
"Papa?" gumam mereka setelah mendengar ucapan Lidya.
Refleks mereka melihat ke arah yang sama.
Kemudian bergumam di dalam hati masing-masing.
"Jadi itu Ayahnya?" gumam Raka sambil melihat sekilas kepada sosok Pria yang bertubuh kekar dan masih lengkap dengan setelan jasnya itu.
"Wah... Bisa gawat nih, gimana cara kabur dari sini?" gumam Rendi dengan panik.
"Kenapa Om ada di sini?" tanya Ani di dalam.hatinya.
"Mungkinkah Om sudah mendengar rumor itu?"
"Mudah-mudahan tidak akan terjadi hal yang buruk."
"Aamiin...."
Gumam Nurul sedikit panik.
Ayah Lidya adalah seorang pebisnis yang sering ke luar kota untuk menjalankan bisnisnya. Dan pastinya super sibuk dengan segala pekerjaannya.
Hal yang sangat aneh jika orang sesibuk itu ingin menghabiskan waktunya di tempat kecil seperti ini.
Ya, Ayah Lidya mempunyai maksud yang lain saat ia memutuskan untuk datang di warung sekecil ini. Dan hal itu berkaitan dengan anaknya sendiri yaitu Lidya si gadis tomboy.
Mereka masih tetap terpana dengan kedatangan dari Ayah Lidya, dan tentunya dengan berbagai macam pertanyaan di dalam hati mereka.
Lain halnya dengan Raka, ia masih bisa bersikap tenang sambil menghabiskan makanannya.
"Mengapa kalian ada di sini?" tanya Ayah Lidya ketika sudah berada di samping Lidya dan merangkul putri kesayangannya itu.
"Ekh... Itu Pa_"
"Saya mengajak mereka untuk makan di sini karena mereka telah membantu saya di Perpustakaan." sela Raka sambil berdiri dari duduknya.
"Ya, memang itulah yang sebenarnya." gumam Rendi di dalam hatinya setelah mendengar pengakuan Raka.
"Hahh... Mengapa Dia harus berbohong seperti itu?"
"Inikan traktiran Rendi..."
"Atau jangan-jangan Rendilah yang membohongi kami."
"Ya, mungkin saja Rendi yang berbohong. Buktinya Dia tidak memperhatikan Ani sedikit pun."
"Hmm... Sepertinya aku sudah mulai paham."
Gumam Lidya sambil melihat ke arah Raka dan Rendi bergantian.
"Oh... Jadi seperti itu ya... Kak Rendi tidak mungkin tulus untuk meminta maaf kepadaku." gumam Ani di dalam hatinya dengan perasaan sedihnya.
"Ternyata kak Rendi tidak sebaik yang kukira. Kasihan Ani..." gumam Nurul di dalam hatinya sambil melihat ke arah Ani yang sudah tertunduk menahan kesedihannya.
Awalnya mereka mengira jika Rendi benar-benar tulus untuk meminta maaf kepada Ani. Namun, sepertinya hal itu tidak mungkin lagi.
__ADS_1
"Dan mengapa Raka membantu Rendi?"
"Ya, itulah permasalahannya saat ini."
"Mungkinkah ia melakukannya dengan sengaja?"
"Dan terpaksa mengakuinya di hadapan Ayah Lidya agar masalah ini tidak ketahuan?"
"Akh... Kita harus menyelidikinya."
Itulah suara hati mereka melalui ikatan batin dalam sebuah persahabatan. Mereka berdiskusi melalui tatapan. Dan hal ini sering mereka lakukan jika dalam kondisi darurat seperti sekarang.
"Perkenalkan Pak," ucap Raka sambil mengulurkan tangannya. " Nama saya Raka Aditya Nugroho." sayalah yang meminta bantuan mereka untuk menata kembali ruang Perpustakaan." sambungnya dengan mantap.
Ucapan Raka barhasil memutus diskusi batin mereka. Dan mengalihkan pandangan mereka ke arah Raka.
"Saya Ayahnya Lidya, kamu bisa memanggil saya Pak Tomo." ucap ayahnya sambil membalas uluran tangan Raka dengan erat.
"Hmm, mungkinkah ini si Killer yang dimaksud Lidya?"
