
Setelah mereka sudah di ujung koridor yang cukup dekat dengan Perpustakaan, tiba-tiba ada 3 orang gadis yang berjalan sambil mengendap-ngendap keluar dari perpustakaan.
Ketiga gadis itu celingak celinguk melihat keadaan di sekitar koridor, sangat mencurigakan.
Ketiga gadis tersebut adalah kelompok pengintip yang sedang melarikan diri, setelah berhasil mendapatkan informasi dari kedekatan antara Lidya dan Raka, mereka langsung keluar sebelum diketahui oleh Lidya atau Raka yang masih serius dengan kesibukan masing-masing.
Nurul yang melihat hal itu segera menarik Ani untuk bersembunyi di balik dinding.
"Mengapa Friska dan teman-temannya berjalan seperti itu?"
"Aku juga tidak tahu, sebaiknya kita bersembunyi dulu."
"Hmmm."
Tak lama kemudian Nurul mengintip untuk memastikan keadaan, setelah ketiga gadis tersebut sudah cukup jauh, mereka melanjutkan perjalanan ke Perpustakaan.
Dan...
Situasi terkini dari Raka dan Lidya adalah...
"Apakah hasil kreasiku cukup bagus?" tanya Lidya sambil mengarahkan laptop tersebut ke arah Raka.
Keduanya nampak lebih akrab dari yang sebelumnya. Hal itu karena Lidya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Jika memang memungkinkan, ia ingin kursus komputer kepada Raka.
__ADS_1
"Sangat bagus." puji Raka dengan sebuah senyuman yang sudah terukir di wajahnya.
"Akh... Kakak bisa aja, ekh... Maaf, Bapak maksudnya." ucap Lidya keceplosan.
"Aku lebih suka dengan panggilan Kakak." Ucap Raka dengan menekankan kata Kakak.
Lidya menjadi serba salah lagi, ia menjadi seperti orang yang sedang kegeeran. Membuatnya tertunduk malu.
Sementara itu di sisi yang lain,
Mendapati ruangan yang terasa sangat sunyi, membuat mereka berjalan sambil mengendap-ngendap. Kemudian mengintip dari rak buku yang berada di tengah ruangan tersebut.
"Tuh kan, mereka semakin mesra." cerocos Ani pelan.
"Iya, iya..."
Setelah itu mereka melanjutan proses pengintipan.
"Oh iya, kenapa Nurul dan Ani belum balik ya..." tanya Lidya untuk mengalihkan pembicaraan, dan berusaha bersikap senormal mungkin.
"Mungkin saja mereka sengaja meninggalkan kamu di sini agar kita punya waktu bersama." Jawab Raka di dalam hatinya.
Melihat Raka yang hanya diam saja, Lidya menepuk pundaknya cukup keras. "Kenapa Bapak melamun?" tanya Lidya sambil menatap Raka dengan penuh telisik. Ia merasa sudah semakin akrab saja dengan si killer ini.
__ADS_1
Ya, selama Raka tidak menggoda Lidya, maka Lidya akan bersikap seperti ia bersama dengan teman-temannya yang lain.
"Ekh itu, tadi aku... Pengen ke toilet." jawab Raka tergagap karena terkejut dengan sikap Lidya yang sudah semakin akrab dengannya. Ini pertama kalinya Lidya berani menepuk pundaknya. Untung saja bukan pundak di sebelah kanan, kalau hal itu terjadi, ia pasti sudah meringis kesakitan. Sebenarnya bekas gigitan itu tidak terlalu parah, hanya saja masih terasa sakit jika disentuh apalagi ditepuk.
"Toilet?" tanya Lidya sambil mengernyitkan dahinya.
"Hmmm." jawabnya singkat kemudian berdiri dari duduknya.
Lidya mulai merasa panik karena ia merasa takut jika diruang tersebut hanya dirinya saja. "Emmm, aku tunggu di luar Perpus aja ya... Aku takut sendirian di dalam." ucap Lidya dengan semakin lama semakin merendahkan suaranya.
Raka hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum samar menahan rasa gelinya.
"Dasar, si tomboy yang penakut." gumamnya di dalam hati.
Mendengar omongan mereka, Nurul dan Ani yang sedari tadi bersembunyi mulai merasa panik.
"Aduh bagaimana ini?" panik Ani sambil mengigit ujung jarinya.
Bruuk
.
.
__ADS_1
.