
Akh... Membuat Lidya kehilangan arah dan tujuannya dalam sekejap. Bola matanya membulat sempurna, rona wajahnya sudah sangat memerah. Apalagi detak jantungnya....
Hmmm, sangat berisik.
"Sssttt, jangan diperpanjang lagi. Itu adalah keputusan yang terbaik." ucap Raka dengan mendekatkan wajahnya kepada Lidya, sehingga membuat Lidya seakan-akan sudah tersihir.
Tanpa sadar Lidya menganggukkan kepalanya, di dalam fikiran ia ingin protes tapi tubuhnya merespon kebalikannya.
Sementara itu Nurul dan Ani gemes sendiri dengan sikap Lidya yang langsung ditundukkan Raka dalam sekejap.
"Hmmm, bagus." ucap Raka sambil menepuk pelan bahu Lidya.
"Kalau begitu aku permisi dulu. Jangan lupa tugas kalian!" sambung Raka kemudian meninggalkan Lidya yang masih terbengong sendirian.
Setelah kepergian Raka, Nurul dan Ani mendekati Lidya.
"Apa yang terjadi Lidya?"
"Ekh... Itu_" jawab lidya, "Sepertinya aku hilang kendali lagi...." sambungnya di dalam hati.
"Lidya!"
"Akh, sudahlah... Sebaiknya kita menyelesaikan pekerjaan terakhir kita ini." ucapnya mengalihkan perhatian.
Nurul dan Ani hanya mengernyitkan kening mereka bersamaan dan memilih untuk menyudahi semuanya. Toh yang bersangkutan juga tidak peduli.
"Sebenarnya apa yang terjadi Nurul?" tanya Ani karena ia merasa ada sesuatu yang dilewatkannya kali ini.
"Hanya masalah kecil saja kok."
"Owh..."
"Ekh.. Nurul, jilbab pemberian Rendi..?"
"Untuk kamu saja Ani, lagi pula aku tidak terlalu menyukai warna pink."
"Tapi ini kan..."
"Sudahlah Ani, jilbab itu cocok untuk kamu kok."
__ADS_1
"Iya, tapi kan..."
"Anggap saja itu kenang-kenangan dari Rendi." bisik Nurul
Ani tak punya pilihan lain, jujur ia sangat cemburu dengan usaha Rendi untuk terus mendekati Nurul. Tapi... Bukan berarti ia harus membenci sahabatnya sendiri kan...
Lagi pula ia sedikit bahagia jika teringat dengan perkataan si pemilik kursi. Membuatnya dapat menepis rasa sakit karena cemburu.
Sementara itu sisi yang lainnya, Rendi merasa usahanya menjadi sia-sia karena tujuannya tidak tercapai dengan sempurna.
Padahal ia sudah mengorbankan banyak hal untuk memberikan kado itu kepada Nurul. Seharusnya hari ini menjadi moment yang sangat bahagia untuknya karena hari ini ia akan menjabat sebagai ketua OSIS di sekolahnya, tapi ia menunda hal itu dengan alasan berpura-pura sakit.
"Sungguh sial nasibku hari ini." Gumamnya sambil memandangi pematang sawah yang padinya sudah mulai berisi.
...*****...
Malam harinya, Nurul menulis sepucuk surat untuk Ani. Adapun surat tersebut isinya seperti di bawah ini 👇👇👇
Untukmu yang sedang patah hati, cobalah tersenyum lagi...
Cobalah tersenyum lagi karena yang sakit itu dadamu, bukan bibirmu.
Teruslah melangkah kembali karena yang patah itu hatimu, bukan kakimu.
Patah hati itu untuk disembuhkan, bukan digalaukan.
Rasa sakit itu untuk dipulihkan, bukan dipikirkan.
Waktumu di dunia ini singkat, jangan kau persingkat lagi dengan drama-drama yang tidak mendewasakan.
Beranjaklah, buktikan bahwa kamu tidak akan lagi tunduk pada perasaan. Bahwa kamu tidak akan lagi menjadi budak cinta. Kamu harus merdeka dari penjajahan masa lalu.
Untukmu yang sedang patah hati, gapapa menangis...
*Gapapa jika dengan menangis bisa membuat dadamu lumayan lega. Tapi jangan lama-lama ya...
Jangan sampai air matamu habis hanya untuk sedih-sedihan seperti itu. Sisakanlah sebagian air matamu untuk hari nanti*.
Untuk kapan?
__ADS_1
Pada hari di saat kamu dilamar oleh seseorang yang cinta dan ketulusannya, tak pernah kau temui di sebelum-sebelumnya. Seseorang yang bukan hanya mencintai, tapi siap menikahimu agar bisa menyayangimu sepenuh hati.
Pada hari itu, menangislah disertai senyuman haru atas kebaikan Tuhan yang telah memisahkanmu di waktu yang salah untuk kemudian disatukan di waktu yang tepat. Berbahagialah dengan penuh syukur. Bersyukurlah dengan penuh bahagia.
Untukmu yang sedang patah hati, silakan jika ingin bercerita...
Silakan bercerita jika itu bisa sedikit meredakan sesakmu di dalam dada. Tapi jika boleh memberi saran, jangan dulu bercerita pada orang lain bahkan ibumu atau sahabat terbaikmu sekali pun...
Mengadulah kepada Rabbmu terlebih dahulu, sebab orang-orang hanya bisa mengusap basah di pipimu. Tetapi mereka tidak bisa menyembuhkan sakit di hatimu.
Maka setelah shalat, jangan dulu melucuti mukenamu. Angkatlah kedua tanganmu sejenak, pejamkan matamu beberapa saat, lalu mohon ampunlah kepada Allah karena barangkali, luka itu tidak lain disebabkan oleh kamu sendiri yang sudah lancang berharap secara berlebihan kepada selain-Nya.
Kemudian mohonlah pertolongan agar rasa yang ingin kau hilangkan segera dicabut-Nya. Agar sakit yang ingin kau obati secepatnya disembuhkan oleh Sang Penyembuh yang Maha Sempurna penyembuhannya.
Untukmu yang patah hati, sebenarnya tidak ada nasihat apa pun di sini, hanya barangkali ada sebuah pertanyaan yang mesti kau jawab sekarang juga...
Atas kehilangan yang begitu menyesakkan, atas perpisahan yang teramat menikam dada, atau pun atas patah hati yang sakitnya tak terkatakan, sudahkah kamu meyakini bahwa inilah cara Allah untuk mendidikmu menjadi lebih kuat dari sebelumnya kamu lemah, lebih dewasa dari asalnya kekanakan, juga lebih berhati-hati dari biasanya mudah sekali jatuh hati?
Ya..Dari kisahmu yang ternyata berakhir buruk, sudahkah kamu meyakini bahwa inilah cerita yang terbaik dari-Nya?..
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian Readers...
Like
Vote
Koment
Atau hadiahnya ya...
Jika kalian suka dengan ceritaku, jangan lupa bagikan link karyaku ke media sosial kalian ya...
Biar kita bisa seru-seruan bareng.
__ADS_1
Terima kasih untuk semua dukungan kalian Readers...
Happy reading....