
Keesokan harinya, pagi itu cuaca sangat mendung, semendung perasaan Lidya yang sedang patah semangat.
Dengan langkah malasnya ia menyusuri jalan menuju ke sekolah. Lima menit berlalu, ia sudah tiba di gerbang sekolah.
Nurul dan Ani yang sedari tadi asyik berbincang-bincang, mengqlihkan pandangan mereka ke arah Lidya.
Mereka pun menyambut kedatangan Lidya dengan sebuah senyuman yang tulus, namun Lidya hanya menanggapinyq dengqn aura yqng dingin.
Pagi itu pun seketika terasa lebih dingin dari yang sebelumnya.
Ggrrr
Mereka menggigil kedinginan di alam bawah sadar mereka. Dengan penuh kebingungan Ani berbisik kepada Nurul, "Apa yang terjadi dengan Lidya?"
"Mungkin karena kejadian kemarin."
Flashback on
Ting
Ting
Ting
Bel tanda pelajaran telah usai pun berbunyi. Mereka merapikan buku-buku catatan mereka dan memasukkannya ke dalam tas. Dengan gaya yang lemas, Nurul dan Ani berdiri dari bangku mereka.
Rasanya nasib mereka hari itu benar malang. Bagaikan sebuah kayu yang sangat rapuh, mereka melangkahkan kaki perlahan. Keduanya berjalan saling berrangkulan, untuk saling menguatkan.
__ADS_1
Berbeda halnya dengan Lidya, karena hari ini ialah pemenangnya. Ia tampil dengan prima sambil menggendong tasnya.
Ia merasa sangat puas hari ini, walaupun berhasil dijahili oleh kedua sahabatnya, di sisi lain ia mendapat ilmu yang baru lagi. Apalagi ketika ia teringat dengan sesuatu yang ekhem-ekhem.
Kalian pasti sudah mengetahui maksud Author kan... Iya, ketika Raka memeluk Lidya yang akan terjatuh.
Hmmm, membayangkannya saja Author jadi ikutan tersenyum.
Ok, kita next Readers.
Ketika mereka sampai di depan pintu,
Ternyata...
Raka sedang menunggu kemunculan mereka, hal itu dapat dipastikan karena ketika Lidya berada di depan pintu kelas, Raka langsung menyunggingkan senyum mautnya.
Nurul dan Ani menggoyang-goyangkan pundak Lidya sambil memanggil namanya.
Lidya hanya diam mematung karena di alam bawah sadarnya, ia tengah hinggap di sebuah pohon yang sangat rindang sambil memetik buah dari pohon tersebut tak lupa ia menghirup aroma dari buah jeruk kesukaannya.
Nurul dan Ani sudah paham dengan gejala-gejala seperti ini, dengan cepat Ani mengambil setangkai bunga bougenfile yang sedang mekar tumbuh di depan kelas mereka.
Hatchiu...
Lidya pun bersin ketika Ani medekatkan bunga tersebut ke hidung Lidya. Wkwkwk
Iya, Lidya alergi serbuk sari. Hal itu sudah menjadi rahasia umum di sekolah mereka, tapi hal yang baru untuk Raka.
__ADS_1
"Pffftt, ternyata dia alergi serbuk sari," gumamnya di dalam hati sambil menahan tawa ketika melihat ekpresi Lidya.
"Nah... Sudah sadar kan..." celoteh Ani kemudian membuang bunga tersebut.
"Oh... Jadi kamu An," geram Lidya hendak menjèwer telinga Ani. Tapi segera di halangi oleh Nurul, "Eits... Sabar dulu, ada..." ucap Nurul sambil melirikkan matanya ke arah Raka.
Raka tidak habis fikir dengan kejahilan dari ketiga gadis tersebut.
"Akh... Aku lupa." gumam Lidya sambil menepuk jidatnya pelan. Dengan perasaan malu dan kikuk ia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Raka.
He he he..., maaf Pak. Ada apa? tanyanya sambil tertawa renyah untuk mengurangi rasa malunya.
di sisi yang lainnya, Ani menggunakan kesempatan tersebut untuk melarikan diri dari ancaman Lidya.
Ia yakin jika ia terus berada di tempat itu, maka ia akan mendapatkan hukuman dari Lidya.
Lidya tidak mungkin melepaskannya begitu saja, apalagi ia melakukannya dengan sengaja di hadapan Raka.
Perlahan tapi pasti, ia menarik tangan Nurul dan mengajak Nurul untuk kabur dari tempat tersebut.
"Bye Lidya..." teriak mereka setelah jarak mereka cukup jauh dari Lidya.
Flash back off.
.
.
__ADS_1
.