
Kompak, bunda Hani dan Raka menyerang Rendi dengan tatapan yang mematikan. Membuat Rendi bergidik ngeri dan melangkah mundur secara perlahan-lahan kemudian mengunci pintu rapat-rapat.
"Yang damai ya... Aku mau makan dulu, he-he-he." teriak Rendi dari luar sana untuk meredakan ketegangan yang sebelumnya ia rasakan.
Saat ditatap oleh keduanya, ia tidak mempunyai pilihan lain selain melarikan diri dari dua ekor singa yang sudah siap menerkamnya kapan saja.
"Rendi, Rendi, sifat jahilnya kambuh lagi." ucap bunda Hani sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
Sementara Raka yang melihat reaksi Kakaknya itu, berusaha untuk mengaggunakan kesempatan yang ada dengan mengalihkan pembicaraan. "Iya, jahil seperti suami tercinta Kakak." ucapnya dengan nada yang sedikit meledek.
Bunda Hani pun terbawa suasana sambil mengenang sang suami tercinta. "Iya, sayangnya dia sudah tidak ada." Sambung bunda Hani,
"Sepertinya sudah masuk perangkap." Gumam Raka di dalam hatinya.
"Ekh... Kenapa jadi ngomongin Ayahnya Rendi. Jangan mengalihkan pembicaraan Raka, cepat ceritakan apa yang terjadi!" desak bunda Hani setelah duduk di samping Raka sambil mengangkat kedua keningnya.
Raka masih memilih untuk membungkam mulutnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Bunda Hani semakin gemes dan terpaksa mengancam Raka dengan jurus andalannya. "Kalau tidak, uang bulananmu akan di po_"
"Akh, Kakak mah selalu gitu," sela Raka dengan gayanya yang terlihat mengambek layaknya seorang bocah yang masih ingusan. "Dengan terpaksa aku akan mengatakannya tapi..."
Kruuk
Kruuk
Kruuk
Tiba-tiba terdengar sahutan dari dalam perut Raka. Kemudian Raka memegangi perutnya sambil memasang wajah yang memelas, memohon kesempatan kepada kakaknya untuk memberikan kelonggaran waktu, walau hanya sekedar mengisi lambungnya yang sudah berdering itu.
Dan terpaksa bunda Hani mengiyakan permohonannya dengan catatan, jangan berlama-lama. Kemudian dibalas anggukan oleh Raka layaknya seorang anak yang patuh.
Keesokan harinya, Raka sudah besiap-siap untuk berangkat dengan mengendarai motornya. Kota B yang menjadi tujuannya itu, memakan waktu sekitar enam jam perjalanan. Tak lupa, bunda Hani menyiapkan bekal makanan untuknya.
Sebelum berangkat, Raka memutuskan untuk singgah sebentar di sekolah untuk menemui Kepala Sekolah karena ia baru menyadari bahwa honor yang diberikan oleh Bapak Kepala Sekolah kemarin sudah melebihi jumlah yang seharusnya ia terima.
Ia sengaja menggunakan helm ketika memasuki area sekolah agar tidak akan ada yang mengenalinya.
Sementara itu di sisi yang lainnya, Lidya yang baru saja mendapatkan kabar bahwa Raka akan pulang ke kota B pagi ini juga, merasa sangat bersalah karena ia baru menyadari bahwa kata-kata yang ia lontarkan kepada Raka kemarin sangatlah keterlaluan.
Ia ingin menemui Raka dan meminta maaf padanya sebelum semuanya terlambat. Pagi itu juga ia memutuskan untuk bolos dari sekolah dan menyusul Raka di terminal.
Dengan penuh harap dan kebingungan, ia mengelilingi area terminal untuk mencari sosok Raka.
Setengah jam lamanya ia berkeliling ke semua bus yang siap berangkat pagi itu, namun hasilnya nihil. Ingin rasanya ia berteriak sekuat tenaga dan mengucapkan " RAKA I'M SORRY, AND I LOVE YOU SO MUCH."
__ADS_1
Namun sayangnya, ia baru saja kehilangan seseorang yang ia cintai hanya karena perkataan kasarnya dan tidak mampu mengontrol emosinya.
Pupus sudah harapannya saat itu juga, ia sudah kalah, 'kalah sebelum berperang'. Mereka tidak sempat mengutarakan perasaan masing-masing dan harus terpisah karena emosi sesaat.
Betapa malang nasib Lidya, entah kapan mereka akan bertemu lagi atau tidak tidak akan pernah sama sekali.
Hanya Authorlah yang tahu, he-he-he.
Dalam keputus asaan, Lidya kembali ke sekolah. Saat berhenti di depan gerbang sekolah, ia melihat motor Raka yang terparkir tepat di samping gerbang.
Ia pun mengelilingi motor tersebut untuk memastikan kecurigaannya.
"Ya, ini memang motor miliknya." ucapnya sambil menepuk-nepuk sal motor Raka.
Senyum sumringah pun menghiasi wajahnya. Ia melangkah dengan penuh semangat menuju Perpustakaan, barharap ia akan bertemu lagi dengan sang pujaan hati dan mengungkapkan perasaannya.
