
Kriet
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, Raka pun bersikap biasa-biasa saja. Ia tidak membahas masalah Ari dan ibunya tersebut agar tidak menambah beban yang sudah menumpuk di pikiran Ari saat ini.
"Kakak sudah mendengar semuanya kan?" ucap Ari sambil menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan yang kosong.
Raka pun mendekati Ari dan duduk di pinggiran kasur tersebut, "Ya, dan aku turut prihatin Ar,"
Ari menengok sekilas ke arahnya dan tersenyum samar, "Apakah aku egois jika aku terus mempertahankan perasaanku kepada Nurul dan ..." Ia tidak mampu melanjutkan ucapannya karena ia tidak ingin menjadi anak yang durhaka.
Meski sebelumnya ia sempat menjauh untuk menenangkan pikirannya, tapi berbeda halnya dengan saat ini karena ia tidak mungkin melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya.
Ia benar-benar dilema di antara dua pilihan yang sangat berat baginya, di mana ia harus memilih antara orangtuanya atau kekasihnya.
Raka yang bisa merasakan kegalauan hatinya, mencoba untuk menghiburnya dan berucap, "Jika aku bisa memberikan saran, sebaiknya kamu kenalkan Nurul dengan kedua orangtuamu. Siapa tahu setelah mengenalnya mereka akan menyukai Nurul dan menyetujui hubungan kalian."
Ari bangun dari tidurnya dan menatap ke arah Raka, "Sebenarnya tujuanku mengajak mereka ke restoran untuk memperkenalkan Nurul dan Mami, hanya saja kedatangan Chika yang membuat rencanaku gagal," kemudian Ari mengedarkan pandangannya ke depan. "Dan besok mereka akan pulang." sambungnya dengan suara yang lirih.
Mendengar kalimat terakhir dari Ari, Raka menepuk jidatnya pelan. "Astaga, aku lupa memberikan hadiah kenang-kenangan untuk Lidya."
Ari pun memegang pundak Raka, "Tenang saja, masih bisa diberikan besok pagi. Kita berdua akan singgah di hotel B untuk mengucapkan selamat tinggal kepada mereka," ucapnya sambil tersenyum simpul.
"Dan mungkin besok adalah hari pertemuanku dengan Nurul, entah apa yang akan terjadi di hari kemudian." gumamnya di dalam hati, kemudian merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur dan mencoba untuk memeluk sebuah foto Nurul sambil memejamkan matanya perlahan dan berharap semoga esok hari akan lebih baik daripada hari ini.
Hal itu adalah ritualnya setiap malam, ia baru akan bisa memasuki alam mimpinya setelah memeluk foto tersebut.
Lain halnya dengan Ari, Raka memilih untuk menuliskan kata-kata perpisahan yang ia tuangkan ke dalam sepucuk kertas.
__ADS_1
Ia pun mulai merangkaikan kata hatinya di tengah kebisuan malam yang semakin larut dan sepi.
Keesokkan harinya, Nurul dan seluruh rombongannya bersiap-siap untuk berangkat, karena sebentar lagi jadwal keberangkatan bus mereka.
Seluruh koper dan ransel serta berbagai perlengkapan lainnya sudah di kumpulkan di ruang bawah dan sebelum keberangkatan, mereka melunasi tagihan kamar selama dua malam.
Rasanya sedih meninggalkan kenangan singkat dan indah di kota tersebut, namun mereka juga merindukan keluarga, sahabat dan sanak saudara yang ada di kampung.
"Ayo, ayo bawa tasnya keluar! Kita akan cari taksi dulu untuk ke terminal," seru seorang guru.
Mereka pun mengambil ransel dan koper masing-masing, kemudian mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dan melangkah dengan perlahan meninggalkan ruangan tersebut.
Bahkan, setelah sampai di luar gedung pun tak lupa mereka merekam setiap sudut yang berada di halaman gedung. Serentak, mereka menghembuskan nafasnya dengan kasar melepaskan segala perasaan yang terasa berat itu.
"Heeehhh"
Di tengah perjalanan, ada sebuah mobil yang mendekati mereka. Wajah yang penuh kebingungan pun terlihat dari ketiga teman mereka, sementara Nurul dan Lidya sangat terkejut sambil ternganga karena mereka sangat mengenali mobil dan si pemilik mobil tersebut.
Dua pria tampan pun keluar dari mobil tersebut dan mendekati keduanya, hal itu sang guru melotot tidak percaya. Terlebih kedua sosok tersebut terlihat tidak asing bagi mereka. Mereka pun mendekati kedua pria tampan itu.
Sementara itu Nurul dan Lidya yang sedari tadi diam mematung dan terlihat kikuk, hanya berpura-pura untuk diam saja karena mereka malu jika guru mereka mengetahui kedekatan dari keduanya.
"Raka, Ari." ucap guru tersebut setelah memastikan dari jarak yang cukup dekat.
Keduanya pun menengok ke sumber suara, salah satu Guru yang pernah mengidolakan Raka berjalan mendekati Raka dan menepuk pundaknya.
Puk
__ADS_1
Raka yang kaget dengan reaksi guru tersebut, meringis kesakitan dan tersenyum kikuk.
Sementara Ari, Nurul dan yang lainnya ikut meringis turut merasakan betapa sakitnya tepukan itu karena suaranya yang cukup garing.
"Wah ... ternyata benaran kamu Ka, aku pikir aku hanya bermimpi." ucap guru tersebut.
"I ... Iya Bu, maaf saya ingin menemui Lidya."
Lidya pun hanya memperlihatkan ekspresi ketidak nyamanan, dan melangkah terburu-buru menjauh dari kerumunan orang-orang tersebut. Kemudian Raka mengikutinya dari belakang.
"Mengapa kalian datang ke sini?"
"Maaf jika kami tidak mengatakan hal ini semalam,"
"Terus ada apa lagi?"
"Aku hanya ingin memberikan ini," Raka mengeluarkan sebuah kado kecil dari sakunya.
Lidya langsung mengambil dan hendak membuka kado tersebut, "Ekh, jangan dulu dibuka di sini. Sebaiknya setelah kamu sampai di Desa saja." cegah Raka sambil menggenggam jari jemari Lidya.
Seketika, Lidya terdiam mematung menikmati irama jantungnya. "Hmmm, baiklah. Kalau begitu kalian sudah boleh pergi!" usir Lidya dengan nada yang cetus. Memang begitu sikapnya, meski terlihat cuek, tapi wajahnya mengatakan bahwa ia sangat bahagia, hal itu terlukis dengan jelas melalui rona wajah dan sinar matanya.
.
.
.
__ADS_1