
Selama dalam perjalanan, tidak ada pembicaraan di antara mereka. Mereka sama-sama hanya bergumam di dalam hati masing-masing.
"Ada apa dengannya? Perasaan, tadi baik-baik saja? Mengapa ia tiba-tiba sikapnya berubah sedingin es lagi?" gumam Lidya di dalam hatinya.
"Dasar cewek yang ceroboh! Bisa-bisanya ninggalin aku sendirian, gimana kalau punya anak kecil nanti? Apa mungkin dia akan menjadi sosok ibu yang baik ke depannya?" gumam Raka sambil membayangkan kehidupan rumah tangga mereka yang sudah memiliki seorang anak kecil yang imut, dimana dalam bayangannya itu Lidya hanya tidur di lantai dan membiarkan anak mereka bermain kesana-kemari tanpa pengawasan darinya.
Memikirkan kehidupan rumah tangga mereka di kemudian hari membuat Raka frustasi sendiri.
Lain halnya dengan mereka, Ari sudah tidak sabar lagi melihat reaksi dari maminya saat ia mengenalkan Nurul. Selain itu ia juga ingin melihat bagaimana tanggapan Nurul terhadap seorang wanita yang telah merawatnya sedari kecil sampai saat ini.
Sementara Nurul yang tidak tahu menahu tentang rencana Ari tersebut, hanya sibuk menahan rasa lapar yang sedang menyerang lambungnya. Ia takut jika penyakit maghnya kambuh karena terlalu lama menunda waktu makan malamnya.
Sekitar 20 menit perjalanan mereka hingga akhirnya mereka sampai di restoran Xxxx, Ari pun memarkirkan mobilnya di tempat parkir dan mereka turun dari mobil.
Raka dan Lidya sama-sama gengsi dan memilih untuk saling mengacuhkan satu sama lain, sementara Ari dan Nurul terlihat sangat mesra bejalan beriringan.
Posisi mereka membentuk sebuah saff dimana Raka berada di samping Ari dan Lidya berada di samping Nurul. Itu artinya Rak dan Lidya mengapit keduanya sehingga sangat memungkinkan bagi Ari dan Nurul untuk bergesekan tangan.
Jika memang dibolehkan, Ari ingin menggenggam tangan Nurul selama dalam perjalanan tersebut. Namun ia mengurungkan niatnya karena ia menghargai Nurul, dengan sesekali bergesekan tangan tersebut mambuat Nurul menjadi salah tingkah ia merasa gugup sendiri. Ia hanya merangkul lengan Lidya untuk menormalkan detak jantungnya.
Sementara Lidya yang masih bingung dengan sikap Raka yang berubah kepadanya itu, hanya sesekali mencuri lihat ke arahnya dengan berpura-pura untuk menanyakan sesuatu kepada Nurul.
Raka pun demikian, sampai suatu ketika kedua netra mereka bertemu dan saling menatap dalam selang waktu beberapa detik. Kemudian salah satu di antara mereka memalingkan wajah ke arah yang lainnya.
Seperti itulah interaksi di antara mereka berempat.
Tak lama kemudian, mereka sampai di tempat yang dimaksud. Mereka pun duduk di kursi yang telah disiapkan, mereka memilih tempat yang berada di sudut ruangan dimana ada sebuah meja bundar berukuran besar yang dilengkapi empat buah kursi di sekalilingnya.
Dengan posisi itu, Raka dan Lidya tidak bisa untuk saling menghindar lagi. Karena mereka tidak mungkin memilih tempat di antara Nurul dan ari kan ....
__ADS_1
Dengan wajah jutek vs wajah dingin dari keduanya, mereka pun terpaksa duduk bersebelahan dan saling membuang muka satu sama lain.
Melihat hai itu, Nurul dan Ari hanya tersenyum samar dan saling melempar pandangan satu sama lain.
Tak lama kemudian seorang pelayan datang menghampiri mereka dan memberikan buku menu kepada mereka.
Setelah menerima dan membuka buku menu tersebut, tampaklah wajah kebingungan di wajah mereka berdua. Nama dan tampilan yang cukup rumit itu berhasil membuat wajah mereka berkerut seperti menahan sembelit.
Dan hal itu berhasil membuat Raka tersenyum samar, kemudian ia bergumam di dalam hatinya "Pasti mereka bingung mau memesan makanan yang mana, wk-wk-wk."
Kebingungan mereka juga tidak lepas dari perhatian Ari, ia pun bertanya, "Kalian mau pesan makanan yang mana Nurul, Lidya?" sambil mengedarkan pandangannya kepada mereka berdua secara bergantian.
Mereka pun saling menatap, "Eum, kami masih bingung mau pilih yang mana," jawab Lidya. "Ya, sebaiknya Kakak yang memesannya saja, kami tidak terlalu pemilih kok." sambung Nurul.
