Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Menjalani hukuman


__ADS_3

Lidya POV


Gadis tomboy yang baik hati dan tidak sombong itu bernama Lidya. Dia berasal dari keluarga yang kaya, ayahnya bernama Hartomo, biasa dipanggil dengan Pak Tomo. Ibunya sudah meninggal ketika usianya 10 tahun. Dia memiliki 2 saudara laki laki ( kakak dan adik ).


Sebagai anak perempuan satu-satunya yang diasuh dan dibesarkan tanpa kasih sayang seorang ibu, menyebabkan kepribadiannya cenderung menjadi tomboy. Namun Dia memiliki sifat penyayang yang menurun dari sang Ibu.


Kakaknya Adalah seorang pelatih Taekwondo di kota A. Dan sudah memiliki rumah tangga serta dikaruniai 2 orang anak.


Sementara Adiknya saat ini berusia 9 tahun, dan masih duduk di kelas 3 SD. Aditya itulah namanya.


*****


Keesokan harinya


Matahari yang bersinar cerah dan memancarkan cahayanya menambah semangat mereka pagi itu. Mereka telah siap menjalani hukuman dari si Killer.


Ya, mereka adalah Nurul, Lidya dan Ani.


Dan saat ini mereka telah berkumpul di rumah Lidya.


"Bagaimana Lid?" tanya Nurul


"Aku sudah siap." jawab Lidya dengan penuh semangat.


"Let's go!" sambung Ani


Dengan penuh semangat mereka pun segera menuju ke sekolah, tepatnya di Perpustakaan.


Tok tok tok


"Assalamu'alaikum" sapa Nurul ketika melihat Raka yang sudah berada di meja stafnya.


"Waalaikumussalam"


Mereka langsung masuk ke dalam Perpustakaan setelah Raka menjawab salam mereka. Kini mereka berbaris membentuk saff tepat di depan meja staf Raka, dengan posisi Lidya yang berada di tengah.


Melihat kelakuan mereka, Raka tersenyum samar. "Mereka sangat lucu." gumamnya di dalam hati.


Ingin rasanya ia mencubit pipi mereka satu persatu, namun hal itu hanya akan tetap menjadi khayalannya saja.


"Ehem." Raka pun mulai memasang wajah datarnya.


"Kalian berdua" ucap Raka sambil menunjuk ke arah Nurul dan Ani, "Rapikan buku-buku yang berada di rak itu!" perintahnya sambil menunjuk sebuah rak buku yang ukurannya paling besar diantara semua rak buku yang ada di Perpustakaan.


"Haah.... Mengapa harus di rak yang itu?" Gumam Nurul sangat pelan dan hanya dapat didengar oleh kedua sahabatnya.


"Jangan banyak protes, nanti hukuman kita bakal ditambahin." bisik Lidya.


"Iya, iya."


"Dan kamu Lidya," sambung Raka, "Kamu harus merapikan buku-buku yang berada di dalam lemari kaca ini." ucap Raka sambil menunjuk sebuah lemari yang berada cukup dekat dengan meja staffnya.


"Apa... Mengapa harus di lemari yang berdekatan dengannya?" teriak Lidya di dalam hatinya. "Pasti Dia sengaja, atau mungkin Dia sudah merencanakan sesuatu" batin Lidya.


"Aku harus berhati-hati." gumamnya pelan.


"Bubar dan laksanakan tugas kalian." perintah Raka.


Mereka bertiga pun berpencar dan segera melaksanakan tugas mereka.


"Pasti Dia sengaja memisahkan kita berdua dari Lidya." bisik Ani kepada Nurul.


"Hmm. Aku khawatir dengan Lidya."

__ADS_1


"Iya, aku juga."


"Mudah-mudahan saja Lidya dapat menghindar dari niat jahat si Killer itu." ucap Nurul dengan sungguh-sungguh.


"Aamiin.."


"Ehem, Kalian berdua sudah selesai bisik-bisiknya? Tanya Raka dengan tatapan yang mengintimidasi.


"Ekh.. Maaf Pak."


Setelah mendapat teguran dari Raka mereka mulai bekerja dengan serius.


2 jam kemudian


Raka berniat meninggalkan ruangan dan pergi ke warung untuk membeli beberapa botol air mineral dan roti untuk mengganjal perut mereka. Karena saat ini ia mulai merasa cacing-cacing diperutnya sudah mulai berteriak.


"Kalian bertiga jangan ke mana-mana, aku keluar dulu sebentar." ucap Raka.


"Hmmm" jawab mereka singkat.


Setelah kepergian Raka, mereka berkumpul kembali seperti biasa.


