Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Aku suka sama kamu Nurul


__ADS_3

*Di sisi yang lainnya


Di bawah pohon yang rindang tampaklah 2 sahabat yang sedang duduk.


"Ani masih marah sama kamu? tanya Lidya


"Iya, aku bingung harus gimana lagi Lid, kayaknya Ani sudah berlebihan deh."


"Bukan berlebihan Nurul, tapi... jatuh cinta..."


"Maksud kamu?"


"Ya.. seperti yang kamu pikirkan"


"Walaupun begitu tapi nggak usah berlebihan kan..."


"Iya juga sih"


"Kamu tahu dari mana Lid ?"


"Dari buku Diary Ani. Kamu ingat nggak, waktu kita bikinin kue buat kak Ari, nah... waktu itu aku nggak sengaja nemuin buku harian Ani. Awalnya aku nggak mau membacanya, tapi rasa penasaranku terus memaksaku untuk melakukan hal itu, dan..."


"Dan..." tanya Nurul penasaran


"Sudah ah... Lebih baik kita habisin makanan ini dulu habis ini kamu mau lomba kan..."


"Oh iya hampir lupa."


Mereka pun makan dengan lahap tanpa berbicara.


Tak lama kemudian Rendi dan Ani datang.


"Ehem... ehem"


"Ekh.. kak Rendi" sapa Lidya


"Hai An, duduk di sebelahku aja" ucap Nurul sambil tersenyum dengan tulus


"Ummm.. Iya" kemudian mendekati Nurul.


"Nah.. kalau gitu kan enak ngelihatnya" ucap Rendi.


Nurul pun hanya tersenyum. "Apa kak Rendi berhasil membujuk Ani" batinnya


"Kalau gitu aku pergi dulu ya... Assalamu'alaikum..."


"Waalaikumussalam.." jawab Ani


"Sebentar Kak, kita jalan bersama saja. boleh nggak ???" tanya Nurul


"Boleh dong"


"Lid, An, aku tinggal dulu ya.. soalnya lomba yang aku ikuti segera dimulai. maaf ya..." ucap Nurul sebelum meninggalkan kedua sahabatnya.


Mereka pun berjalan meninggalkan Lidya dan Ani.


"Bilang aja kalau mau dekat-dekat sama sama kak Rendi" gumam Ani


"Kamu nggak boleh gitu An, cemburu itu wajar tapi jangan keterlaluan" ucap Lidya dengan nada yang penuh penekanan.


"Emangnya siapa yang cemburu?"


"Udah ah.. males berantem sama kamu." ucap Lidya kemudian meninggalkan Ani sendirian.


"Ekh.. Lid, jangan tinggalin aku dong" sambil mengejar Lidya. "Kamu mau ke mana?" tanya Ani sambil berlari kecil.


"Kalau mau ikut, jangan marah-marah lagi, ok!"


"Iya, iya."


"Kalau gitu kita istirahat aja dulu di rumah Tante Ria, rumahnya nggak jauh dari sini"


"Tante Ria siapa???"


"Tante Ria itu adik dari Ibuku".


"Oh..."


Sementara itu di sisi yang lain


"Makasih ya kak, tadi sudah bujukin Ani" ucap Nurul


"Jadi tadi Ani bohongin aku" batin Rendi. "Bukannya tadi kalian sudah baikan" tanya Rendi memastikan.


"Ya... gitu deh, tadi Aninya nggak mau maafin aku, untungnya ada kak Rendi yang bisa bujukin Ani."


"He he he... Siapa dulu dong" ucap Rendi dengan penuh rasa percaya diri.


Nurul pun hanya tersenyum melihat kelakuan Rendi "kalau gitu aku masuk dulu ya..."


"Ok, semangat"


"Iya, makasih Kak" tak lupa Nurul pun menyunggingkan senyumnya.


"Sama-sama" ucap Rendi dan membalas senyuman Nurul kepadanya.


Tak lama kemudian lomba pun dimulai.


Sedangkan Rendi pergi bergabung bersama teman-temannya dan beristirahat karena sore hari nanti ia dan teman-temannya harus melakukan upacara penurunan bendera.


Sementara itu di ruang kegiatan Nurul terus berusaha melewati satu persatu kegiatan.


Setelah melalui rangkaian kegiatan, para peserta dipersilahkan untuk istirahat karena pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah akan dilakukan pada malam hari.


Akhirnya Nurul memutuskan untuk ikut beristirahat bersama guru pembimbingnya.


*Sore harinya


Lidya dan Ani sedang bersiap-siap untuk mengikuti lomba lari dan mereka menuju ke lapangan untuk mendaftar.


Setelah melaksanakan lomba mereka beristirahat di bawah pohon beringin.

__ADS_1


Sementara itu Ari dan temannya bersiap-siap untuk upacara penurunan bendera. Setelah selesai, Dia berjalan mendekati Lidya dan Ani.


"Assalamu'alaikum..."


"Waalaikumussalam..."


"Kalian lagi istirahat?"


