
Hmmm, sambil menunggu Raka yang sedang menata hatinya, sebaiknya kita beralih ke suatu tempat di mana ada sepasang Pria dan Wanita yang sedang dalam keadaan sangat canggung.
Ya, mereka adalah Rendi dan Ani.
Setelah kepergian Nurul dan Lidya, ingin rasanya Ani mengekori mereka dari belakang. Tapi... Ia takut jika hal itu akan berbuah sebuah teguran keras dari si Killer.
Dengan sangat terpaksa ia menahan langkahnya untuk tetap berada di tempat pijakannya semula.
Rendi menjadi serba salah dengan keadaan ini. Namun tidak lama kemudian ia teringat dengan kejadian tadi siang.
Akhirnya ia membuka suatu obrolan ringan untuk mengusir rasa canggung yang sedang menyerang di sekitar mereka.
"Bagaimana keadaanmu Ani?" Tanyanya sekedar basa basi.
Ani sedikit terkejut dengan pertanyaan Rendi, karena ini pertama kalinya Rendi menanyakan kabarnya secara khusus.
Andai saja pertanyaan ini terlontar beberapa waktu yang lalu, mungkin saja saat ini Ani sedang menjelajahi tumpukan awan yang berada di langit ke tujuh.
Namun sayangnya pertanyaan ini datang ketika hatinya sudah menjadi es batu yang sudah kadaluwarsa karena terlalu banyak luka yang sudah menghujam di lubuk hatinya.
"Keadaanku?" Gumamnya sambil mengernyitkan dahi dan tersenyum kecut ketika mendengar pertanyaan dari Rendi. "Aku baik-baik saja." Jawabnya datar.
Ya, sekilas memang terlihat baik-baik saja. Namun di balik semua itu ia menyembunyikan kesedihan yang terlalu dalam sampai membuatnya lupa dengan rasanya diperhatikan oleh orang yang kini berada di hadapannya.
Rendi merasa sedikit aneh dengan perubahan sikap Ani kepadanya. Tapi ia segera menepisnya dan bergumam. "Mungkin hanya perasaanku saja."
Kemudian ia memberanikan diri untuk melanjutkan sebuah pertanyaan lagi.
"Apakah aku boleh menanyakan sesuatu?"
"Hmmm". jawabnya dingin tanpa menoleh sedikit pun kepada Rendi.
Kini Rendi merasa seperti berada di dalam suatu ruangan yang disebut Pabrik es batu.
"Ha ha ha... Rasain kamu Ren." Ucap Author dengan wajah yang kejam sambil berkacak pinggang.
Rendi yang mendapat perlakuan yang sangat dingin dari Ani, merasa sangat sedih. Ia merasa seperti sedang dihukum selayaknya orang yang sudah melakukan kesalahan yang fatal.
Jauh di lubuk hatinya ia bergumam,
__ADS_1
"Kamu sudah berubah Ani"
"Ini bukan Ani yang ku kenal dulu"
"Ani yang selalu ceria dan penuh canda"
"Ani yang selalu mengukir senyum manisnya"
"Ani yang sangat narsis dalam berbicara"
"Ke mana semua itu Ani?"
"Kenapa menjadi sekaku ini?"
"Mungkinkah ini adalah balasanmu karena telah mengabaikanmu selama ini?"
"Mungkinkah ini adalah hukumanku karena telah menyia-nyiakan perasaanmu?"
"Kenapa jadi seperti ini?"
"Apakah dengan kata maaf mampu mengembalikan semua keceriaan dan senyumanmu yang hilang itu?"
"Ya, Dia sudah bukan Ani yang dulu ku kenal."
"Mungkin karena luka yang sudah terlalu dalam hingga membuat hatinya menjadi dingin seperti ini."
"Dan...."
"Semua itu karena ulahku sendiri."
"Aku memang pantas mendapatkannya Ani."
Ucapnya di dalam hati ketika menyadari kesalahan yang telah dilakukannya selama ini. Ia sadar bahwa selama ini ia selalu mengabaikan perasaan Ani sejak ia mengetahui jika Ani menyukainya sejak lama. Tapi bukan berarti ia tidak menghargai perasaan Ani terhadapnya, hanya saja ia tidak ingin memberikan sebuah harapan palsu untuk Ani. Ia hanya merasa nyaman saja jika bertemu dan bercanda dengannya.
Dan terpaksa ia menyudahi perbincangan di antara mereka. Ya, itu akan lebih baik dari pada mereka terus berbasa-basi. Walaupun sebenarnya Rendi ingin menanyainya tentang buku Diary. Akhirnya ia memilih untuk diam saja sambil menunggu kedatangan yang lainnya.
5 menit lamanya mereka hanya saling diam sambil mengalihkan pandangan untuk memperhatikan keadaan di sekitar Mesjid. Tak lama kemudian Nurul, Lidya dan Raka.
Dengan perasaan lega Ani segera menghampiri kedua sahabatnya dan mengajak mereka untuk meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Raka merasa aneh dengan perubahan sifat Ani terhadap Rendi. Dan menanyakan hal itu kepadanya.
Namun Rendi lebih memilih untuk mengabaikan pertanyaan dari Raka karena saat ini ia masih tenggelam dengan rasa bersalahnya. Dan meninggalkan Raka begitu saja.
Sementara itu di sisi lain, Nurul dan Lidya merasakan keanehan yang sama juga dengan sikap Ani.
Sampai-sampai membuat mereka merasa bersalah karena sudah mengusulkan untuk melupakan sosok Rendi.
Ya, mereka hanya ingin agar sahabatnya tidak merasakan sakit hati lagi dengan sikap Rendi.
Perjalanan pulang kali ini hanya terasa hampa, mereka kehilangan sosok sahabat yang narsis yang biasanya menjadikan suasana menjadi ramai dengan berbagai celotehan dan tingkah lakunya.
Mereka hanya berharap semoga Ani bisa menjadi sosok yang ceria seperti dulu lagi.
Setelah sampai di rumah Ani langsung mengurung dirinya di dalam kamar untuk menumpahkan segala rasa kecewanya kepada Rendi.
"Kenapa baru sekarang Kak?"
"Kenapa?"
"Mengapa Rasa sakit ini hanya akan semakin dalam jika bertemu denganmu lagi."
"Saat kamu menganggapku tidak ada, aku memang merasa sakit"
"Tapi..."
"Rasa sakit itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan yang kurasakan saat ini Kak."
Gumamnya sambil memeluk guling dengan sangat erat dan menahan isak tangisnya agar tidak di ketahui oleh kedua orang tuanya.
Tak lama kemudian ia memejamkan kedua netranya karena terlalu lelah menahan rasa sakit yang selama ini dipendamnya.
.
.
.
Author juga kangen Ani yang narsis dulu..
__ADS_1
Yuk Readers bangkitin mood boosternya Ani dengan memberikan dukungan dan setangkai bunga mawarnya ya....