"Pak Raka, i'm coming!" pekiknya di dalam hati sambil melangkah penuh percaya diri.
Sementara itu di tempat yang lainnya;
"Ada apa Raka?" tanya bapak Kepala Sekolah setelah Raka duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
Tak ingin membuang-buang waktu lagi, Raka langsung ke topik pembicaraan dan mengeluarkan sebuah emplop dari sakunya. "Maaf Pak, saya hanya ingin mengembalikan kelebihan honor yang Bapak berikan kemarin." ucapnya sambil menyerahkan emplop tersebut.
Raka hanya diam tak bareaksi, ia merasa enggan untuk mengambil emplop tersebut.
Kepala Sekolah pun berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Raka, kemudian mengambil tangan kanan Raka. "Bapak memang sengaja membayar secara utuh sesuai dengan kinerjaku yang sangat memuaskan." ucapnya setelah menyerahkan amplop tersebut di tangannya.
Raka merasa semakin enggan menerima bonus tersebut, ia pun berdiri berhadapan dengan Kepala sekolah. "Tapi Pak, saya_"
"Sudahlah, Bapak masih ada urusan yang mendesak." sela Kepala Sekolah sambil menepuk bahu Raka dan mencari alasan agar Raka menyudahi obrolan mereka.
Raka pun merasa bersalah dan berucap, "Maafkan saya karena sudah menyita waktu Bapak."
"Tidak apa-apa. Setelah ini apa rencanamu?" tanya Kepala Sekolah dengan akrab.
Raka terunduk lemas, "Masih kurang pasti Pak. Tapi saya ingin mencari sebuah pekerjaan untuk biaya kuliah nanti." jawabnya penuh tekad.
"Hmmm, jika berkenan coba bawa surat lamaran kamu di kantor ini." kemudian menyerahkan sebuah kartu nama perusahaan grup C. "Managernya adalah teman baik Bapak. Orangnya baik kok, jika ingin ke sana, jangan lupa sebutkan nama Bapak. He-he-he... pasti kamu langsung lolos."
"Bapak bisa saja bercandanya, terima Pak. Saya permisi dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Mereka pun berpisah di depan ruang Kepala Sekolah.
__ADS_1
Suasana di sekitar sekolah terasa sangat sepi disaat jam belajar seperti ini, di tengah kesepian itu, tampaklah seorang gadis tomboy dengan gaya khasnya berjalan ke arahnya dengan sebuah senyuman yang sudah menghiasi wajah cantiknya.
"Ternyata dia baik-baik saja," gumam Raka di balik helmnya.
"Dasar orang Aneh, pakai helm di lingkungan sekolah. Hmmm mungkin ia ingin menutupi wajah jeleknya, hi-hi-hi." gumam Lidya sambil tertawa cekikikan membayangkan betapa jeleknya wajah seseorang di balik helm tersebut.
"Bahkan ia masih bisa tertawa." gumam Raka membatin karena jarak mereka sudah semakin dekat.
Raka yang merasa sedikit gugup ketika melewati Lidya, berusaha untuk tetap berjalan santai dan cuek seakan-akan ia tidak mengenal Lidya.
"Dasar Aneh!" Gumam Lidya ketika jarak mereka berada di satu garis lurus.
Deg!
Debaran jantung Raka terasa menggila, ia sangat gemes bercampur kesal dengan sikap Lidya. Jika hari ini bukan hari terakhirnya berada di desa Makmur, mungkin ia sudah menceramahi Lidya.
"Dasar gadis angkuh, keras kepala, tomboy," dan berbagai umpatan lainnya diucapkan Raka untuk menumpahkan kekesalan di hatinya.
Lidya yang sempat mendengar umpatannya, langsung berbalik arah dan menghadangnya.
"Kamu siapa hah!" ucapnya sambil merentagkan kedua tangannya untukmenghalangi jalan.
Raka berhenti dan berusaha menahan emosinya yang sudah memuncak. "Maaf nona, saya hanya seseorang yang tidak penting."
"Owh..., tidak penting ya..." balas Lidya dengan berkacak pinggang. "Lalu apa hakmu mengataiku tadi?"
"Ekh, mungkin nona salah dengar." bohong Raka karena ia ingin segera mengakhiri semuanya sebelum Lidya mengetahui identitasnya.
"Jangan mencari alasan kalau tidak_"
"Maaf Nona, saya terburu-buru." sela Raka kemudian melangkahkan kakinya menuju area parkiran.
"Dasar orang aneh, penakut, sok jual mahal, pasti pasti wajahnya jelek, buktinya ia tidak ingin orang lain melihatnya saking jeleknya. Hi-hi-hi" celoteh Lidya kemudian tertawa cekikikan.
Tanpa sadar, Lidya menatap Raka dan mengiringi kepergiannya.
"Apa! Jadi orang aneh itu adalah Raka?!
"Akh, mengapa aku tidak mengenalinya sama sekali."
.
.
.
__ADS_1