Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Lidya, mati kutu!


__ADS_3

Tok.. Tok... Tok...


"Assalamualaikum Bunda,"


"Waalaikumussalam." terdengar suara seorang Pria dari dalam rumah, yang tidak lain adalah Raka, kebetulan saat itu ia sedang berbaring di sofa yg berada di ruang tamu untuk menghilangkan rasa penat setelah seharian di Perpustakaan.


Nurul dan Ani saling bertatapan.


"Bukan Bunda." bisik Nurul


"Hmmm."


Ceklek


Pintu rumah pun terbuka lebar menampilkan seorang Pria dengan tubuh tegap dan lengkap dengan setelan kemeja yang ia gunakan ketika berada di Perpustakaan tadi.


"Oh.. Ternyata Dia,"


"Tumben hanya mereka berdua saja yang datang." Gumam Raka di dalam hatinya, ia merasa ada yang kurang karena setahunya mereka akan selalu bersama-sama.


"Ekh... Sepertinya pakaian ini_" gumam Lidya di dalam hatinya ketika mengamati Raka yang sedang berdiri di hadapanya. Belum selesai ia bergumam, ia langsung di kagetkan dengan gerakan dari siku Nurul yang sedang memberikan kode untuknya agar mengutarakan maksud dari kedatangan mereka kali ini.


"Emm maaf Pak, bunda Haninya ada?" tanya Lidya karena kehilangan kosentrasi dan sedikit terkejut. Hal ini sungguh di luar dugaan mereka. Mereka berharap Rendi atau Bunda yang akan membukakan pintu untuk mereka. Sehingga membuat suasana terasa canggung.


Nurul hanya mengerutkan keningnya dan berteriak di dalam hatinya. "Hey... Apa maksud dari pertanyaan ini?"


Berbeda halnya dengan Raka, ia bersikap biasa saja karena ia menganggap jika kedatangan mereka tidak ada hubungan dengannya sama sekali. "Oh.. Bunda belum pulang. Kayaknya masih ada rapat di sekolah." jawab Raka dengan santai.


"Sebaiknya kalian kembali lagi nanti malam." sambungnya dengan gaya yang acuh. Sebenarnya... jauh di dalam hatinya ia merasa sangat senang, bagaimana pun hal ini adalah sebuah kejutan baginya. Tanpa ia sadari perasaan penat yang sedari tadi ia rasakan langsung menguap begitu saja ketika melihat kedatangan Lidya.


Mau tak mau Nurul membuka suaranya, "Ekh itu maaf Pak, bolehkah kami duduk sebentar?" tanya Nurul dengan kaku, iya kaku... karena ia tidak ingin jika Raka akan salah paham dengan maksud perkataannya.


Raka hanya menaikkan alis sebelah kanannya, sambil tersenyum samar.


"Sangat tampan." pekik Lidya di dalam hatinya ketika melihat ekspresi Raka yang sangat mempesona di matanya itu.


Ingin sekali Nurul mencubit pinggang Lidya yang hanya terdiam kaku di sampingnya, sambil menatap Raka tanpa mengedipkan matanya walau hanya sekali saja.

__ADS_1


Sesaat, Nurul mengumpulkan keberaniannya. "Maaf Pak sebenarnya kami ingin menemui Bapak, ada hal yang ingin kami bicarakan." ucapnya dengan satu nafas.


"Hal yang ingin dibicarakan?" tanyanya di dalam hati. "Masuklah!" ucapnya kemudian.


"Ekh... Itu sebaiknya di teras saja Pak." ucap Nurul dengan sangat hati-hati.


Tanpa banyak bertanya lagi Raka langsung duduk di salah satu kursi kayu yang terbuat dari kayu jati yang berada di teras, saat itu kursi yang tersedia berjumlah empat buah dengan sebuah meja bundar di tengahnya. "Duduklah!" ucap Raka kemudian.


"I.. Iya Pak." jawab Nurul kemudian menarik lengan Lidya yang masih terdiam mematung di tempatnya.


"Apa yang ingin kalian bicarakan?" tanyanya setelah keduanya sudah berada di tempat masing-masing. "Sepertinya sangat penting."


"Iya Pak, sebenarnya kami ingin meminta bantuan Bapak"


"Bantuan?"


"Iya, apakah Bapak bisa menjadi MC pada kegiatan pelantikan Pengurus OSIS nanti?"


"Kapan acaranya?"


"Lusa Pak."


Senyum sumringah pun menghiasi wajah Nurul. "Terima kasih Pak."


"Hmmm."


"Kalau begitu kami permisi dulu, assalamualaikum...."


"Waalaikumussalam."


Tak ada satu suara lagi yang keluar dari mulut Lidya sampai tujuan kedatangan mereka terwujud. Bahkan selama dalam perjalanan pulang Lidya menyedekapkan kedua tangannya sambil menepuk-nepuk pelan dan menggoyang-goyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Tak lupa ia menyunggingkan senyumnya.


Nurul hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Lidya yang sangat aneh itu.


"Kasmaran sih kasmaran tapi jangan berlebihan juga." celoteh Nurul saking gregetnya melihat tingkah Lidya.


"Hmm, ternyata Lidya langsung menjadi seorang gadis kecil yang penurut jika berhadapan dengan Raka." ketika ia mengingat saat mereka berada di rumah Rendi barusan.

__ADS_1


Kemudian ia menepuk jidatnya sendiri. "Astaga... Jika memang seperti itu, mulai sekarang aku harus membatasi kedekatan mereka, jangan sampai Lidya kebablasan nantinya." ucapnya karena ia tidak ingin sahabatnya itu jatuh ke jurang dosa yang hanya akan meninggalkan sebuah penyesalan yang sia-sia.


Bagaimana pun mereka adalah Gadis remaja yang baru saja mengenal cinta, takutnya akan sulit untuk mengendalikan diri.


Memang cinta itu adalah anugerah dari yang Maha Kuasa, tapi syetan menjadikan anugerah itu sebagai jalan untuk menjebak kita melakukan perbuatan dosa.


Ya, cinta itu memang indah. Tapi... Keindahan itu akan menjadi barokah jika berada di saat yang tepat, dan akan menjadi tumpukan dosa ketika kita mudah diperdaya oleh cinta itu sendiri.


Sebagai sahabat, Nurul tidak mungkin membiarkan hal itu terjadi.


"Untung saja waktu di Perpustakaan tidak terjadi apa-apa." sambungnya , "Aku harus memastikannya lagi." ucap Nurul sambil menatap ke arah Lidya dengan tatapan yang penuh arti.


Tatapan yang menunjukkan rasa kepeduliannya terhadap sahabatnua itu.


Lidya yang terus larut dalam kekagumannya itu tidak terlalu mendengar jelas celotehan dan gumaman Nurul yang berada di sampingnya. Ia hanya sibuk dengan segala fantasinya sendiri.


Sementara itu di sisi yang lain, tak lama setelah kepergian mereka, Rendi keluar dari tempat persembunyiannya.


"Rendi?!"


.


.


.


.


Jangan lupa


Like


Koment


Vote


Dan hadiahnya ya....

__ADS_1


Happy reading...


__ADS_2