
Sore hari
Nurul sedang membantu Uminya di dapur yang sedang memotong-motong sayur kangkung yang akan dimasak untuk makan malam nanti. sesekali terdengar suara canda dan tawa dari mereka.
"Assalamu'alaikum" tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing di telinga Nurul.
Pemilik suara ini .... "Kak Rendi", gumam Nurul.
"Biar Nurul saja Umi" dengan segera menahan tangan Umi lembut untuk menyapa tamu yang ada di pintu depan rumah mereka.
Ceklek
Pintu rumah pun terbuka setelah terdengar seseorang yang menjawab salam dari dalam.
"Ehh.. kak Rendi, ada perlu apa kak?"
sapa Nurul setelah membuka pintu rumahnya sambil tersenyum ramah.
"Boleh kita bicara sebentar?" tanya Rendi dengan sopan.
"Duduk di teras aja ya kak." ucap Nurul kemudian menuju ke sebuah kursi kayu yang sudah tersedia di teras rumah mereka dan diikuti Rendi.
Kini mereka duduk dengan hanya berbatasan sebuah meja Bundar yang berukuran kecil.
"Heehh..... " Rendi menghembuskan nafasnya pelan. "Aku mau mengembalikkan buku ini." ucapnya kemudian menyerahkan sebuah buku yang barwarna pink kepada Nurul.
"Aku sudah membaca semuanya dan_"
"Maaf Kak, buku ini milik Ani." sela Nurul memotong pembicaraan Rendi karena ia tidak ingin kalau sampai Rendi mengira buku itu miliknya.
"Sudah kuduga." gumam Rendi setelah mendengar perkataan Nurul.
"Sebaiknya aku terus terang saja agar tidak ada kesalah pahaman lagi." batin Nurul.
"Buku itu diberikan Lidya kemarin, aku harap setelah membaca isi buku ini Kakak bisa menjauhi aku karena ada seseorang yang sangat tulus mencintai Kakak. Dan aku juga tidak bisa untuk menerima Kakak, karena....
"Ummm aku harap penjelasan aku sudah cukup" sambungnya, "Hampir saja aku keceplosan" batin Nurul.
"Karena apa Nurul" ucap Rendi karena penasaran dengan perkataan Nurul yang belum selesai.
"Karena aku tidak merasakan sesuatu yang spesial untuk kak Rendi." ucapnya mencari alasan.
"Baiklah aku mengerti, tapi kita masih bisa temanan lagi kan.."
"Sebaiknya jangan Kak, aku tidak ingin orang orang memikirkan sesuatu yang bukan-bukan tentang kita lagi" ucapnya, "dan aku tahu betapa hancurnya perasaan Ani ketika mendengar gosip tentang kita." bisik Nurul di dalam hatinya.
"Lagipula kakak sudah tahu orang yang_"
"Tapi aku nggak bisa bohongin perasaan ku Nurul..." sela Rendi karena tidak ingin Nurul melanjutkan kalimatnya.
"Maaf Kak aku juga nggak bisa." tegas Nurul karena ia tidak ingin memberikan sebuah harapan palsu untuk Rendi.
__ADS_1
"Heehh.." Rendi hanya dapat menghembuskan nafasnya dengan kasar untuk mengurangi beban di hatinya.
"Terima kasih Nurul, maaf jika kedatanganku sudah merepotkanmu."
"Iya.. tidak apa-apa Kak,"
Akhirnya Rendi pulang dengan membawa perasaan yang kecewa lagi. Entah sampai kapan ia akan terus bertahan dengan perasaan ini.
Apa aku tak pantas untuk mu.??
Apa mungkin ada seseorang yang sudah mengisi relung hatimu ??
Dan berbagai macam pertanyaan lainnya yang menemani sepanjang perjalanannya sampai akhirnya ia tiba di rumah.
"Oh... Bunda tolonglah anakmu ini." teriak Rendi ketika melihat Bunda Hani yang sedang asyik dengan bunga-bunga kesukaannya di halaman depan.
"Kemarilah Anakku" ucap Bunda Hani dan merentangkan kedua tangannya karena ia sangat mengerti keadaan anaknya saat ini yang sedang patah hati.
