
"Apa kami juga sudah bisa pulang sekarang?" tanya Nurul dengan sangat hati-hati
"Uummm... Nurul, sebenarnya aku ingin minta tolong kepada kalian."
"Minta tolong?"
"Ya."
"Apa yang bisa kami bantu?" tanya Nurul bingung.
Nurul dan Ani saling bertatapan dan mengangkat bahu mereka.
"Ada yang aneh." itulah yang ada di dalam hati mereka
"Heehh..." menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Aku butuh bantuan kalian untuk meramaikan Perpustakaan kembali." ucap Raka
"Sedari dulu perpustakaan ini memang ramai, namun semenjak kedatangan Bapak, sehingga menjadikan tempat ini terasa sangat menyedihkan." batin Ani
Ingin sekali ia mengutarakan isi hatinya, hanya saja ia takut kalau nanti ujung-ujungnya akan berakhir dengan sebuah hukuman lagi.
"Mungkin ini kesempatan yang bagus agar kami bisa kembali di Basecamp." gumam Nurul di dalam hatinya.
"Baiklah, kami bersedia." ucap Nurul dengan mantap.
Ani sangat kaget dengan keputusan Nurul. Kemudian menarik-narik lengan Nurul sebagai tanda ia tidak menyetujui keputusan Nurul.
"Aku akan menjelaskannya nanti." bisik Nurul.
Akhirnya Ani menganggukkan kepalanya.
"Sebelumnya aku sangat berterima kasih Nurul." ucap Raka dengan tulus
"Sama-sama Pak," jawab Nurul. "Tapi... Apa yang akan kita dapatkan jika kita berhasil? Tanya Nurul sangat hati-hati.
Ia takut jika pertanyaan itu akan membuat amarah Raka meledak lagi, dan merusak suasana yang sudah lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
"Uumm..." sambil berfikir. "Aku akan mengajari kalian menggunakan laptop ini." jawabnya dengan tulus.
"Benarkah..." ucap Ani sedikit kaget.
"Aku sangat setuju." Ucap Nurul dengan sinar mata yang sudah berbinar.
Bagaimana pun itu adalah sesuatu yang sangat menggiurkan, apalagi di desa mereka saat itu Laptop adalah sebuah benda yang limited edition.
"Akh... Bangganya jika kita bisa mengusai laptop itu." itulah yang ada di pikiran mereka.
Melihat ekspresi Nurul dan Ani, membuat Raka mengembangkan senyum mautnya, sebuah senyuman yang akan membuat setiap Gadis menjadi tersihir dengan senyumannya.
"Sangat tampan" itulah yang bisa digumamkan Nurul dan Ani di dalam hati mereka.
"Ya, walaupun tidak sebanding dengan senyum tulus kak Ari." Gumam Nurul merindukan sosok pangeran tampan yang telah mengisi relung hatinya.
"Akh... Senyumnya membuatku merindukan senyum manis dari Kak Rendi." pekik Ani di dalam hatinya.
"Besok, setelah istirahat kalian harus datang ke sini agar kita bisa mendiskusikannya lebih lanjut."
"Iya Pak, kami akan memberitahukannya kepada Lidya." ucap Nurul setengah kaget.
"Ya, itu pun jika Lidya bersedia menemuiku lagi." gumam Raka di dalam hatinya.
"Hmmm." jawab Raka singkat.
"Apa kami sudah bisa pulang sekarang? Tanya Ani memberanikan diri.
"Apa tugas kalian sudah selesai?"
"Akh... Ternyata Dia masih mengingatnya." celoteh Ani di dalam hatinya
"Orang yang sangat perfeksionis."
"Untung saja aku sudah mengantisipasinya." guman Nurul di dalam hatinya.
__ADS_1
"Sudah Pak." jawab Nurul dengan mantap.
"Baiklah, kita pulang saja sekarang." ucap Raka kemudian.
"Akhirnya... Bisa lepas juga dari si Killer ini."
"Ayo An," sambil menggandeng tangan Ani.
"Kalian berdua mau jalan kaki?" tanya Raka
"Tentu saja," jawab Nurul
"Memangnya kenapa, kami sudah terbiasa."
"Baiklah."
Raka memutuskan untuk tidak mengendarai motornya dan lebih memilih untuk mendorong motornya.
Kemudian berjalan bersama Nurul dan Ani.
"Ternyata Dia baik juga," gumam Nurul.
"Sepertinya begitu." bisik Ani.
Selama dalam perjalanan terasa sangat canggung, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Raka. Ia sedang memikirkan Lidya.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalin jejak kalian ya... Readers.
__ADS_1
Happy reading...