
Sementara itu di sisi yang lainnya, Chika harus menahan kesal sendirian. Ia tidak ingin kalah dari Nurul yang menurutnya hanyalah seorang 'Gadis Kampung' dan tak pantas untuk Ari.
Ia merasa bahwa dirinya jauh lebih baik dan sangat pantas jika dibandingkan dengan Nurul, dari segi apa pun dirinyalah yang terbaik.
Tak ingin kalah dari Nurul, ia berencana untuk mendesak ibunya agar mempercepat proses pertunangan mereka.
Malam harinya ia dan kedua orangtuanya mengundang mami Elfi (ibunya Ari) untuk makan bersama di restoran Xxxx.
Suasana hangat di dalam restoran, dan berbagai makanan dengan beraneka menu pun disiapkan di hadapan mereka tak lama setelah mami Elfi sampai.
Tak lupa berbagai perbincangan basi-basi pun menemani kegiatan makan mereka. Tak lama kemudian ibunya Chika mengutarakan keinginan mereka.
Mami Elfi sedikit kaget dengan permintaan mereka, soalnya dari pihak keluarga Ari masih belum membahas masalah kemajuan acara pertunangan. Bahkan sampai saat ini Ari masih belum bisa menerima Chika.
Namun kedua orangtua Chika mendesak mami Elfi dengan alasan bahwa Chika menderita penyakit yang cukup serius dan hanya Arilah satu-satunya Pria yang ia cintai.
Dengan berat hati mami Elfi mengiyakan rencana tersebut, dan bermaksud untuk membujuk sang suami agar menuruti permintaan dari kedua orangtua Chika.
Sementara itu di sisi yang lainnya, tepatnya di sebuah taman, tampaklah dua orang Gadis yang sedang duduk menunggu kedatangan seseorang sambil bercanda.
"Cie... yang mau ketemuan sama si Dia, kayaknya lagi grogi." goda Lidya sambil menyenggol bahu Nurul.
"Akh, kamu emang suka bangat godain orang."
"Hi-hi-hi wajahmu langsung memerah Nurul."
Nurul menolehkan wajah kesalnya ke samping. "Isssh, sudah akh. Kalau kak Ari lihatin wajahku kayak gini mau taru di mana coba?!"
"Di saku gamis saja, wk-wk-wk" tambah Lidya sambil tertawa.
Puk
__ADS_1
Nurul menepuk paha Lidya cukup keras. Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang di luar dugaan mereka.
"Ekhem-ekhem"
"Pak Raka !!?" Pekik keduanya setelah menoleh ke sumber suara, kemudian saling mencubit pipi satu sama lain.
"Bukan mimpi"
Dan dibalas anggukan oleh Nurul.
Raka hanya tersenyum samar melihat tingkah mereka, sementara Ari adalah satu-satunya orang yang sedang kebingungan. Ia mengedarkan pandangannya kepada mereka sambil mengernyitkan keningnya, lalu berucap, "Apakah kalian sudah saling kenal?"
Raka menatap Lidya dengan sorot mata yang penuh arti. "Ya, sangat kenal."
Begitupun sebaliknya, Lidya dan Raka sama-sama saling pandang seakan-akan ada sesuatu yang tertahan di dalam benak mereka. Lebih tepatnya rindu yang tak terucap.
"Syukurlah kalau begitu, jadi aku tidak perlu megenalkan kalian."
Nurul dan Ari tetap di tempat tersebut, sementara Lidya dan Raka memilih untuk sedikit menjauh dari mereka.
Dalam perjalanan, keduanya masih kaku untuk bertegur sapa. Tak ada perbincangan sama sekali mereka sama-sama bingung ingin mengatakan apa dan harus dimulai darimana.
"Sebaiknya kita duduk di sini saja," ucap Raka sambil menunjuk sebuah beton yang cukup panjang.
Masih dengan menunduk, Lidya langsung menduduki tempat duduk tersebut.
Hening dalam beberapa menit ke depan.
"Bagaimana kabarmu?" ucap mereka serentak sambil menatap, kemudian tertawa bersama dengan kelakuan mereka sendiri.
"Maaf," ucap mereka bersamaan lagi. Namun kali ini mereka tidak tertawa, wajah keduanya tampak merasa bersalah dengan kejadian beberapa minggu yang lalu.
__ADS_1
"Sebagai permintaan maafku, aku akan mentraktirmu makan apa saja yang kamu sukai."
Mata Lidya langsung berbinar mendengar kata 'traktir'. "Waah... Benarkah?!"
Raka mengulas senyumnya dan mengangguk antusias melihat ekspresi Lidya yang penuh semangat seperti biasanya, dan itu artinya semunya sudah baik-baik saja.
Lidya pun langsung berdiri dan menarik tangan Raka, "Ayo!" ucapnya dengan penuh semangat sambil tersenyum manis.
Seketika, Raka terpesona dengan dengan kecantikan Lidya yang hanya disinari cahaya lampu dari kejauhan. Ia pun berdiri dan mengikuti ke manapun Lidya akan membawanya, mereka berlari kecil sambil bergandengan tangan mesra.
Sebenarnya, Lidya tidak sadar dengan apa yang ia lakukan saat itu. Karena ia terlalu bahagia bisa bertemu lagi dengan Raka.
Sementara Raka pun sama bahagianya dengan Lidya, mereka seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara.
Setelah sampai di sebuah tempat yang menjual sate, Lidya pun menghentikan langkahnya dan memesan 20 tusuk sate bakar.
"Iya Dek, Mas." ucap si tukang sate.
"Kita duduk di sebelah sana saja Kak," ucap Lidya kemudian menarik lengan kanannya untuk menunjuk tempat duduk yang ia maksudkan, tapi... Ia justru menarik tangan Raka yang sedari tadi belum ia lepaskan.
Deg!
"Ekh, maaf Pak, aku tidak sengaja." ucapnya sambil melepaskan gengaman tangan Raka.
Raka tersenyum geli mendengar ucapan Lidya, kemudian menggunakan kesempatan tersebut untuk menggodanya.
Raka memiringkan tubuhnya ke samping Lidya dan berbisik dengan nada yang menggoda, "Menarik dan menggenggam tangan seseorang dalam waktu yang lama, apa bisa dikatakan tidak sengaja?" ucapnya dengan menekankan kata 'tidak sengaja'.
.
.
__ADS_1
.