Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Hukuman untuk Friska


__ADS_3

"Ada apa Lidya?" tanya Nurul setelah duduk di sampingnya.


Baru saja Lidya ingin menjawab pertanyaan Nurul, tiba-tiba bel tanda masuk pun berbunyi, dan Author berinisiatif untuk membantu Lidya menjawab pertanyaan Nurul.


Flashback on


Setelah kepergian Nurul dan Ani, Raka mendekati Lidya yang tengah menahan kekesalan kepada kedua sahabatnya yang baru saja melarikan diri.


"Lidya, ada yang ingin aku sampaikan."


"Ekh, iya Pak, ada apa?" jawab Lidya sambil tersenyum kikuk.


"Tentang Friska."


"Owh...," seketika wajahnya langsung berubah menunjukkan ekspresi yang kurang senang. Dengan nada cetus ia bertanya, "memangnya dia kenapa?"


Raka hanya menhela nafasnya kasar menanggapi perunahan ekspresi dari lawan bicaranya. "Apakah masalah kalian tidak bisa diakhiri dengan sebuah perdamaian?"


"Tidak semudah itu Pak," jawab Lidya dengan cepat dan nada yang penuh penekanan.


Raka berusaha bersabar menahan emosinya untuk menghadapi sikap keras kepala Lidya yang sedang kambuh itu. "Lalu, apa mau kamu Lidya?"


"Aku hanya ingin memberikan efek jera kok." jawabnya dengan nada yang cetus.


Lagi-lagi Raka harus bersabar, "Efek jera yang seperti apa maksud kamu Lidya?"


"Seperti di keluarkan dari sekolah ini, bagaimanapun kasusnya yang terakhir sangat fatal. Jika hari itu Nurul tidak menguping pembicaraan mereka, kegiatan kemarin akan gagal total.


"Bukan hanya itu saja, selama dia berada di sekolah ini, adik-adik kelas dan teman-teman lainnya merasa tidak nyaman selama ia masih berada di sini.


"Bagaimana mungkin kita mengabaikan perasaan orang banyak untuk menghargai seseorang yang jelas-jelas melakukan kesalahan."


"Ternyata dia bisa berfikir sedewasa itu," gumam Raka di dalam hatinya.


"Baiklah, kalau memang seperti itu kasus kalian sebaiknya diserahkan kepada kepala sekolah." tambah Raka yang tidak ingin sarannya kali ini ditolak.


"Ok. Aku setuju."


"Dan, saat ini Kepala Sekolah sudah menunggumu di ruangannya."


"Siapa takut."


"Dasar gadis angkuh," umpat Raka ketika jarak mereka sudah cukup jauh.

__ADS_1


Setelah sampai di depan ruangan Kepala Sekolah, Lidya mengetuk pintu dan mengucapkan salam meskipun saat itu pintu ruangan telah terbuka.


Dengan penuh percaya diri Lidya melangkahkan kakinya memasuki ruang tersebut dimana hanya ada Kepala Sekolah, Friska dan dirinya saja.


"Ada apa Pak?"


"Duduk dulu Lidya."


"Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian?" tanya Kepala Sekolah memulai pokok pembicaraan.


Tanpa ragu Lidya langsung menjawab dengan jujur sambil menunjuk ke arah Friska. "Dia telah mencuri flash disk yang akan digunakan untuk kegiatan pisah sambut kemarin Pak."


"Apa itu benar Friska?" tanya Kepala Sekolah dengan ada yang masih biasa-biasa saja.


"I... iya pak, sebenarnya saya sudah minta maaf tapi_"


"Bukan hanya itu saja Pak," sela Lidya. "Dia ingin menjadikan orang lain sebagai Kambing Hitam dari perbuatannya."


Friska tak berkutik lagi, ia semakin tertunduk takut.


Raut wajah Kepala Sekolah tampak marah, "Friska, apakah kamu ingin mengatakan sesuatu?"


"Maaf Pak saya akui saya telah melakukan kesalahan yang fatal, tapi saya tidak ingin dikeluarkan dari sekolah ini."


"Hal-hal apa saja yang telah dia lakukan kepada siswa-siswa yang lain."


"Dia sering memeras mereka, mengambil sesuatu yang bukan haknya, membuly dan mengancam adik-adik kelas dan masih banyak lagi."


Mendengar hal itu, Bapak Kepala Sekolah menjadi semakin geram. Kemudian ia berdiri dari duduknya dan mendekati Friska yang sedang ketakutan.


"Lalu, hukuman apa yang pantas Lidya?"


"Dia harus dikeluarkan dari sekolah ini." kemudian tersenyum licik.


"Hmmm, usul yang sangat bagus."


Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari belakang mereka.


"Untuk apa pak Raka datang ke ruangan ini?" gumam Lidya di dalam hatinya.


"Maaf Pak, bolehkah saya masuk?"


"Ada apa Raka?"

__ADS_1


"Saya hanya ingin memberikan sebuah saran tentang masalah Lidya dan Friska."


"Saran apa?"


"Menurut saya, mungkin sebaiknya Friska membuat surat pernyataan bahwa dia tidak akan melakukan hal-hal yang sudah dia lakukan sebelumnya."


"Maaf Pak, saya tidak setuju." protes Lidya


Raka mengabaikan kata protes dari Lidya kemudian ia meneruskan kalimatnya, "Dalam surat perjanjian itu harus ada tanda tangan dan pengakuan dari kedua orang tuanya bahwa mereka akan mengawasi dan bersedia menerima sangsi yang tegas jika Friska melanggar janjinya."


"Tapi_"


"Sepertinya ide kamu cukup bagus Raka," sela Kepala Sekolah.


"Akh... Kenapa juga si Killer ini tiba-tiba datang dan membela Friska?


Kalau ujung-ujungnya seperti ini, mending aku langsung pulang saja." celoteh Lidya di dalam hatinya sambil mengerucutkan bibirnya ke depan.


Dengan gaya cueknya, Lidya mengayunkan kakinya untuk keluar dari ruangan tersebut. Ia sangat kecewa dengan keputusan Kepala Sekolah yang menurutnya tidak konsisten tersebut.


Lain halnya dengannya, Friska justru merasa lega. Walaupun nantinya ia akan di ceramahi oleh kedua orang tuanya, itu masih lebih baik daripada harus dikeluarkan dari sekolah itu.


Tak lama kemudian Kepala sekolah menyuruh Friska untuk segera pulang ke rumahnya dan menyerahkan sebuah undangan yang sudah dipersiapkan sebelumnya.


Setelah cukup aman, Raka dan bapak Kepala Sekolah berjabat tangan kemudian saling tos karena telah berhasil menjalankan misi mereka.


Sebenarnya, rencana tersebut sudah disusun oleh Raka ketika ia pergi ke ruang Guru saat istirahat. Idenya tersebut disetujui oleh bapak Kepala Sekolah, mereka berharap Friska akan berubah lebih baik lagi.


Jika dia langsung dikeluarkan, kelakuan yang sama akan dia lakukan di sekolah barunya kelak.


Flashback off.


"Oh..., jadi begitu?" ucap Ani setelah mendengar penjelasan dari Lidya setelah mereka menghabiskan bekal makanan mereka.


"Mudah-mudahan saja Friska akan berubah."


Dengan berat hati, Lidya harus menelan kenyataan pahit bahwa Friska tidak jadi dikeluarkan dari sekolah.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2