
*Keesokan harinya di Perpustakaan
"Maaf ya... aku datang terlambat" ucap Lidya sambil mendekat kepada kedua sahabatnya itu, "Karena_"
"Ketemu sama pangeran kan... ha ha ha" sela Ani untuk meledek Lidya.
"Jangan mulai lagi An, tadi dipanggil sama pak Romi (Guru Olahraga)" ucap Lidya menjelaskan.
"Oh.. Terus gimana?" tanya Nurul penasaran.
"Cuma mau ngingatin aja buat perlombaan 17 Agustusan" ucap Lidya sambil membuka penutup bekal makanannya.
"Pelaksanaannya masih 2 minggu lagi kan..." tanya Ani kemudian
"Kalau begitu kita harus belajar lebih giat lagi biar dapat bonus he... he... he" canda Nurul sambil tertawa renyah.
"Setuju, siapa yang menang harus traktir makan bakso, gimana?" usul Lidya
"Ok." ucap Nurul dan Ani serempak.
Selama beberapa hari kemudian mereka jarang bertemu satu sama lain, karena sibuk dengan persiapan masing-masing.
***
*Sehari sebelum kegiatan.
Setelah sholat Isya, Ari menemui Ani karena sudah lebih dari seminggu Dia tidak melihat keberadaan Nurul di Mesjid.
"Assalamu'alaikum An, kok sendirian aja..." tanya Rendi
"Waalaikumussalam Kak, iya soalnya Nurul sama Lidyanya lagi sibuk. "
"Sibuk?" tanya Rendi sambil mengerutkan keningnya
"Sibuk belajar sama latihan aja buat lomba 17 Agustusan"
"Oh.... "
"Ada yang bisa aku bantu Kak? atau lagi kangen sama seseorang ya...." goda Ani
"Eh... Nggak, bukan _"
"He... he... he... Kakak ketahuan." goda Ani
"Eh... Kamu kok nggak latihan, emangnya nggak ikutan lomba?" ucap Rendi mengalihkan pembicaraan
"Jangan merubah topik Kak, Kakak lagi cari Nurul kan ?" tebak Ani dengan tatapan mengintrogasi
"He... he... he... Akhirnya ketahuan juga " ucap Rendi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kalau gitu tolong sampein ke orangnya ya.." ucapnya malu-malu.
"Iya, beres." ucap Ani sambil mengacungkan jempolnya.
"Terima kasih Adik cantik " sambil mencubit pipi Ani. "Kalau gitu aku pergi dulu ya, assalamualaikum."
"Waalaikumussalam Kakak ganteng." gumamnya pelan tanpa terdengar siapapun kecuali dirinya sendiri.
Sesampainya di rumah, ia mengucap salam dan menyapa Bundanya yang sedang duduk di depan televisi dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Sepertinya ada yang aneh dengan anak itu." gumam ibu Anita karena melihat Ani yang masuk ke rumah dengan senyum sumringah yang menghiasi wajahnya.
Sementara itu di dalam kamar ada seorang Gadis yang sedang kasmaran dengan perasaan yang berbunga-bunga sedang menulis sebuah buku hariannya yang berwarna pink.
"Sungguh hari yang menyenangkan bisa
bercanda denganmu lagi Kakak ganteng."
Ya, itulah akhir dari buku Diarynya.
Namun kebahagiaannya lenyap seketika saat mengingat kembali sebuah amanah untuk sahabatnya.
__ADS_1
Andai saja orang yang kakak sukai itu aku, aku pasti sangat, sangat senang.
Tapi... Dia sahabatku bagaimana aku bisa marah sama kalian?
"Mungkin lebih baik aku mengalah saja selama kita masih bisa saling bertemu."
"Maaf Kakak ganteng, aku nggak bisa menyampaikan salam Kaka, karena aku takut jika aku tidak bisa menutupi perasaan ini di hadapannya nanti." gumamnya kemudian.
Tok.. tok... tok...
Tiba tiba terdengar suara ketukan pintu yang membuyarkan lamunannya
"Siapa?" dengan suara yang agak serak sambil menyeka pipinya yang basah
"Bunda bisa masuk Nak" tanya bunda Anita dari depan pintu kamar
"Masuk aja Bunda, pintunya nggak dikunci kok" berusaha menyembunyikan kesedihannya
"Makan dulu Nak, Ayah sudah nungguin tuh"
"Sebentar lagi Bunda, aku mau lanjut buat PR dulu ya... takut kelupaan." bohong Ani
"Jangan lama-lama sayang." sambil membelai rambut Ani yang terurai panjang.
"Iya Bunda."
Bunda Anita pun meninggalkan kamar Ani dengan perasaan bingung.
"Mengapa ekspresinya cepat sekali berubah ? sebenarnya apa yang terjadi ?" gumamnya pelan setelah keluar dari kamar Ani.
*Keesokan harinya
Hari ini tepatnya tanggal 17 Agustus tahun 2005. Saat itu di desa Makmur belum mengenal handphone dan laptop, mereka masih mengandalkan wartel ( warung telkom) sebagai alat komunikasi dan mesin ketik sebagai medis surat menyurat.
