
Malam hari
Mereka sholat seperti biasa, mengaji seperti biasanya sambil menunggu waktu Isya.
Yang berbeda hanyalah Rendi, ia yang biasanya akan pura-pura membaca buku di tempat yang sedikit jauh dari mereka hanya untuk mencuri lihat ke arah Nurul, kini ia sudah tidak melakukan hal itu lagi. Ia lebih memilih untuk menemani Raka duduk di teras Mesjid sambil menunggu waktu Isya tiba.
Hal itu sengaja ia lakukan untuk menghindar dari Nurul dan Ani. Ya, semenjak mendapat tausiyah dari Raka, ia memutuskan untuk menjauh dari mereka agar tidak akan ada hati yang tersakiti lagi.
Ia lebih memilih menekan rasa egoisnya untuk terus mendekati Nurul. Toh usia mereka masih muda kan... Masih banyak kesempatan yang lainnya. Walau pun mereka tidak berjodoh, setidaknya tidak akan ada hati yang akan terluka karena keegoisannya.
Ya, itulah yang membuat ia memilih untuk mundur dari keduanya. Memilih untuk menganalisis perasaannya sendiri.
Apakah ia benar-benar jatuh cinta dengan Nurul atau hanya sekedar obsesi saja. Ia yakin, suatu hari nanti semuanya akan terjawab.
Jujur saja, selama ini ia juga merasa nyaman jika bercanda gurau dengan Ani, dan merasa kehilangan setelah perubahan sikap Ani beberapa hari ini.
Dan...
Ia memutuskan untuk menyimpan buku Diary Ani di tempat khusus yang tidak mudah ditemukan oleh orang lain, termasuk Bundanya, apalagi Raka.
Ia akan mengembalikannya jika situasinya sudah pas. Ya, suatu hari nanti yang siapa pun tidak akan tahu kapan hari itu akan tiba.
Termasuk Author lho, salut buat Rendi. He he he...
Raka yang sedari tadi sudah duduk di teras Mesjid hanya tersenyum tipis menyambut kedatangan Rendi dan bergumam, "Sepertinya Rendi sudah membuat pilihan yang bijak."
Sementara itu di sisi yang lain, Ani merasakan perubahan sikap Rendi, ia merasa sangat sedih, tapi...
"Bukankah ini tujuanku menjauhinya?"
"Seharusnya aku senang kan..."
"Tapi, mengapa aku merasa sesedih ini?"
__ADS_1
Tanyanya di dalam hati ketika melihat Rendi tidak berada di tempat yang biasanya.
"Ani, ini keputusan yang sudah kamu Ambil dan kamu harus tetap kepada pendirianmu." Bisiknya di dalam hati untuk menguatkan dan menghibur dirinya sendiri.
Tak lama kemudian adzan Isya berkumandang.
Mereka kembali bersiap-siap untuk melaksanakan sholat.
10 menit kemudian seluruh jamaah keluar dari mesjid karena mereka sudah selesai menunaikan sholat.
Dari mereka berlima, tidak ada satu pun yang berani menyapa satu sama lain. Hal itu mereka lakukan agar tidak akan ada lagi kejadian seperti kemarin malam.
Mereka bersikap acuh dan saling mengacuhkan. Situasi ini lebih baik dari pada situasi kemarin malam.
Nurul, Lidya dan Ani memilih untuk berjalan paling belakang agar jarak mereka dengan Rendi dan Raka cukup jauh untuk menghindar dari sesuatu yang susah diprediksi nantinya.
*****
Keesokan harinya,
Masing-masing memegang rantang makanan, dengan penuh semangat mereka menuju ke Perpustakaan.
"Assalamu'alaikum Pak." sapa Nurul ketika mereka berada di depan pintu Perpustakaan.
"Waalaikumussalam." jawab Raka sambil menoleh sekilas ke arah mereka.
Akhirnya mereka masuk ke dalam Perpustakaan dan duduk di kursi pojokan yang dulunya menjadi tempat favorit mereka.
Hanya saja suasana kali ini lebih nyaman dan sedikit ramai dari biasanya, karena selain mereka, ada beberapa siswa lagi yang sedang menyusun buku-buku yang baru saja mereka pinjam untuk mengerjakan PR mereka semalam.
"Mengapa Dia masih berada di sini?"
"Apa Dia sengaja menunggu kami?"
__ADS_1
"Astaga... Kenapa aku berfikiran seperti itu?"
Gumamnya di dalam hati lalu menepuk jidatnya pelan.
Raka melihat kelakuan Lidya samar-samar dan bergumam. "Dia sangat lucu, ingin rasanya aku mencubit pipinya itu." kemudian tersenyum tipis dengan tetap menatap ke arah laptop.
Sedangkan Ani dan Nurul merasa sedikit aneh dengan Lidya, kemudian Ani berbisik kepada Nurul. "Apa mungkin virus cintanya sudah kambuh lagi?"
"Mungkin saja. Kita biarkan saja dulu, biar kita tahu kelanjutannya seperti apa."
"Hmmm." jawab Ani sambil menganggukkan kepalanya.
Lidya masih tetap menatap ke arah Raka yang terus sibuk dengan laptopnya itu.
"Haah... Dia bawa bekal makanan juga."
"Apa mungkin Dia ingin makan bersama di ruangan ini?"
"Akh... Bagaimana kalau itu terjadi"
Panik Lidya ketika melihat sebuah rantang makanan berwarna biru dongker yang berada di samping laptop Raka.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian Readers
Nantikan kelanjutannya di bab berikutnya ya....
__ADS_1
Happy reading....