Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Rendi vs Raka


__ADS_3

"Rendi?!" gumam Raka setelah melihat kedatangannya.


Dengan langkah ringan dan santai ia mendekati Raka, kemudian duduk di kursi yang berada di hadapan Raka.


"Sejak kapan kamu bersembunyi di situ Ren?" tanya Raka memulai pembicaraan


"He he he... Sudah lama Kak." jawab Rendi sambil terkekeh.


"Apakah ini salah satu hoby barumu?" sindir Raka


"Ekh... Nggak kok. Baru kali ini aja Kak." jawab Rendi dengan jujur sambil melambai-lambaikan kedua tangan di depan wajahnya.


"Untuk apa kamu mengintip mereka?" selidik Raka


"Hmmm, ada deh." ucap Rendi dengan santai sambil membuka tas sekolah dan menaruhnya di atas meja bundar tersebut. "Oh iya Kak, kenapa mereka datang ke sini?" tanya Rendi penasaran, ia berfikiran siapa tahu saja hal itu ada hubungan dengannya, apalagi mereka hanya datang berdua.


"Yang pastinya bukan urusan kamu." jawab Raka dengan penuh penekanan.


"Akh... Kakak curang!" celoteh Rendi karena tidak puas dengan jawaban Raka.


"Curang bagaimana?" tanyanya sambil mengerutkan kening.


"Iya curang, Kakak sudah mulai rahasia-rahasiaan."


Raka hanya tersenyum samar mendengar celotehan Rendi. "Bukankah kamu yang main rahasia-rahasiaan duluan, hmmm?"


"Ekh iya ya..." gumam Rendi di dalam hatinya. Ia tidak dapat mengelak lagi. "Hmmm, ngomongin rahasia, aku bakalan kasih tau Bunda kalau Kakak suka sama Lidya. Hi hi hi..." goda Rendi sambil tertawa cekikikan.


Entah mengapa hari itu ia ingin sekali menggoda Raka. Apalagi ketika mengingat Raka yang bersikap cuek di hadapan Lidya dan Nurul. Tapi dibalik sikap cueknya itu ia bisa melihat dengan jelas bahwa Raka sesekali mencuri lihat ke arah Lidya dan berusaha menahan rasa gregetnya.


Bagaimana pun ia bisa melihat semua hal itu dengan jelas karena ia juga pernah berada di posisi Raka.


Flashback on


Selama percakapan antara Nurul dan Raka berlangsung, Lidya tidak mampu bersuara lagi, masih terekam dengan jelas wajah tampan Raka dengan ekspresi kebingungan sambil mengangkat alis sebelah kanannya itu. Benar-benar sangat tampan dan mempesona untuk Lidya.


Sesekali Lidya mencuri lihat ke arah Raka. Begitu pun sebaliknya, Raka berusaha melirik ke arah Lidya ketika berbicara dengan Nurul. Walau pun Raka berusaha bersikap biasa-biasa saja.


Rendi yang mengamati dari kejauhan hanya tersenyum sambil menahan rasa geli yang sedang menggelitik perutnya ketika melihat interaksi keduanya yang masih sama-sama malu.


Bagaimana tidak, si killer dan si tomboy saat ini sudah berubah dua ratus derajat, he he he...


Setelah Nurul berpamitan, Nurul pun berdiri dari duduknya lalu menoleh ke arah Lidya. Dan tampaklah seorang gadis yang sedang menunduk malu menyembunyikan rona pipinya yang sudah merona.


Seketika ia menyadari bahwa virus cinta yang diderita sahabatnya itu sudah mulai bereaksi lagi disaat yang kurang tepat. Iya, kurang tepat karena sekarang mereka harus pulang.


"Hmmm kalau bisa virus cintanya bereaksi setelah di rumah saja agar tidak merepotkan orang lain." celoteh Nurul di dalam hatinya.

__ADS_1


"Lid, Lid." ucap Nurul sambil menggoyang-goyangkan punggung Lidya pelan.


"Ekh... Iya. ada apa Nurul?" tanya Lidya terkejut.


"Akh... Syukurlah kamu sudah sadar." bisik Nurul sangat pelan


"Emang aku sadar dari kok." bantah Lidya


"Iya sadar, tapi pikiran kamu nyangkut di udara."


"He he he... Maaf sobat, aku khilaf."


"Hmmm, mau ikut pulang bareng atau masih mau tetap duduk di sini?"