"Apa kamu tidak apa-apa Lid?"


"Tidak."


"Syukurlah,"


"Kalau kalian?"


Nurul dan Ani pun hanya menggelengkan kepala mereka sebagai tanda bahwa mereka baik-baik saja.


"Sepertinya kita sudah salah menilai si Killer." ucap Nurul


"Mungkin saja tapi kita harus tetap berhati-hati."


"Hmmm"


"Perutku sudah mulai keroncongan Lid," tambah Ani


"Aku juga,"


"Sebaiknya salah satu dari kita membeli sesuatu di warung untuk kita makan." usul Lidya sambil mengeluarkan uang pecahan lima puluh ribuan.


"Aku saja." jawab Nurul. "Tapi kita harus menunggu si Killer itu kembali." sambungnya.


Akhirnya mereka melanjutkan pekerjaan sambil menunggu Raka kembali dari warung.


Namun....


Ketika Lidya hendak mengeluarkan buku-buku yang terdapat di bagian bawah rak tersebut tiba-tiba ia dikagetkan dengan kemunculan seekor tikus kecil.


"Aaaahhhh.... Tikus." pekik Lidya sambil meleparkan buku-buku yang berada di tangannya, kemudian berlari keluar dari ruangan.


"Lidya, tunggu!!" teriak Nurul dan Ani sambil berlari menyusul Lidya.


Bugh


Lidya pun menabrak bahu Raka karena saat itu Raka baru saja ingin berbelok dari ujung koridor.


"Ma... Maaf Pak, tadi ada_"


"Lidya kamu, huft... huft.. tidak apa - apa kan?" tanya Nurul setelah berhasil mengejar Lidya.

__ADS_1


Raka hanya mengernyitkan keningnya sambil melihat ke arah Lidya dan Nurul secara bergantian.


"Lidya, Nurul jangan tinggalin aku." teriak Ani dari belakang. "Huft... huft.. kalian berdua gitu bangat sih." celoteh Ani.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


Pertanyaan dari Raka berhasil membuat mereka menoleh ke arahnya.


"Jadi, bukan Dia pelakunya?" tanya Lidya di dalam hatinya karena ia sempat berfikir jika Rakalah yang sengaja menaruh tikus itu di dalam lemari untuk menakut - nakutinya.


"Umm.. Tidak apa-apa Pak, kami hanya kaget saja." Nurul pun terpaksa membohongi Raka karena ia tidak ingin membahas lagi tentang tikus itu.


Ia sangat hapal dengan sifat Lidya, walaupun dari luar Lidya adalah sosok yang tomboy, namun di balik sosok tomboy itu Lidya adalah Gadis yang sangat takut dengan hewan pengerat yang bernama tikus.


Bukan takut, lebih tepatnya geli. Itulah hal yang Lidya takuti selain sosok hantu yang berada di dalam imajinasinya sendiri.


Dan hal itu hanya diketahui orang-orang terdekatnya saja.


"Kaget?" tanya Raka karena ia tidak bisa mempercayai mereka begitu saja.


"Iya Pak." jawab Lidya setelah menguasai dirinya kembali.


"Sudahlah, bagaimana pun ini adalah kesempatanku untuk mendekati mereka." gumam Raka di dalam hatinya.


"Apakah kita bisa masuk ke Perpustakaan sekarang?" tanya Raka.


"Baik Pak"


Akhirnya mereka mengikuti Raka dari belakang.


Setelah di dalam ruangan, Lidya mulai merasa was - was lagi. Bagaimana tidak, ia masih mengingat jelas wujud dari hewan pengerat itu.


Melihat ekpresi Lidya yang mulai berubah, Nurul menggenggam tangan Lidya dengan erat, dan hal itu diikuti Ani.


Raka yang sedang mengeluarkan isi dari dalam kantong kresek yang dibawanya tadi mulai merasa aneh dengan tingkah mereka.


"Apakah mereka ingin kabur lagi?" gumam Raka di dalam hatinya.


Raka sangat mencurigai mereka karena posisi mereka saat ini sama persis ketika mereka berusaha melarikan diri darinya beberapa hari lalu.


"Ehem" Raka pun berdehem untuk mencairkan suasana.


"Makanan dan minumam ini untuk kalian." ucap Raka dengan ekspresi datarnya.


.


.


.


.


Hay Readers


Jangan lupa


Like


Vote


Favoritnya ya...


Ekh..." hadiahnya jangan lupa juga ya...

__ADS_1


Karena dukunganmu sangat berarti.


Happy reading Readers....


__ADS_2