"Ekhem-ekhem!"
Raka pun berdehem cukup nyaring untuk mencari perhatian mereka, ia merasa bahwa suaranya tidak dibutuhkan lagi.
"Paman?" gumam Lidya di dalam hatinya, ia sedikit terkejut dengan kata itu. Ia pun melempar pandangannya ke arah Nurul dan menautkan kedua alisnya sebagai tanda bahwa ia butuh penjelasan darinya.
Nurul yang mengerti ekspresi tersebut hanya menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya untuk mengisyaratkan bahwa ia akan menjelaskannya tapi nanti bukan di tempat ini karena situasi dan kondisinya yang kurang pas.
Di tengah percakapan melalui kode antara Nurul dan Lidya, Raka pun memberikan sarannya, "Pizza full toping ukuran jumbo sepertinya cukup untuk kita berempat, dan_"
"Yang ini juga ya..." Sela Lidya sambil menunjuk minuman Coca cola di buku menu tersebut.
"Dan ini!" tambah Nurul sambil menunjuk minuman coklat hangat yang berada di buku menunya.
Ari hanya mengiyakan permintaan mereka dengan mengulas senyuman di wajahnya, ia pun memanggil pelayan dan memesan makanan mereka.
__ADS_1
Sambil menunggu pesanan, Nurul menuju ke toilet karena ia merasa perutnya semakin tidak enak saja.
Lidya pun berniat untuk menemani Nurul, namun di cegah olehnya karena ia tidak ingin selalu merepotkan sahabatnya itu. "Aku bisa sendiri kok." tolaknya sambil tersenyum manis sebagai tanda bahwa ia tidak apa-apa, meskipun sebenarnya ia tengah menahan rasa sakit di perutnya. Ia pun meninggalkan mereka bertiga dan menuju ke toilet yang tidak jauh dari tempat mereka tersebut.
Saat sampai di dalam toilet, keringat dingin membasahi kening dan dahinya, ia pun menuju ke wastafel dan mencuci wajahnya yang sudah dibasahi keringat tersebut. "Sepertinya Maghku sudah kambuh." gumamnya sambil melihat ke arah cermin yang berada di hadapannya kemudian mengusap wajahnya yang basah tersebut.
Kreet
Tak lama kemudian terdengar suara pintu yang terbuka dan tampaklah seorang wanita paruh baya yang lengkap dengan pakaian casual dan bermerek mendekatinya.
Nurul yang sedari tadi memperhatikan kedatangan wanita paruh baya tersebut mengulas senyum ramahnya ketika wanita itu melihat ke arahnya. "Gadis yang manis dan cantik alami," gumam wanita paruh baya tersebut. Ia sempat terpesona melihat gadis berlesung pipi itu tersenyum ke arahnya.
Wanita paruh baya pun melangkah ke wastafel yang berada di samping Nurul dan menyapa, "Gadis yang manis siapa namamu?" sambil memegang bahu Nurul lembut , entah mengapa ia merasa langsung akrab dengan seorang gadis yang baru saja ia temui itu. Tak hanya itu, ia merasa ada kecocokan di antara mereka. Baru kali ini ia merasakan hal tersebut kepada orang asing yang baru saja ia temui.
Nurul pun merasakan bahwa wanita paruh baya yang kini memegang bahunya itu adalah orang yang baik, ia tidak merasakan adanya ancaman dari tatapan yang diberikan wanita paruh baya itu terhadapnya. Tatapannya memiliki arti yang sangat dalam, tapi entah apa arti dari tatapan itu. Ia masih sulit menggambarkannya.
"Nama saya Nurul, Bu." jawabnya ramah.
"Panggil Mami saja sayang," ucap mami Elfi sambil mengusap wajah Nurul dengan tangan kanannya, ia tidak tahan jika tidak menyentuh wajah Nurul yang begitu meneduhkan baginya. Ya, seperti ada setitik cahaya yang bersembunyi di balik wajah manisnya itu.
"Ekh," Nurul merasa sedikit enggan dengan perlakuan mami Elfi kepadanya. Bagaimanapun mereka hanyalah orang asing yang baru saja bertemu. "Maaf Bu, ekh Mami ..." ucap Nurul dengan raut wajah kebingungan dan kaget.
"Elfi," sambungnya memperkenalkan diri.
"Ya, saya permisi dulu. Takutnya teman saya kelamaan menunggu saya." Masih dengan kebingungannya ia meninggalkan wanita paruh baya itu dengan sesekali menengok ke arah belakang di mana mami Elfi mengiringi kepergiannya dengan tatapan yang penuh arti
.
.
__ADS_1
.