Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Awal yang baru


__ADS_3

Keesokan harinya, tepatnya hari minggu. Mereka bertiga jogging seperti biasa, ketika mereka beristirahat sejenak di tempat favorit mereka, Nurul memberikan secarik kertas untuk Ani.


"Dibukanya nanti di rumah saja!" ucap Nurul setelah memberikan secarik kertas untuk Ani.


Ani pun hanya mengangguk untuk menyetujui ucapan dari sahabatnya.


Lidya tidak ambil pusing dengan urusan keduanya karena ia masih merasa kesal dengan keputusan Raka kemarin.


"Kalau tahu begini, mending aku tonjok di wajahnya saja kemarin biar dia kapok." gumam Lidya di dalam hatinya.


"Akh... Aku kesal sama pak Raka." teriaknya frustasi sambil mengacak-ngacak krudungnya sendiri.


"Lidya apa yang kamu lakukan?"


"Bukannya kamu sendiri yang menyetujui keputusan pak Raka kemarin."


"Iya sih... Tapi saat itu, aku merasa seperti terhipnotis."


"Terhipnotis bagaimana?" tanya Nurul.


"Jangan-jangan dia salah satu murid Deddy Corbuzier." tambah Ani.


"Akh... jangan ngawur Ani."


"He he he... Bercanda Lidya, dari pada galau sendirian, mending ajarin kita pakai laptop kamu dong..."


"Iya, beberapa hari lalu kita nggak sempat belajar dari pak Raka kan.."


"Iya, mending kita ke rumah kamu saja Lid."


"Yaudah, dari pada aku frustasi sendirian, kalau ada kalian kan jadinya nggak terlalu mikirin si Killer."

__ADS_1


"Hmmm."


Mereka pun menuju ke rumah Lidya untuk belajar dari Lidya sekalian ingin tahu rasanya pakai laptop baru. He he he...


Tak lama kemudian mereka sampai di rumah Lidya.



Nurul dan Ani berusaha mengalihkan perhatian Lidya dengan menanyakan berbagai pertanyaan.


"Ini fungsinya apa Lid?"


"Kalau ini untuk apa?"


"Nah yang di sebelah ini untuk apa?"


"Kalau yang itu?"


Dan berbagai macam pertanyaan lainnya sehingga membuat Lidya kerepotan sendiri menjawab pertanyaan dari kedua sahabatnya itu.


"Waah... Ternyata tampilannya jadi se-keren ini."


"Kamu hebat Lidya."


"Ya iyalah, siapa dulu dong Gurunya."


"Si Killer. Ha ha ha...."


Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Mereka pun menyudahi kegiatan mereka dan berpamitan pulang ke rumah masing-masing.


...****...

__ADS_1


Keesokan harinya, di mana hari itu menjadi awal yang baru untuk Nurul dan kedua sahabatnya. Mereka akan menjalani hari dengan mengisi waktu senggang mereka untuk lebih fokus dalam mempersiapkan berbagai macam ulangan dan ujian yang akan mereka hadapi beberapa bulan lagi.


Berbeda halnya dengan mereka, hari ini justru menjadi hari pertama bagi Rendi untuk memikul tanggung jawabnya sebagai ketua OSIS yang baru di sekolahnya.


Acara serah terima jabatan yang berlangsung di sekolah Rendi tidak semeriah acara di sekolah Nurul, acara mereka berlangsung biasa-biasa saja. Tidak ada yang spesial ataupun sesuatu yang aneh.


Jika ada sesuatu yang aneh, mungkin hal itu adalah keanehan yang diciptakan Rendi sendiri karena baru kali ini acara serah terima jabatan ketua OSIS ditunda oleh yang bersangkutan.


Dikatakan sedikit aneh karena seharusnya yang bersangkutanlah orang yang paling menanti-nantikan acara tersebut, bukan malah menundanya.


Meskipun begitu, acara tetap berjalan lancar dan tanpa hambatan sama sekali.


Setelah acara selesai, seluruh teman-teman Rendi berkumpul di kantin sekolah dan merayakan hari pertama dinobatkannya Rendi sebagai ketua OSIS yang baru dengan acara traktiran, dimana Rendi akan mentraktir teman-temannya di kantin favorit mereka.


Mau bagaimana lagi, Rendi hanya bisa pasrah dengan merogoh jatah uang bulanannya untuk menuruti permintaan dari teman-temannya.


Ting


Ting


Ting


Bel tanda istirahat pun berbunyi. Setelah sibuk dengan kegiatan rutinitas mereka, mereka menuju ke Perpustakaan untuk menanyakan apakah mereka akan berlatih komputer lagi atau latihannya sudah selesai?.


Namun ketika mereka baru saja keluar dari ruang kelas, Friska dan kedua temannya datang menghampiri mereka untuk meminta maaf atas kejadian kemarin.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2