Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Penantian Raka


__ADS_3

Selama beberapa hari ke depan, mereka menjalani rutinitas seperti biasa, hanya saja bayang-bayang tentang Raka selalu menghiasi pikiran Lidya membuatnya selalu tersenyum sepanjang hari.


Adit yang merasakan perubahan dari Kakaknya itu terkadang merasa ngeri. Dan berpikiran bahwa orang yang sedang jatuh cinta itu ternyata sikapnya sangat aneh.


Bagaimana tidak, Lidya yang sedang duduk sendirian pun bisa tersenyum dan memukul-mukul bantal sofa sendiri, kayak orang stress saja.


Ekh, ini kata Adit ya... Bukan Author lho....


Tanpa terasa hari itu tiba. Hari di mana mereka akan mempelajari cara menggunakan laptop dari Raka.


Ting


Ting


Ting


Tak lama kemudian bel istirahat berbunyi, mereka segera mengambil rantang makanan masing-masing dan menuju ke Perpustakaan. Namun hal itu dicegah oleh Lidya.


"Sebentar Nurul, Ani." ucap Lidya sambil memegang tangan mereka, karena ia belum mengambil rantang makanannya dari dalam tasnya.


"Kenapa?" tanya Nurul sambil mengernyitkan dahinya.


"Sebaiknya kita makan di kelas saja." Ucap Lidya sedikit kaku.


"Apa kamu masih malu dengan kejadian kemarin?"


Lidya tidak membantahnya. Ia hanya menganggukkan kepalanya pelan. Ia sangat malu jika Raka akan melakukan sesuatu yang akan membuatnya merasakan desiran aneh itu lagi di depan kedua sahabatnya.


Saat Raka memperlakukannya dengan spesial.


Akh... Mengingatnya saja membuat Lidya kesem-sem sendiri lagi. Bagaimana tidak, Raka adalah orang asing pertama yang memperlakukannya dengan penuh perhatian.


Mau tidak mau, ia hanya bisa menikmati kebaikan hati dari Raka. Apalagi ia sudah mulai mencintai Raka.


"Hmmm... Masa-masa indah ini..."


"Janganlah cepat berlalu..."


"Ingin terus merasakan seperti ini..."


"Tapi aku malu, ku malu-malu tapi mau."


"Sungguh-sungguh aku mallu."

__ADS_1


Gumam Lidya di dalam hatinya. Sehingga membuat rona merah kembali menghiasi pipinya.


Nurul hanya melihat ke arah Ani dan mengangkat kedua alisnya sebagai signal untuk meminta pendapat Ani. Namun hanya dibalas anggukan oleh Ani.


"Baiklah." ucap Nurul setelah mendapat kode dari Ani.


Dan mereka duduk kembali untuk mengisi lambung mereka yang sudah kosong.


Sementara itu di sisi lain, Raka sedang menantikan kedatangan mereka sambil sesekali melihat ke arah jam tangannya.


Cemas dan merindu itulah perasaannya saat ini. Ia cemas jika mereka tidak akan datang ketika ia melakukan sesuatu yang sedikit agresif kepada Lidya kemarin. Takutnya Lidya akan semakin menjauh.


Dan merindu padahal mereka hampir setiap hari bertemu. Siangnya bertemu di sekolah, sementara malamnya bertemu di Mesjid. Tapi entah kenapa, ia sudah kecanduan melihat si tomboy itu.


Lebih tepatnya rindu melihat ekspresi malu-malunya.


10 menit berlalu.


Ia masih setia menunggu kedatangan mereka dan tidak berniat menyentuh rantang makanannya sama sekali.


"Kenapa mereka belum datang juga." gumamnya sambil duduk di kursi staffnya dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Tak lama kemudian,


Tok


Tok


Tok


Terdengar suara dari depan pintu, dengan refleks ia mengalihkan pandangannya ke sumber suara.


Tadaa...


Yang ditunggu akhirnya datang.


Bukannya menjawab salam, Raka malah menyunggingkan senyumnya sambil memperhatikan Lidya dengan sinar mata yang sudah berbinar.


Dan...


Tatapan itu mendapat sambutan dari seseorang di seberang sana.


Deg...

__ADS_1


Netra mereka bertemu, mereka merasa seperti dunia ini hanya milik mereka saja. Hingga melupakan orang-orang di sekitar mereka.


"Hmmm mulai lagi deh, kita berdua pasti dianggurin Nurul." Bisik Ani di telinga Nurul.


"Sudahlah An, emang nasib kita kayak gini." balas Nurul sambil berbisik.


Lidya dan Raka masih tenggelam dengan fantasinya, entah kapan mereka akan menyadari kegalauan orang di sekitar mereka.


"Sampai kapan kita berdiri di sini?" gumam Ani dan hal itu berhasil mengusik Lidya.


Blush...


Lidya menarik tatapannya kemudian menunduk untuk menyembunyikan rona wajahnya yg sudah memerah itu.


Ia mulai menyadari kecerobohannya dan merasa bersalah telah mengabaikan kedua sahabatnya.


"Sebaiknya kita masuk saja." Ucapnya dengan enggan.


"Akh... Akhirnya." celoteh Ani


Sementara Nurul hanya tersenyum geli mendengar celotehan Ani.


Dengan sedikit ragu mereka memasuki perpustakaan. Sementara Raka terus menatap wajah Lidya yang saat ini masih menunduk di hadapannya.


Eksperesi inilah yang sudah dinantikan Raka sedari tadi.


"Assalamualaikum Pak." Ucap Nurul setengah berbisik ketika sudah berada di depan meja staff Raka. Takutnya akan membuat Raka tersinggung karena ini sudah yang kedua kalinya ia mengucapkan salam.


"Ekhem...."


Raka berdehem dan memasang wajah datarnya lagi, karena sudah menyadari sesuatu yang menjadikannya salah tingkah lagi, entah sudah yang keberapa kalinya.


"Waalaikumussalam." ucapnya kemudian.


.


.


.


.


Nantikan kelanjutannya di bab berikutnya ya....

__ADS_1


Happy reading Readers


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian.


__ADS_2