"Iya, kak Rendi aku boleh minta tolong nggak??"


"Boleh dong kenapa An?"


"Aku boleh nebeng pulang bareng nggak?"


"Iya boleh. sekarang?"


"Terserah Kakak saja."


"Nanti kamu gimana pulangnya Lid?"


"Tenang aja Kak, aku sama Nurul bisa pulang bareng guru-guru kok."


"Oh... gitu, An sebaiknya kita pulangnya sekarang aja takut kemalaman."


"Iya kak." jawab Ani, "Asyik, senangnya bisa naik motor sama kak Rendi." teriak Ani di dalam hatinya


Selama dalam perjalanan pulang, mereka hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Ingin rasanya Ani menanyakan sesuatu untuk memulai percakapan dengan Rendi dan mengakhirinya dengan sebuah candaan seperti biasa. Namun ia merasa sangat canggung dan ia lebih memilih untuk diam saja.


10 menit kemudian mereka sampai di rumah Ani.


"Terima kasih kak" ucap Ani


"Iya, sama-sama." jawab Rendi, "Apa kalian masih marahan?" tanya Rendi dengan hati - hati.


"Ekh... itu.._"


"Nggak baik lho sesama saudara muslim memutuskan silaturahmi lewat dari 3 hari" sela Rendi dan menasihati Ani dengan sopan.


"Iya kak, makasih" ucap Ani dengan enggan karena ia merasa jika ia sudah keterlaluan terhadap sahabatnya sendiri.


"Hmm... Assalamu'alaikum"


"Waalaikumussalam"


****


* Malam hari


Setelah melaksanakan berbagai rangkaian kegiatan, tibalah saatnya mengumumkan para pemenang sekaligus penerimaan hadiah.


Satu persatu siswa-siswi maju ke atas panggung untuk menerima hadiah salah satunya adalah Nurul Karena Dia mendapatkan juara pertama dalam lomba cerdas cermat tingkat kecamatan.


"Selamat ya Nurul" ucap Lidya dan memeluk tubuh Nurul.


"Makasih ya.. karena dukungan dan dorongan dari kalian aku bisa berhasil sampai saat ini."


"Iya... sudah jangan nangis lagi." ucap Nurul sambil menyeka air mata di pipi Ani.


"Wah... wah... kayaknya aku melewatkan sesuatu yang penting lagi nih." ucap Rendi sambil mendekati mereka bertiga.


"Ekh kak Rendi baru datang ya"


"Iya, selamat ya Nurul"


"Makasih Kak"


"Nggak dipeluk nih" canda Rendi


"Peluknya pakai ini aja Kak" ucap Lidya dengan memperlihatkan tinjunya kepada Rendi.


"He he he... Bercanda Lid" ucap Rendi sedikit panik. "Ummm... Gadis-gadis yang baik, boleh pinjam Nurulnya sebentar nggak?" tanya Rendi kemudian.


"Boleh Kak, tapi jangan lama-lama." jawab Lidya.


"Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan sama kamu Nurul." ucap Rendi mendekati Nurul dan dengan tatapan yang serius.


"Tentang apa Kak?" tanya Nurul sedikit bingung.


"Boleh kita duduk di sana sebentar?" usul Rendi sambil menunjuk tempat duduk yang cukup panjang dan berada di sisi panggung.


Nurul pun menyetujui usul Rendi dengan sebuah anggukan pelan, sebenarnya ia merasa enggan jika hanya berbicara berdua saja dengan Rendi namun ia segera menyetujui Rendi karena tempat itu lumayan ramai walau pun tidak seramai tempat mereka berdiri saat ini. Selain itu jaraknya tidak jauh dari tempat Lidya dan Ani.


"Aku permisi dulu ya Lid, An." pamit Nurul sambil melihat ke arah Lidya dan Ani secara bergantian.


Mereka berdua pun berjalan menuju ke tempat duduk yang cukup panjang itu.


"Ada apa ya Kak?" tanya Nurul setelah ia duduk dengan rileks, jarak di antara keduanya sekitar 1 meter.


Rendi pun menghembuskan nafasnya dengan pelan untuk mengurangi rasa gugupnya saat ini. Ya, ini pertama kalinya Rendi mengungkapkan perasaannya kepada seorang gadis.


"Sebenarnya... sudah lama aku mau bilang ini sama kamu Nurul" ucap Rendi menggantung kalimatnya.


"Tentang...?" tanya Nurul dengan sedikit penasaran.


"Tapi kamu jangan marah ya..."


"Iya, memangnya kenapa Kak?" desak Nurul


"Sebenarnya aku .... aku suka sama kamu Nurul" ucap Rendi dengan tulus sambil menunduk, karena ia tak mampu menatap secara langsung ke arah Nurul, ia masih sangat enggan jika harus bertatapan dengan Nurul apalagi jarak mereka saat ini cukup dekat.


"Eh..... Maksud Kakak?" tanya Nurul untuk memastikan karena saat ini ia sangat terkejut dengan pernyataan Rendi.


