, gugup ia meremas punggung tangan Ari untuk menyalurkan segala rasa yang ia rasakan.
"Suit-suit... so sweet," pekik Lidya memecah suasana.
.
.
__ADS_1
.