"Sepertinya Dia cukup berani dan bertanggung jawab."
Gumam Ayahnya sambil memperhatikan sosok Raka dari atas ke bawah.
Flash back on
Malam itu, menjelang waktu Isya tiba, Ayah Lidya sampai di rumah, dengan niat ingin memberikan kejutan kepada putrinya karena sudah 3 hari ia berada di luar kota.
Masih dengan senyum bahagia dan lengkap dengan setelan jasnya akhirnya ia memutuskan untuk menunggu putrinya di ruang keluarga.
Senyumnya pun perlahan menghilang.
"Ini tidak seperti biasanya"
"Mungkinkah terjadi sesuatu padanya?"
"Aku harus menyusulnya."
Dengan perasaan cemas akhirnya ia masuk ke dalam mobilnya dan mencari putrinya di rumah Nurul dan Ani tapi hasilnya nihil.
Akhirnya ia memutuskan untuk mencari di Mesjid. Setelah sampai di mesjid, ia bertemu dengan salah satu warga dan menanyakan keberadaan Lidya, namun warga tersebut hanya mengatakan bahwa putrinya sudah pulang dari tadi.
"Dari tadi?"
"Kenapa belum sampai di rumah?"
"Putriku, di manakah dirimu?"
"Ayah sangat mengkhawatirkanmu Nak."
Setelah lelah berkeliling akhirnya ia memutuskan untuk mengisi perutnya dulu di warung mas Udin.
Ya, walau pun ia seorang pengusaha yang cukup terpandang di kampungnya, tapi ia tidak pernah merasa bahwa dirinya lebih tinggi dari pada orang lain. Namun orang-orang di desanyalah yang terlalu memandang tinggi dirinya.
Ketika berada di depan warung, ia melihat sosok putrinya. Dengan segera ia memarkirkan mobilnya namun ada sebuah sepeda motor warga yang menghalangi jalannya.
__ADS_1
Akhirnya ia memencet klakson tersebut berulang kali agar pemilik motor tersebut segera memindahkan motornya.
Siapa sangka hal itu justru memgundang perhatian dari sebagian orang yang berada di dalam warung termasuk putrinya sendiri.
Flashback off
Melihat suasana yang semakin canggung, akhirnya Lidya berdiri dan mengajak Ayahnya untuk duduk di meja kosong lainnya.
"Maaf Pa, aku tidak tahu kalau Papa pulang hari ini,"
"Tidak apa-apa Nak, memang Papa sendiri yang sengaja mencegah Mbok untuk memberitahukan kepulangan Papa. Niatnya sih mau ngasih kejutan, ekh... Malah Papa yang terkejut."
"Akh... Papa."
"Apa Dia si Killer itu?"
Lidya hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Sepertinya Dia anak baik."
"Mudah-mudahan saja." gumam Lidya sangat pelan agar ucapannya tidak didengar oleh ayahnya.
"Oh ya Pa, kenapa Papa ada di sini?" tanya Lidya mengalihkan pembicaraan.
"Sebenarnya Papa sedang mencari putri kesayangan Papa ini lho..." sambil mencubit hidung Lidya.
Melihat komunikasi antara Lidya dan ayahnya yang begitu akrab, membuat mereka bernafas lega.
Karena sedari tadi mereka sangat tegang jika Ayah Lidya akan memarahinya.
Bagaimana tidak, Lidya adalah anak kesayangan sekaligus putri satu-satunya dari 3 bersaudara. Ia sangat dijaga dengan ketat oleh Ayahnya, apalagi anak gadis satu-satunya itu pulang telat, tidak seperti biasanya. Bahkan tidak ada pemberitahuan apapun dari mbok Ina.
"Malu Pa dilihatin orang." ucap Lidya sambil mengeluarkan tangan Ayahnya dari hidung mancungnya itu.
"Memangnya Papa tahu dari mana kalau aku ada di sini?"
"Sebenarnya Papa hanya ingin mengisi perut Papa yang sudah bernyanyi dengan sangat merdu sedari tadi karena menunggumu pulang Nak."
"Maaf Pa..." ucapnya dengan tulus sambil menunduk dengan penuh perasaan bersalah.
.
.
.
Vote
Like
Koment dan
Hadiahnya mana???
Happy reading....
__ADS_1