"Oh Bunda, betapa sakitnya hati ini hu hu hu.." ia pun memeluk Bunda Hani dengan menangis sesegukan di pundak Bundanya, menumpahkan segala beban yang ada di hatinya.
****
*Di rumah Nurul
Setelah kepergian Rendi, Umi pun keluar dari tempat persembunyiannya, dan duduk di kursi yang baru saja ditempati Rendi sambil menatap ke arah Nurul secara intens untuk meminta penjelasan kepadanya.
"Astagfirullah" ucap Nurul sambil memegang dadanya karena melihat Umi yang sedang menatapnya dengan tajam.
"Iissh Umi bikin kaget aja." sambung Nurul setelah menenangkan dirinya.
"Sudah, jangan ngalihin pembicaraan, jelaskan semuanya sama Umi secara lengkap dan jelas!" sela Umi yang sangat penasaran.
"Iya Umi, gimana kalau sambil masak aja, sudah mau Maghrib tapi kerjaan kita belum selesai di dapur."
"Hmmm..." jawab Umi singkat
Setelah sampai di dapur Nurul pun menceritakan secara rinci antara hubungannya dan Rendi.
Tanpa memberitahukan seorang pangeran yang sudah mengisi ruang hatinya
"Umi bukannya nggak suka sama nak Rendi, Dia orangnya baik, tampan dan bertangung jawab. Hanya saja perjalanan kalian masih panjang Nak, Umi tidak ingin masa depan kalian nantinya seperti Umi dan Abah, Umi hanya ingin kalian menjadi anak-anak yang sukses. In syaa Allah sukses di dunia dan akhirat."
"Aamiin... Insyaa Allah Nurul tidak akan ngecewain Umi sama Abah."
"Amiin..."
"Makasih Umi." ucap Nurul sambil mencium pipi Umi.
"Kerjaannya nggak bakalan beres kalau curhat melulu." celoteh Umi sambil berdiri dan menuju ke tungku untuk menyalakan api.
"Habisnya ... Umi kepo ha ha ha"
__ADS_1
Canda dan tawapun mengisi ruang itu lagi, sampai kegiatan mereka selesai.
Sebagai anak perempuan satu-satunya dari 5 bersaudara, Nurul menjadi anak kebanggaan Umi dan Abah sehingga mereka sangat overprotektif terhadapnya.
Nurul hampir tidak pernah dimarahi, itulah sebabnya ia tidak ingin jika kedua orang tuanya akan salah paham hanya karena gosip-gosip yang tersebar di lingkungan mereka.
Nurul adalah harapan mereka, karena dari keempat saudaranya ialah yang paling unggul dalam hal prestasi.
****
*Keesokan harinya
Matahari pagi yang cerah, secerah hati seorang gadis yang sedang bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.
Setelah bersalaman dengan kedua Orang tuanya, ia pun berangkat dengan senyum sumringah di wajah manisnya yang menandakan ia sangat... sangat bahagia.
Sesampainya di sekolah ia langsung bergabung dengan kedua sahabatnya yang sedang duduk di bangku mereka masing masing.
"Hey Lid, tumben kamu datangnya masih pagi" sapa Nurul.
"Aku..." tiba-tiba kalimatnya terpotong karena melihat ekspresi Nurul yang tidak biasanya. "Uummm kayaknya ada yang aneh deh." sambil melihat Nurul dari atas ke bawah.
"Aku... sangat bahagia..." ucap Nurul sambil merangkul kedua sahabatnya.
"Bahagia?" tanya Ani sambil mengernyitkan keningnya.
"Iya, nanti aku ceritain ke kalian, oh iya," sambil mencari sesuatu yang di dalam tasnya. "Aku mau ngembaliin buku kamu An,"
"Akhirnya ketemu juga... tapi, kenapa bisa ada sama kamu Nurul?" tanya Ani dengan tatapan mengintrogasi.
"Ceritanya panjang An, nanti aku jelasin"
"Kelihatannya masalah Nurul sudah selesai" gumam Lidya.
Tak lama kemudian bel masuk pun berbunyi pertanda pelajaran akan segera dimulai.
.
.
.
.
Like
Vote
Koment
Hadiahnya mana???
__ADS_1
Jangan lupa ninggalin jejak kalian ya...
Happy reading Readers...