Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Pesan Papa


__ADS_3

"Jangan Pa, itu_"


Byurrrr....


Pak Tomo langsung menyemburkan sirup cocopandan yang sengaja diberikan garam oleh Adit untuk mengerjai Lidya.


Hi hi hi... Kasihan pak Tomo.


Setelah mengajak Lidya untuk masuk ke dalam rumah, Adit bersikap sangat manis. Ia berinisiatif membuat segelas sirup coco pandan untuk Lidya. Tak lupa ia bubuhi garam agar virus cinta yang sedang diderita Kakaknya itu segera sembuh.


Siapa sangka justru ayahnya yang meneguk minuman tersebut.


Flashback on.


Setelah kepergian Adit, pak Tomo memasuki rumahnya untuk memberikan kejutan kepada Lidya.


Ia baru saja membelikan sebuah laptop untuk Lidya yang sudah dijanjikannya beberapa hari lalu.


Dengan sinar mata yang berbinar, Lidya menerima pemberian dari Ayahnya itu.


Cup


Sebuah ciuman mendarat di pipi Ayahnya. "Terima kasih Pa..." Ucapnya kemudian


klik


Klik


Klik


Tak


Tak


Tak


Kini ruangan itu pun diisi oleh suara ketikan keyboard dan mouse dari Lidya. Ia langsung mempraktekkan ilmu yang sudah diperolehnya dari Raka.


Sementara Ayahnya hanya melihat ekspresi anaknya yang sangat senang dan antusias tersebut.


Tak lama kemudian, datanglah Adit dengan membawakan segelas jus di tangannya.

__ADS_1


Syuuut


Ayahnya langsung menyambar segelas sirup yang dibawa Adit kemudian langsung meminumnya, karena sedari tadi pak Tomo menahan rasa hausnya.


"Ck ck, salah sasaran." Gumam Adit di dalam hatinya.


Flashback off


"Ma... maaf Pa, sebenarnya itu_"


"Kenapa Pa?" Sela Lidya


"Sepertinya ada yang aneh dari sirup ini, rasanya tidak seperti biasanya." ucap pak Tomo dengan polosnya


"Apa yang kamu lakukan Dit?" Tanya Lidya dengan tatapan penuh telisik. Seakan-akan ia ingin mencengkram wajah Adiknya itu.


"Am... ampun Kak, aku nggak sengaja." Ucap Adit sambil berlari menuju ke kamarnya kemudian mengunci pintu rapat-rapat.


"Adit, awas kamu ya..." teriak Lidya mengiringi kepergian adiknya itu sambil mengepalkan tinjunya.


Tak puas ia berteriak, ia segera berdiri untuk dan bergegas untuk mendobrak pintu kamar Adit.


Sebagai orang tua, ia tidak ingin melihat kedua anaknya bertengkar hanya karena masalah yang sepeleh.


"Duduklah," perintah pak Tomo dengan suara yang merendah, membuat hati Lidya merasakan keteduhan dari suara itu.


Tak lama kemudian Lidya duduk kembali di samping pak Tomo dan menghembuskan nafasnya dengan kasar untuk menumpahkan kekesalannya.


"Apa yang sedang kamu lakukan dengan laptopmu sedari tadi Nak?" tanya pak Tomo mengalihkan pembicaraan ketika melihat ke layar laptop yang berisikan nama mereka bertiga yang sudah diedit menggunakan aplikasi wordart sama persis seperti yang di ajarkan Raka di Perpustakaan tadi siang.


"Oh iya, bagaimana menurut bapak?" tanya Lidya setelah memiringkan laptopnya ke arah pak Tomo.


"Bagus, dari mana kamu belajar tentang semua ini?"


"Dari Pak Raka Pa," jawab Lidya dengan santainya.


Seketika wajah pak Tomo langsung berubah. "Raka?" tanyanya lagi untuk memastikan.


"Iya, si killer itu lho pa."


"Bagaimana bisa?" kini suara pak Tomo naik satu oktaf lebih tinggi.

__ADS_1


"Maaf pa..." ucap Lidya dengan menundukkan kepalanya. "Sebenarnya baru beberapa hari yang lalu kami kursus, nggak hanya aku saja kok. Nurul sama Ani juga di ajarin." sambung Lidya dengan memasang wajah bersalahnya. Ia lupa mengatakan hal itu kepada Ayahnya. Ia khilaf sejak pertama kali bertemu dengan laptop, sampai-sampai ia melupakan hal sepenting itu.


"Hmm, lebih tepatnya aku yang ngajarin mereka pa.. " sambung Lidya di dalam hatinya.


"Apakah ini cara Raka untuk mendekati Anakku?" gumam pak Tomo di dalam hatinya.


Melihat reaksi Ayahnya yang hanya diam saja, akhirnya Lidya menyambung ucapannya. "Ekh, Papa jangan mikirin macam-macam, itu adalah hadiah buat kami karena kami sudah membantunya untuk meramaikan Perpustakaan kembali."


"Oh..." jawab pak Tomo acuh. Ia tidak sepenuhnya mempercayai penjelasan Lidya yang menurutnya tidak masuk akal. Ia bukankan Raka memberi perlakuan khusus kepada anaknya.


"Sampai kapan kalian akan kursus komputer dengannya?" tanya pak Tomo dingin.


"Belum tahu Pa, kursus gratisnya baru beberapa hari ini kok, he he he" jawab Lidya sambil terkekeh kecil untuk mencairkan suasana yang terasa kaku.


Dan...


Usahanya berhasil, karena kini tangan kekar ayahnya itu tengah membelai kepalanya yang masih tertutup kerudung. "Belajar yang baik Nak, jangan dulu mikirin yang macam-macam, apalagi pacaran." pesan pak Tomo kepada Lidya dengan tatapan yang penuh kasih sayang dan harapan.


"Ingat baik-baik pesan Papa." sambungnya kemudian dengan nada yang lebih menekankan.


"Iya Pa..."


"Hmm, Papa mau ke belakang dulu."


"Iya Pa."


"Kamu udah makan Nak?"


"Belum Pa"


"Beresin dulu laptopnya terus susul Papa di meja makan."


"Baik Pa."


Lidya tak bisa mengatakan hal yang lain lagi, karena ia merasa jika Ayahnya baru saja menggantungkan sebuah harapan yang menurutnya sangat berat untuk dipikul sendirian.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2