
Keesokan harinya
Ani terbangun dengan mata yang masih sembab dan sedikit bengkak, sambil mengumpulkan semua kesadarannya, ia menengok ke arah jam dinding berwarna pink yang tergantung di dekat lemari pakaiannya.
"Haaah sudah jam 03.00 pagi?" Pekiknya sambil memukul pelan pipinya berharap ini hanyalah mimpi.
"Akh... Ternyata aku tidak bermimpi." gumamnya setelah sepenuhnya sadar.
Tak lama kemudian
Krruuk
Krruuk
Krruuk
Terdengar sinyal dari perutnya.
Ia pun segera berdiri menuju dapur dan mencari sisa-sisa makanan yang berada di dalam tudung saji.
Bunda Hani yang sedari tadi terbagun karena mendengar suara langkah kaki akhirnya mengambil senjata pamungkasnya untuk berjaga-jaga.
Puk
Puk
Puk
Kini dapur mereka diramaikan dengan rintihan dan pukulan dari senjata khusus Ibu-ibu yang bernama sapu ijuk. He he he
Setelah puas menghujani tersangka, tiba-tiba..
Klek
Ayah Ani menekan saklar lampu untuk menangkap tersangka.
Refleks Bunda Hani segera menyadari bahwa tersangka itu adalah anak semata wayangnya sendiri.
"Ani?" ucap Ayahnya setelah melihat anak Gadisnya yang sedang berjongkok di sudut dinding dapur tersebut.
"Kenapa malam-malam keluyuran di dapur Nak?" tanya bunda Hani tanpa melepaskan senjata pamungkasnya.
Bukannya menjawab, Ani malah memasang wajah memelasnya. "Akh... Bunda, badanku sakit semua Bunda," rengeknya sambil merentangkan kedua tangannya agar Bunda dan Ayahnya segera menggendongnya ke dalam kamar.
Ayahnya segera mendekat untuk mengendongnya, tapi langsung dicegah oleh Bunda Hani dengan merentangkan senjatanya tepat di antara mereka.
"Jawab dulu pertanyaan Bunda!"
__ADS_1
"Ekh... Itu Bunda, aku hanya kelaparan saja," jawabnya kikuk sambil memilin-milin ujung kaosnya.
"Siapa suruh pulang dari Mesjid langsung tidur saja," cerocos Bunda Hani sambil menjewer telinganya.
"Ampun Bunda, aku janji nggak akan ngulangin lagi kok."
"Hmmm." sambil melepas tangannya dari kuping Ani.
Ayah Ani hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat perseteruan antara istri dan anaknya.
Tak lama kemudian Bunda Hani segera memanaskan ayam kentucky yang menjadi makanan favorit dari anaknya.
Sementara itu ayahnya kembali ke dalam kamar untuk melanjutkan istirahatnya.
"Bunda baik deh." ucapnya setelah Bunda Hani telah selesai menghidangkan makanan di atas meja sambil tersenyum manis.
*****
Di sekolah
Hari ini, tepatnya hari Jum'at. Mereka melaksanakan kegiatan senam di halaman sekolah seperti biasanya.
Raka menggunakan kesempatan ini untuk lebih mendekatkan dirinya kepada siswa-siswi.
Hari ini ia membeli beberapa keranjang buah-buahan untuk dibagikan kepada siapa saja yang lewat di depan Perpustakaan.
Hari ini Ani terlihat seperti biasanya, walau pun masih terlihat sedikit bengkak di matanya. Namun senyuman dan keceriaan dari wajahnya sudah kembali seperti biasanya.
Nurul, Lidya dan Raka ikut tersenyum melihatnnya.
Author juga, he he he....
Sudah sekitar 50% buah-buahan yang telah tersalurkan, namun bel tanda masuk pun berbunyi. Akhirnya mereka kembali masuk ke dalam kelas untuk melanjutkan pelajaran.
Tak lupa Raka mengucapkan terima kasih kepada mereka bertiga.
Dua jam kemudian
Ting
Ting
Ting
Seluruh siswa berhamburan keluar, namun saat ini ada yang sedikit aneh.
Mereka hanya mengerutkan kening ketika melihat teman-teman sekelas mereka berbaris seperti mengantri di kasir supermarket.
__ADS_1
"Apa yang sedang terjadi?" tanya Ani sambil melihat ke arah Nurul dan Lidya bergantian.
Mereka hanya menggelengkan kepala.
Akhirnya mereka memutuskan untuk bergabung ke dalam antrian itu.
Setelah hampir giliran mereka, akhirnya mereka mengetahui siapa dalang dari semua ini.
"Ternyata si Killer." gumam Nurul yang posisinya berada di depan
"Buat apa Dia berdiri di depan kelas kita?" tanya Lidya sambil berbisik.
"Buat jemput kamu Lidya..." Goda Ani sambil berbisik.
Ciiit
Sebuah cubitan mendarat di pipi Ani.
"Aww... Sakit Lid,"
Nurul hanya tersenyum melihat keduanya.
Raka yang sedari tadi memperhatikan mereka hanya tersenyum samar. Dan bergumam. "Sepertinya semuanya sudah baik-baik saja seperti semula."
Setelah mereka berada tepat di hadapan Raka, Raka segera mengajak mereka bertiga sedikit manjauh dari siswa-siswi karena ada hal penting yang ingin dibicarakan.
.
.
.
.
.
Hmmm, kira-kira hal penting apa ya...
Jangan lupa dukungannya Readers
Vote
Like
Koment
hadianya juga ya...
__ADS_1
Happy Reading...