Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Apa yang terjadi?


__ADS_3

Tak.


Suara langkah terakhir Lidya, karena saat ini ia sudah berada tepat di hadapan keduanya dan hanya berbataskan sebuah meja tulis di antara mereka.


Lidya mendengus kesal di hadapan keduanya, sedangkan mereka tetap menunduk sambil memilin-milin ujung kemeja masing-masing.


Dag


Dig


Dug


Suara jantung mereka semakin lama semakin menderu. Sesekali mereka mencuri lihat ke arah Gadis yang sudah dipenuhi aura balas dendam yang berada di hadapan mereka itu.


Amarah Lidya sudah berada di puncaknya,


Syuuut


Lidya mengangkat telapak tangan kanannya sedangkan tangan kirinya bertengger di pinggang rampingnya.


"Akh....." pekik keduanya sambil menutup kedua telinga dan menutup mata mereka rapat-rapat, karena mereka sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.


Tiba-tiba...


Suara seorang Pria menggema di dalam benaknya.


"Jangan terlalu galak sama mereka Lidya..."


Suara siapakah itu?


Apa kalian masih ingat tentang pesan dari seseorang yang khusus tersebut?


Ya, kalian benar. Good luck Readers. He he he...


Setelah suara misterius itu menghilang, Lidya merasa seperti orang yang sedang berada di area pegunungan, lengkap dengan pemandangan yang sangat indah dan udara yang begitu sejuk menerpa rongga dadanya. Ia mengangkat kedua tangannya kemudian merentangkannya sambil melihat ke arah langit-langit yang berada di ruang kelas. Kemudian ia menghirup nafas dalam-dalam.


Tanpa ia sadari, aura balas dendam yang sudah mengelilinginya menghilang bag di terpa angin muson timur, he he he. Sebuah senyuman hangat pun terpahat di wajahnya itu.


Nurul dan Ani yang sedang menunggu suara hentakan tangan Lidya di atas meja yang berada di hadapan mereka, mulai merasa ada yang tidak beres. Kemudian mereka bergumam di dalam hati. "Kenapa tidak ada yang terjadi?" akhirnya mereka membuka mata perlahan-lahan.


Awalnya mereka tidak menyangka bahwa apa yang sedang berada di hadapan mereka saat ini adalah sebuah kenyataan, mereka mengedipkan mata beberapa kali untuk memastikannya. tanpa mereka sadari bahwa saat ini mereka masih tetap memegang kuping masing-masing.

__ADS_1


Setelah memastikan keadaan, mereka menurunkan kedua tangannya dan saling bertatapan penuh kebingungan.


"Apa yang terjadi?"


"Kenapa berhenti?"


"Apa maksud semua ini?"


"Aku bingung?"


"Kenapa jadi seperti ini?


Gumam teman-teman sekelas yang mewakili perasaan Ani dan Nurul. Suasana di dalam kelas langsung menjadi gaduh sehingga membuat Lidya tersadar dari lamunannya.


Dengan gerak cepat Lidya mengayunkan kedua tangannya.


Ciiiiit


"Kalian berdua pasti sengaja kan...." pekik Lidya sambil menjewer telinga mereka.


"Aduh sakit"


"Aawww"


"Iya, kami nggak akan mengulanginya Lidya."


"Ampun."


"Pliss."


Pekik keduanya sambil menahan sakit di telinga mereka.


"Anak-anak, apa yang sedang terjadi?" tanya bu Dian (Guru Bahasa Indonesia) yang baru saja masuk ke dalam kelas.


Refleks, Lidya lengsung melepaskan jewerannya kemudian membalikkan badannya menghadap ke arah bu Dina yang masih berada di depan pintu sambil tersenyum masam.


Kemudian ia mengangkat tangan kanannya seperti ini ✌. "Peace Bu, peace." ucapnya kemudian.


Nurul dan Ani langsung merasa lega, kemudian menyapu dada mereka dan bergumam. "Alhamdulillah... Semuanya sudah berakhir."


Lain halnya dengan mereka berdua, ekspresi kekecewaan nampak di wajah teman-teman sekelas, karena mereka mengira akan terjadi sebuah tragedi yang langkah di antara ketiga sahabat itu, pasalnya selama ini mereka selalu saja akur dan baik-baik saja meski pun terlihat perbedaan yang sangat mencolok di antara mereka.

__ADS_1


Mau tahu rahasianya Readers?


Semua itu karena di bawah ini 👇👇👇



"Akh... Kalian nggak asyik."


"Ibu sih... Datangnya cepat bangat."


Protes siswa yang lainnya. Bu Dina hanya mengabaikan protes mereka kemudian berjalan menuju meja guru yang berada di sudut ruangan.


di sisi lain, ada seorang Gadis yang tidak puas dengan sikap bu Dina.


"Cih, tontonan apaan nih, nggak jelas bangat." protes Friska karena awalnya ia mengira ketiga sahabat itu akan bermusuhan, sehingga lebih memudahkannya untuk menjatuhkan Lidya.


Ia sangat yakin bahwa selama ini posisi Nurullah yang menguatkan posisi Lidya sampai saat ini. Ia sangat iri dengan berbagai prestasi yang dicapai Lidya.


Dalam setiap kompetisi, Lidyalah yang selalu berada di posisi paling atas dan dirinya berada satu tingkat di bawah Lidya meski ia sudah berlatih sekuat tenaga agar bisa menyaingi nilai Lidya dalam bidang olahraga.


Tak hanya itu, ia merasa bahwa Lidya sengaja mencari muka di hadapan guru-guru karena ia ingin menyombongkan dirinya yang bersahabat dengan seorang Ketua OSIS.


"Hey, apa urusannya denganmu?" bantah Lidya sambil mendekati Friska.


"Lidya, Friska, duduk di tempat masing-masing!" perintah bu Dina untuk melerai perseteruan mereka.


Tak lama kemudian pelajaran pun di mulai. Lidya memilih untuk mengabaikan Friska kali ini. Toh Dia hanya menggertak saja kan... Dan hal ini sudah sering ia lakukan.


Jika sudah lebih parah dari itu, Lidya tidak akan membebaskannya begitu saja.


.


.


.


.


Tinggalkan jejak kalian Readers.


Dukunganmu sangat berarti untukku.

__ADS_1


Happy reading....


__ADS_2