Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Si killer yang tampan


__ADS_3

"Belum An, aku sudah mencari ke seluruh ruangan ini tapi tidak ada." ucap Lidya dengan enggan.


"Kalau begitu, kita cari bersama sama" usul Nurul


Mereka pun mulai mencarinya dengan lebih teliti.


10 menit kemudian


Lidya yang mempunyai firasat jika buku itu ada di meja staf Raka, akhirnya memberanikan dirinya mengacak-ngacak semua buku-buku yang ada di meja tersebut. "Ketemu" sambil mengambil buku Diary dari tumpukan buku buku yang berada di meja Raka. "Ternyata dugaanku benar." gumam Lidya di dalam hatinya.


"Benarkah?" tanya Ani dengan penuh harap.


"Iya" ucap Lidya sambil melambai lambaikan buku Diary tersebut.


"Alhamdulillah" ucap Ani sambil berlari ke arah Lidya untuk mengambil buku Diarynya dan memeluk buku tersebut kemudian menciumnya berkali kali.


Saking senangnya mereka tidak menyadari kehadiran seorang Pria tampan yang sedang berdiri di depan pintu.


"Sebegitu pentingnya buku Diary itu?" bisiknya di dalam hati ketika melihat adegan yang tersaji dihadapannya.


Tiba-tiba terdengar suara dari depan pintu. "Jadi kalian bertiga sudah berkumpul di sini."


Dengan refleks mereka menoleh ke sumber suara.


"Haahh... Apa maksudnya?" tanya Nurul


Lidya pun mulai menyadari sesuatu "Jadi dia sengaja menjebak kita." gumamnya pelan dan masih dapat didengar oleh kedua sahabatnya.


"Akh... Kita ketahuan kan" celoteh Ani.


"Kalian bertiga tidak bisa lari lagi, mendekat sekarang juga." ucap Raka dengan sorot mata yang tajam.


Kini mereka bertiga tidak bisa berbuat apa-apa lagi, mereka sudah tertangkap basah sedangkan ekspresi mereka saat ini seperti kucing yang telah disirami air oleh tuannya.


"I.. iya Pak" ucap ketiganya


"Hmmm... Aku akan memberikan kesempatan kepada kalian untuk menjelaskannya!" ucap Raka sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Eh... itu_"


"Kami tidak sengaja Pak." sela Nurul sebelum Ani menceritakan yang sebenarnya.


"Tidak sengaja bagaimana? apakah membuat keributan di ruang Perpus itu disebut ketidak sengajaan?" ucap Raka dengan nada yang tinggi.


"Bukan begitu Pak." ucap Lidya


"Lalu.."


"Maksud kami, kami tidak tahu jika ada orang lain di Perpustakaan, lagipula saat itu masih jam istirahat kan" ucap Nurul menjelaskan dengan sopan.


"Oh... Jadi maksud kalian kalau jam istirahat kalian bisa melanggar aturan di Perpustakaan?" ucap Raka dengan nada yang naik 1 oktaf lebih tinggi.


"Emmm... itu, kami minta maaf Pak" ucap Lidya dengan enggan agar tidak memperpanjang urusan mereka dengan si Killer.


"Kami janji tidak akan melakukannya lagi" sambung Nurul.


"Hmm... Tapi kalian harus dihukum."


"Apa" teriak ketiganya


"Tapi Pak, bukankah kami sudah minta maaf?" ucap Nurul karena merasa tidak puas dengan keputusan Raka.


"Karena kamu Nurul, sebagai ketua OSIS seharusnya kamu memberikan contoh yang baik, bukannya mengajak sahabat-sahabatmu melanggar peraturan yang ada di Perpustakaan" ucap Raka dengan nada yang menghakimi.

__ADS_1


"I.. iya Pak" Nurul pun tidak bisa membantah lagi


"Hmmm.. Sebelum itu saya ingin menanyakan 1 hal lagi, siapa yang waktu itu berteriak kalau ada tikus di ruangan ini" tanya Raka kemudian.


Sontak Lidya pun menjawab pertanyaan itu, "Ekh itu... saya Pak" ucap Lidya mengakui kesalahannya karena dia tidak ingin kedua sahabatnya menerima hukuman karena ulahnya sendiri.


"Oh... jadi kamu" ucap Raka sambil berjalan mendekati Lidya, kemudian memperhatikan Lidya dari atas ke bawah. "Bukankah kamu siswa yang mencari bolpoint tadi?" sambungnya.


"Iya Pak" Lidya pun menjawab dengan mantap dan mengangkat kepalanya. Ia tidak ingin menunduk lagi hanya untuk menyembunyikan wajahnya. Toh mereka sudah ketahuan, seakan akan ia ingin memberi isyarat 'ya, inilah aku'.


"Apakah itu hanya alasanmu saja?"


"Benar Pak" jawab Lidya dan membalas tatapan ke arah Raka.


"Untuk apa?"


