
Sebelum lanjut, Author mau bisikin suatu rahasia tentang Lidya.
TERNYATA... RENDI ADALAH CINTA MONYETNYA LIDYA LHO....
Kalian pasti masih ingat kan..., waktu mereka dimarahin Bunda Anita gara-gara ngebahas tentang cowok waktu mereka duduk di taman bunga.
Dan Lidya dituduh ngawur oleh Ani.
Author yakin, kalian pasti masih ingat. Orang yang dimaksud Lidya waktu itu adalah Rendi.
Untung saja waktu itu mereka tidak meneruskan pembicaraan tentang Rendi, kalau keterusan, Author bingung jalan ceritanya akan jadi seperti apa. He he he..
Bercanda Readers. PEACE✌
Hmm... Ngomong soal cinta monyet, perasaan di hati Lidya tentang sosok Rendi hilang begitu saja ketika ia mengetahui bahwa Rendi menyukai sahabatnya sendiri yaitu Nurul. Ditambah dengan sahabatnya yang satunya lagi menyukai Rendi.
Ia tidak punya alasan yang kuat untuk terus menyukai sosok Rendi. Tanpa ia sadari, perasaan itu hilang dengan sendirinya.
Dan..
Suatu saat nanti akan tergantikan dengan sosok Pangeran yang sesungguhnya.
Ok. Rahasia-rahasiaannya hanya sampai disini dulu ya....
*****
NEXT
Saat ini mereka sedang duduk di warung mas Udin sambil menunggu pesanan bakso mereka datang.
Malam ini mereka ditraktir makan bakso oleh Rendi sebagai permintaan maaf kepada Ani, sekalian ingin mengetahui alasan Nurul pergi begitu saja tanpa berpamitan dengan mereka.
Posisi duduk mereka saat ini 3 vs 2.
Dengan sorot mata yang tajam Lidya mengulangi pertanyaannya ketika pulang dari Mesjid tadi. "Kenapa Nurul?"
Nurul yang awalnya mengira bahwa Lidya sudah melupakan tentang kejadian tadi sore sedikit kaget ketika mendengar pertanyaan itu lagi.
__ADS_1
"Ekh itu... Sebenarnya..."
"Akh... Sebenarnya aku teringat saja dengan Kak Ari, dan aku nggak mau merusak keromantisan kalian." teriak Nurul di dalam hatinya.
"Hanya itu saja kok. Nggak ada maksud lain, tapi bagaimana caraku mengatakannya... Apalagi ada si Killer dan kak Rendi di sini. bagaimana reaksi mereka nanti? Gumamnya di dalam hati lagi.
"Nurul, kamu baik-baik saja kan...." tanya Lidya karena sedikit khawatir ketika melihat respon Nurul yang hanya diam saja dari tadi. Sambil menggoyang-goyangkan bahunya pelan.
"Ekh... Nggak apa-apa. Aku hanya merasa kurang enak badan saja tadi, jadi langsung pulang deh." ucap Nurul mencari alasan sambil tersenyum paksa.
"Oh... Terus sekarang bagaimana perasaanmu?" tanya Rendi tanpa memikirkan efek dari pertanyaannya tersebut.
Raka hanya mengernyitkan keningnya ketika mendengar pertanyaan Rendi, karena ia merasa aneh dengan sikap keponakannya itu yang hanya memikirkan keadaan Nurul tanpa merasa jika ada seseorang yang lebih berhak atas pertanyaannya tersebut. Ya, orang itu adalah Ani.
"Sudah baikan kok." jawab Nurul sambil tersenyum paksa.
Melihat hal itu, Lidya tidak dapat menahan amarahnya lagi dan meluapkan segala kata-kata mutiara yang sudah dirangkai dengan indah di dalam benaknya.
"Yang seharusnya kamu tanyain itu Ani, bukan Nurul."
"Bagaimana pun, kamu sudah menjatuhkan buku di kepalanya.."
Protes Lidya sambil mengepalkan kedua tangannya. Kalau saja mereka hanya berdua di tempat ini, mungkin saja di wajah tampan Rendi sudah terpahat sebuah tanda merah merona dari hasil ukiran tinju Lidya.
Raka hanya menahan tawanya melihat ekspresi Lidya yang tengah menahan amarah.
Sementara Ani hanya diam dan tertunduk menahan rasa sakitnya lagi, tepat di relung hatinya yang paling dalam. Ya, Dia sangat cemburu dan kecewa dengan sikap Rendi.
"Ternyata Nurul masih tetap menjadi prioritasnya sampai saat ini." bisik Ani di dalam hatinya.
Nurul tidak tinggal diam, "Benarkah..." tanyanya pura-pura terkejut, dan menggenggam tangan Lidya hangat untuk mencegah sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Hmmm." jawab Lidya singkat dan mulai membuka telapak tangannya perlahan.
Raka hanya tersenyum samar dan bergumam. "Akting Nurul bagus juga, hmmm... Sepertinya amarahnya sudah mulai mereda." sambungnya ketika melihat Lidya tidak mengepalkan tangannya lagi.
"Lalu bagaimana keadaanmu Ani?" tanya Nurul mengalihkan pembicaraan. "Apa masih sakit?" sambungnya
__ADS_1
"Sudah baikan kok, tidak terlalu sakit lagi." jawab Ani sambil menyembunyikan kecemburuan yang sudah meradang di hatinya..
"Tapi hatiku sangat sakit Nurul..." rintihnya di dalam hati.
Nurul dapat merasakan hal itu, tapi ia tidak bisa menghibur Ani untuk saat ini, karena mereka berada di antara Rendi dan Raka.
"Syukurlah..."
Tak lama kemudian pesanan mereka datang.
Kini... Mereka dapat menikmati makanan tersebut dengan tenang. Walau pun masih ada seseorang yang sedang berusaha bersikap biasa-biasa saja.
Ya, biasa-biasa saja karena ia sudah terbiasa dengan rasa sakit ini.
Tiit
Tiit
Tititit tiiit
Suara klakson mobil dari seberang.
"Papa?" gumam Lidya sambil menengok ke sumber suara tersebut.
Setelah melihat keberadaan Lidya di tempat itu, akhirnya Ayah Lidya turun dari mobilnya.
.
.
.
.
.
Dukung aku terus ya...
__ADS_1
Happy reading...