
Sementara itu di sisi yang lainnya, tampaklah seorang Gadis yang sedang kebingungan untuk melanjutkan langkahnya.
"Hmmm, apa yang harus aku lakukan?"
"Apa aku harus kembali ke ruangan OSIS lagi?"
"Kalau aku kembali bisa-bisa kena semprot dari pak Raka karena sudah meninggalkannya begitu saja setelah membenturkan kepalaku ke dagunya."
Gumamnya sambil melangkahkan kakinya pelan.
"Heehh..." lalu ia menghembuskan nafasnya dengan kasar setelah duduk di sebuah bangku panjang yang terdapat di ujung koridor.
"Bagaimana ini?"
"Apa sebaiknya aku kabur saja, toh tugasku sudah selesai kan..."
"Semuanya sudah ku simpan di dalam Flash disk itu."
Ucapnya dan berniat melarikan diri dari Raka, ia merasa sangat bersalah karena telah meninggalkan Raka di saat yang kurang tepat. Iya kurang tepat, jika diingat-ingat lagi seharusnya saat itu akan ada sebuah adegan yang cukup menegangkan. Hanya saja harus tertunda karena panggilan alam yang tidak bisa ditunda lagi.
"Akh senangnya dapat ilmu baru lagi, aku akan mempraktekkannya di laptopku sendiri."
"Sebaiknya aku pulang saja."
Sambungnya menghibur diri sendiri untuk mengalihkan perasaan bersalahnya kepada Raka.
Akhirnya ia berdiri untuk melanjutkan perjalanannya dan berbelok menuju ke kelas untuk mengambil tas sekolahnya.
Bruuk..
Lidya dan Nurul bertabrakan di ujung koridor, mereka yang saat itu sama-sama terburu-buru akhirnya saling menabrak satu sama lain.
Rasa sakit yang diakibatkan oleh tabrakan pun tidak terasa sama sekali karena teralihkan dengan rasa senang telah bertemu dengan orang yang tepat.
Nurul yang terlalu senang bertemu dengan Lidya tanpa harus berakting di hadapan Raka, dan Lidya yang terlalu senang karena ia bartemu dengan seorang sahabat yang akan menemaninya sepanjang perjalanan pulang ke rumah nanti.
"Nurul, kenapa kamu di sini?"
"Nanti saja tanya jawabnya, sebaiknya kita mencari tempat yang cocok untuk berbicara."
__ADS_1
"Berbicara?"
"Iya."
"Tentang apa?"
"Sudah, jangan banyak tanya!!!" lalu Nurul menarik tangan Lidya menuju ke jalan yang di lalui Lidya tadi.
"Di sini saja Nurul," ucap Lidya menghentikan langkahnya.
"Nggak bisa Lidya, nanti ketahuan sama pak Hari."
"Di kelas saja."
"Di sana masih ada Friska dan kedua temannya."
"Kalau begitu dalam toilet saja,"
"Hmmm"
Untuk saat ini memang hanya di situlah tempat yang cukup Aman.
"Memangnya kenapa?" tanya Lidya setelah mereka berada di dalam toilet.
"Tadi, aku melihat Friska dan kedua temannya keluar dari ruangan OSIS." jawab Nurul dengan tatapan yang serius.
"Buat apa mereka ke sana? Kok aku nggak tahu?"
Nurul pun semakin mendekat, "Tadi, aku sempat mengikuti mereka dan menguping pembicaraan mereka." ucanya dengan tatapan yang sangat serius.
"Lalu?" tanya Lidya penasaran.
"Mereka mencuri sebuah Flashdisk." ucap Nurul setengah berbisik.
"Apa?" Pekik Lidya karena ia tidak menyangka bahwa mereka akan senekat itu.
"Sssttt, jangan keras-keras ntar kita ketahuan."
Lidya mengecilkan volume suaranya. "Itukan hasil kerja kerasku tadi, seenaknya saja mereka mencurinya." Ucapnya sambil mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Kita harus segera mengambilnya kembali." sambungnya dengan tekad yang sudah bulat.
"Jangan sekarang Lidya," cegah Nurul karena ia sudah menduga bahwa Lidya akan menghajar mereka bertiga.
Nurul tidak ingin hal itu terjadi, ia berusaha menasehati Lidya. Bagaimanapun esok adalah hari terakhir mereka menjadi PO.
Ia tidak ingin di saat-saat terakhir seperti ini harus meninggalkan citra buruk untuk nama sahabatnya itu.
Terlepas dari apa pun alasannya, sebuah perkelahian bukanlah cara untuk menyelesaikan masalah. Andai kata hal itu terjadi, yang ada hanyalah masalah yang akan terus bertambah.
Kemudian Nurul membisikkan sebuah kalimat di telinga Lidya yang sedang di penuhi amarah tersebut. Adapun kalimat tersebut seperti di bawah ini 👇👇👇
"Tapi Nurul," protes Lidya karena ia sudah tak tahan lagi dengan kelakuan mereka.
"Jika ingin balas dendam maka caranya adalah seperti di bawah ini 👇👇👇"
Akhirnya Lidya menyunggingkan senyumnya karena merasa puas dengan saran dari sahabatnya itu.
"Kamu memang sahabatku yang terbaik." ucap Lidya dan memeluk Nurul. Ia merasa bahwa amarahnua langsung padam setelah mendengar ucapan dari sahabatnya itu.
Tak lama kemudian mereka menuju ke kelas untuk mengambil tas Lidya dan bergegas untuk pulang sebelum pak Raka mencari Lidya yang sedari tadi belum kembali ke ruangan OSIS.
Setelah mereka sampai di dalam kelas, mereka berpura-pura tidak tahu apa-apa dan bersikap biasa-biasa saja ketika bertemu dengan Friska dan kedua sahabatnya yang baru saja ingin keluar dari kelas.
Dan ternyata Friskalah yang merasa panik dengan kehadiran mereka, ia takut Nurul dan Lidya mencurigai mereka karena pulang belakangan.
Namun Friska segera menepis hal itu takutnya ia menjadi gugup sendiri dan malah akan menimbulkan kecurigaan dari lawannya.
Mereka bertiga pun berlalu meninggalkan Nurul dan Lidya yang baru saja masuk.
.
.
.
__ADS_1