"Aku ingin mencari buku Diary teman saya Pak"


"Apa sudah ketemu?"


"Sudah Pak"


"Apa kamu yang menemukannya?


"Iya Pak"


Lidya menjawab semua pertanyaan Raka dengan mantap, tanpa keraguan sedikit pun.


"Gadis ini sungguh menarik. Dia sangat jujur dan cukup angkuh, bahkan sudah berani menatapku secara langsung." gumam Raka di dalam hatinya.


"Jadi itu buku Diary siapa?"


"Saya Pak" jawab Ani masih tetap menunduk.


"Akh... Kenapa dia harus ke sini" teriak Ani di dalam hatinya.


"Apa kamu tahu jika tidak diperbolehkan membawa buku apapun di sekolah selain buku pelajaran?"


"Maaf Pak saya lupa" bohong Ani


"Lupa?" sambil mengernyitkan keningnya


"I.. iya Pak"


"Baiklah, kalau begitu hukuman kalian adalah..." kemudian berpikir sejenak, "kalian harus merapikan semua buku-buku yang ada di sini!"


"Haah...." ucap ketiganya.


Ting...


Ting...


Ting...


Bel tanda masuk pun berbunyi.


"Hari minggu jam 8 pagi saya akan menunggu kalian di ruangan ini." sambung Raka


"Ba.. baik Pak." ucap ketiganya


"Sebaiknya kalian segera kembali ke kelas." perintah Raka


Mereka pun segera bergegas menuju ke kelas, mereka tidak ingin berlama lama lagi diruangan itu walau pun sebenarnya mereka sangat merindukan suasana di Basecamp itu.

__ADS_1


Merindukan kedamaian dan ketenangan, merindukan saat makan bersama, saat bercanda, dan saat meluapkan segala beban dan kesedihan di ruangan itu.


Ruangan itu adalah tempat yang mempertemukan mereka hingga mereka dijuluki sebagai 3 serangkai.


Tapi semenjak kemunculan Raka, ruangan itu menjadi sangat menyeramkan. Bahkan siswa-siswa yang ingin sekedar meminjam buku dari Perpustakaan harus menyiapkan mental terlebih dulu sebelum mereka mengambil keputusan itu. Karena mereka akan menghadapi si Killer yang tampan penghuni ruang Perpustakaan.


"Si Killer yang tampan" seperti itulah julukan yang mereka sematkan kepada Raka.


Ting


Ting


Ting


Bel tanda kegiatan belajar mengajar telah selesai pun berbunyi, seluruh siswa pulang ke rumah masing-masing.


Dalam perjalanan pulang, banyak siswi-siswi yang mulai bergosip tentang Raka


Ada yang hanya sekedar mengagumi ketampananya dan ada pula yang mencibirnya karena mendapat peringatan yang keras darinya.


Nurul dan kedua sahabatnya hanya menjadi pendengar yang setia saja karena mereka sedang memikirkan bagaimana nanti nasib mereka jika seruangan dengan si Killer yang tampan itu nanti? alasan apa yang harus mereka katakan kepada orang tua mereka? bahkan mereka tak dapat menikmati hari libur bersama dengan penuh canda dan tawa seperti biasanya. Mereka tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi ketika hari itu tiba.


Selama dalam perjalanan pulang mereka hanya diam seribu bahasa.


****


*Di Perpustakaan


Setelah kepergian mereka, Raka menyunggingkan senyum kemenangannya.


"Rasanya sangat puas melihat ekspresi mereka tadi." sambil mengingat kembali kejadian beberapa menit yang lalu.


Setelah itu ia duduk kembali di meja staffnya.


"Sepertinya aku melewatkan sesuatu." ucap Raka sambil mengamati di sekelilingnya.


"Akh... Siapa yang berani mengacak ngacak buku-buku ini?" geram Raka setelah menyadari buku buku yang berantakan di atas mejanya kemudian menyusun kembali.


Raka adalah tipe orang yang perfeksionis, ia tidak ingin segala sesuatu yang sudah diaturnya sedemikian rupa diubah begitu saja tanpa seizinnya.


"Pasti Gadis yang angkuh itu" gumamnya


"Heehh...." Raka pun menghembuskan nafasnya dengan kasar, "Bahkan aku lupa menanyakan namanya."


"Mengapa aku menjadi seceroboh ini?


"bukankah hanya berurusan dengan 3 orang gadis saja..."


"akh.... apa yang sebenarnya terjadi denganku?"


Teka teki inilah yang membuat Raka menjadi bingung terhadap dirinya sendiri.


Tanpa ia sadari bahwa sesungguhnya ia telah mengagumi seseorang diantara mereka.


Seseorang yang telah membuatnya menjadi orang lain. Ya, bahkan ia sendiri sudah tidak mengenal dirinya sendiri.


.


.


.


Ayo.. Berikan dukunganmu Readers,

__ADS_1


Happy reading...


__ADS_2