Seperti biasanya upacara Pengibaran Sang Merah Putih dilakukan secara serentak se Kecamatan dan dirangkaikan dengan berbagai macam kegiatan seperti lari karung, panjat pinang, tarik tambang, cerdas cermat dll.
Peserta upacara yang hadir hanya Guru-guru, Perangkat Desa dan Perwakilan setiap desa serta siswa-siswi pilihan.
Upacara Pengibaran Bendera pun berlangsung dengan khidmat.
"Akhirnya selesai juga, kita cari tempat makan yuk." ajak Lidya kepada kedua sahabatnya.
"Eh... Makan bekalku saja, kayaknya cukup untuk kita bertiga." usul Nurul
"Umi kamu memang sangat pengertian gimana kalau kita makan di sana aja." sambil menunjuk ke arah pohon beringin yang sangat rindang.
"Ok deh. tapi.." ucap Nurul sambil melirik ke arah Ani untuk memberi kode kepada Lidya.
Lidya pun mengacungkan jempolnya "Beres"
Plak...
"Kak Rendi.. eh Lidya, kamu jahil bangat sih" ucap Ani keceplosan sambil memegang dadanya karena terkejut.
"Kak Rendi?" tanya Nurul sambil mengernyitkan dahinya
"Ha ha ha .... jadi dari tadi kamu ngelamunin Kak Rendi ya... jangan - jangan" tebak Lidya
"Eh... Nggak kok cuma"
"Cuma apa, ngaku aja deh iya juga nggak apa-apa benar kan Nur???" ucap Lidya
"Iya nggak apa-apa" sambung Nurul
"Nggak kok Nur, tadi aku cuma kagum aja ngeliat Kak Rendi dipasukan pengibar bendera" ucapnya sambil mencari alasan karena merasa enggan dengan kedua sahabatnya.
"Oh.... gitu ya, tapi kok aku nggak lihat" ucap Nurul sambil mencoba mengingat kembali.
"Iya, aku juga" tambah Lidya. "jangan ngalihin pembicaraan deh" sambungnya
"Nggak, benaran kok".
__ADS_1
"Oh... jadi benaran kamu suka sama_" tiba tiba mulutnya ditutupi oleh tangan Ani karena Ani melihat Rendi yang sedang menuju ke tempat mereka.
"Ehem... ehem... Boleh gabung nggak" sapa Rendi dan masih memakai atribut lengkap pasukan penggerek bendera.
"Ternyata benar yang dikatakan Ani," gumam Lidya setelah melihat penampilan Rendi. "Waalaikumussalam Kak Rendi" ucap Lidya dengan nada yang penuh penekanan.
"Ekh iya Assalamu'alaikum..."
"Aduh... aduh sakit Nur" rintih Ani sambil memegang jarinya yang digigit Nurul dan mengibas-ngibaskannya.
"Maaf An, tadi itu refleks" sambil mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Maaf ya aku bantu tiupin." sambungnya sambil mengambil tangan Ani.
"Nggak usah" ucap Ani dan mengibaskan tangan Nurul.
"Hei hei ..." Lidya pun menengahi kedua sahabatnya. "Kalian berdua kok jadi berantem gini sih, malu tuh dilihatin Kak Rendi" sambungnya lagi.
"Nurul tuh pake gigit segala" celoteh Ani
"Iya maaf... tadi aku hampir kehabisan nafas lho..." ucap Nurul membela dirinya
"Kalian ini kan sahabatan, nggak baik marahan kayak gitu" ucap Rendi menasehati.
"Iya nih, kayak anak kecil aja" tambah Lidya
"Aku harus gimana An" tanya Nurul dan mendekati Ani.
"Tau?" jawab Ani dan menoleh ke samping
"Ekh iya, Kak Rendi ada perlu apa ya?" tanya Linda dan memberi kode kepada Rendi untuk berjalan sedikit menjauh.
"Ummm.. Sebenarnya mau ngajakin kalian makan." ucap Rendi setelah mendekati Lidya.
"Oh... gitu ya, tapi situasi dan kondisinya tidak memungkinkan gimana kalau Kakak ngajakin Ani saja,"
"Tapi...."
"Anggap saja bantuin kita biar bisa berdamai lagi."
"Mau gimana lagi..."
"Makasih ya Kak" kemudian Lidya berjalan mendekati Nurul
"Maaf An, bisa ikut aku sebentar?" ucap Rendi setelah jarak di antara keduanya cukup dekat.
"Iya Kak"
Nurul dan Lidya menuju ke pohon beringin sedangkan Rendi dan Ani menuju ke kantin yang berada di dekat tempat mereka berdiri.
"Kita makan di kantin ini aja ya..."
"Iya"
"Kamu mau makan apa??" tanya Rendi
"Nasi lalapan aja Kak."
"Kalau gitu aku pesan dulu makanannya" kemudian Rendi mendekati pemilik kantin dan memesan makanan.
Tak lama kemudian makanan yang mereka pesan sudah disajikan, mereka pun makan tanpa berbicara lagi.
"Kalian sudah berdamai kan" tanya Rendi hati hati setelah selesai makan
"Sudah kok" bohong Ani.
"Syukurlah kalau bagitu"
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, favorit dan votenya ya....
Happy reading Readers..