"Emangnya sudah selesai?"


"Sudah dari tadi,"


"Iya... Iya aku ikut."


Untung saja Raka tidak bisa mendengar percakapan keduanya. Kalau sampai Raka mendengarnya, bisa jadi saat itu gantian Raka yang nyangkut di udara, hi hi hi...


Ketika mereka berbisik-bisik, Raka berusaha untuk mencuri dengar, tapi upayanya tidak berhasil. Akhirnya ia bersikap acuh tak acuh saja, untuk menjaga imagenya.


Setelah kepergian mereka, Raka masih tetap setia memandangi punggung dari kedua gadis tersebut yang sudah menghilang sedari tadi sambil mengingat ekspresi Lidya yang tidak bisa berkata-kata lagi.


"Owh... Udah berani ngancam ya..." ucap Raka dengan wajah garangnya, kemudian berdiri dari duduknya lalu berusaha meraih tubuh Rendi.


Rendi yang sebelumnya sudah mengantisipasi serangan dari Raka, langsung berdiri dan menjauh dari jangkauan Raka. "He he he... Nggak kena, nggak kena." ledek Rendi sambil berlari menghindar.


"Awas kamu Ren!" teriak Raka dan terus mengejarnya.


Mereka berdua pun saling mengejar di teras rumah sehingga kursi-kursi yang berada di teras menjadi berantakan karena ulah mereka berdua.


Sudah 5 menit lamanya Raka mengejar Rendi, namun ia belum berhasil menangkap Rendi. Rendi terus saja menggoda Paman mudanya itu sambil menggoyang-goyangkan bokongnya. Menjadikan Raka semakin geram saja.


Tak lama kemudian bunda Hani pulang dari sekolah. Raka yang sudah menyadari kedatangan bunda Hani itu langsung berhenti mengejar Rendi.


Sementara Rendi masih tetap mengejek Raka dan terus menggoyang-goyangkan bokongnya.


Taak...


Sebuah tamparan mendarat dengan sempurna di bokong Rendi.


"Ppffft," tawa Raka melihat kesialan Rendi.


Refleks Rendi menoleh ke arah bunda Hani. "Ekh... Bunda sudah pu_"

__ADS_1


Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, kesialannya langsung menjadi double.


Ciiiit


Dengan gesit tangan bunda Hani menjewer telinga Rendi sambil menariknya masuk ke dalam rumah.


"Ha ha ha..." Raka tertawa terbahak-bahak melihat kesialan Rendi yang double hukuman itu.


Tiba-tiba...


Ciiit


Telinga Raka langsung di jewer dan di tarik bunda Hani sambil menggiring mereka masuk ke dalam rumah untuk di introgasi.


"Ampun Kak, ampun..." mohon Raka dengan wajah memelasnya.


"Pffft" Kini giliran Rendi yang menahan tawanya. Baru kali ini ia melihat si killer itu bisa ditaklukkan.


"Kalian berdua sama saja, anak sama pamannya kayak anak kecil saja, apa kalian nggak malu dilihatin orang-orang yang lewat, hmmm." celoteh bunda Hani setelah mendudukkan keduanya di kursi sofa sambil berdiri berkacak pinggang di hadapan mereka.


"Rendi yang duluan Kak." ucap Raka sambil menunjuk ke arah Rendi.


Rendi tak hanya diam saja, ia balik menunjuk ke arah Raka. "Bohong Bun, Ka_ ekh, Paman yang duluan Bun." ucap Rendi mambela dirinya karena ia tak mau kalah dari Raka. Ia sudah memegang kartu As dari Raka. Jika Raka berani macam-macam dengannya, maka ia akan membuka kartu As tersebut di hadapan Bunda.


Raka melihat ke arah Rendi dengan mata yang sudah melotot, ia ingin agar Rendi mengalah darinya, sehingga masalah ini cepat selesai.


Sungguh di luar dugaan Raka, bukannya takut atau mengalah, Rendi malah membelakkan matanya kepada Raka.


Bunda Hani yang melihat tingkah keduanya, semakin greget saja.


Ciiit


kini hukuman mereka menjadi triple. Ha ha ha...


Bagaimana tidak, tangan lincah bunda Hani menjewer telinga mereka lagi. "Masih nggak mau ngaku juga ya..."


.


.


.


.


Kira-kira siapa yang akan menang ya...


Jangan lupa dukungannya Readers...

__ADS_1


__ADS_2