Rendi pun mengumpulkan semua keberaniannya. "Sebenarnya perasaan ini sudah lama tersimpan di hatiku Nurul, hanya saja aku nggak punya keberanian untuk mengungkapkannya. Semakin lama aku nggak bisa memendam perasaan ini Nurul, aku merasa akan semakin tersiksa jika aku harus memendamnya lagi" sambung Rendi meluapkan semua isi hatinya yang terpendam selama ini.


"A.. aku..." ucap Nurul terbata bata karena semakin terkejut dengan perkataan yang keluar dari mulut Rendi.


"Kamu nggak perlu jawab apa-apa Nurul" ucap Rendi dan memberanikan dirinya untuk menatap ke arah Nurul. "Malam ini aku hanya ingin ngungkapin perasaan yang sudah lama ku pendam, karena aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Untuk selanjutnya terserah kamu mau menjawabnya kapan." sambungnya.


Nurul pun memberanikan diri untuk mengambil keputusan karena ia tidak ingin memberikan harapan yang tidak bisa ia berikan kepada Rendi.

__ADS_1


Sudah cukup Rendi tersiksa dengan memendam perasaannya sampai saat ini. Nurul tidak ingin menambah penyiksaan lagi untuk Rendi jika ia menggantung sebuah harapan di hati Rendi.


"Sebelumnya aku minta maaf Kak tapi aku nggak bisa Kak, maaaaf bangat" ucap Nurul dengan sangat sopan.


"Aku nggak bisa nyakitin perasaan Ani, aku pernah suka sama Kakak tapi mungkin hanya sebatas perasaan kagum dan di hatiku sudah ada seseorang, ya seseorang walau pun aku masih meragukan perasaan ini tapi aku tetap tidak bisa untuk mengabaikannya." batin Nurul.


"Nggak perlu minta maaf Nurul, apa aku boleh tau alasannya???"


"Aku lebih nyaman aja kalau kita temanan seperti biasa Kak, lagi pula ...." ucapan Nurul tiba-tiba terhenti, hampir saja iya keceplosan.


"Kenapa Nurul?"


"Sepertinya ada yang lebih cocok untuk kakak cintai" sambungnya


"Maksud kamu?"


"Suatu saat nanti Kakak akan tau sendiri. Aku pergi dulu Kak, assalamu'alaikum..." pamit Nurul dengan terburu buru dan meninggalkan Rendi.


"Sebentar Nurul..."


"Maaf Kak aku buru-buru" ucap Nurul dan berlari kecil meninggalkan Rendi.


"Mungkin Dia masih kaget saja. Lebih baik aku cari kesempatan yang lain, karena aku merasa seperti ada yang masih disembunyikannya." gumam Rendi di dalam hatinya.


Nurul pun berjalan mendekati ke dua sahabatnya.


"Gimana Nur?" tanya Lidya


"Beres..."


"Memangnya ada apa?" tanya Ani walaupun sebenarnya ia bisa menduga apa yang telah terjadi.


"Nggak ada apa-apa kok, tenang aja." ucap Nurul dan berusaha untuk tersenyum. "Maaf An, aku nggak mau kita marahan lagi." batin Nurul.


"Kalau gitu kita pulang aja deh."


"Bukan pulang Lid, tapi ini saatnya kita makan bakso," ajak Nurul. "Aku yang traktir." sambungnya.


"Oh iya, lets go" teriak Lidya dengan penuh semangat.


"Sepertinya ada sesuatu yang disebunyiin dari aku" batin Ani.


*****


Flashback Rendi


Setelah mengantar Ani, Rendi langsung pulang ke rumahnya dan istirahat di kursi tamu.


"Eh... Anak Bunda sudah pulang... capek ya?" sapa Bunda Hani.


"Iya Bunda.. enaknya dipijitin nih..."


"Maunya..."


"He he he... Bunda cantik deh" goda Rendi.


"Gini nih kalau ada maunya..."


"Bunda tau aja...."


"Oh iya, tadi Bunda liat kamu pulang bareng Ani."


"Iya, emangnya kenapa Bunda?"


"Kalian pacaran ya?"


"Ekh... Nggak Bunda."


"Jangan bohongin Bunda Ren,"


"Nggak Bunda, Rendi itu sukanya sama seseorang."


"Siapa Ren???"


"Ada deh..."


"Memangnya kamu sudah bilang sama Dia tentang perasaan kamu?"


"Belum sih, soalnya Rendi takut ditolak Bunda."


"Ren , Ren. Nggak baik mendam perasaan gitu, entar nyesal lho."


"Tapi Bunda..."


"Kalau diambil orang gimana coba?"


"Iya juga ya... makasih Bunda" ucap Rendi kemudian mencium kedua pipi Bundanya.


"Aku siap dengan segala resikonya Nurul" batin Rendi


Flashback off


.


.


.


Hay Readers


Berikan dukungan kalian dengan cara


Like


Koment


Hadiah atau


Vote yach...


Karena dukunganmu sangat berarti untukku.

__ADS_1


Happy reading Readers...


__ADS_2