
Di sisi lain, Nurul semakin terkejut dengan pertanyaan Raka.
"Berdua?"
"Akh... Kenapa harus berdua?"
"Apakah yang akan dibicarakan nanti sangat serius?"
"Oh... Mungkinkah...."
"Tapi tidak mungkin kan...."
"Bukankah selama ini Dia hanya memperhatikan Lidya?"
"Akh... Kenapa juga aku harus berpikir seperti itu?"
"Sebaiknya aku tidak menyetujuinya untuk menghindari semua pemikiran yang tidak baik."
"Ya, aku akan menolak permintaannya."
Gumam Nurul di dalam hatinya, setelah ia sempat memikirkan jika Raka menyukainya. Bagaimana tidak, Raka yang terkenal killer dan tertutup itu mengajak seorang gadis untuk berbicara empat mata saja. Tapi ia segera menepis pikirannya itu. Setelah mengambil keputusan, akhirnya ia mengutarakan isi hatinya kepada Raka.
"Maaf Pak, aku tidak ingin orang lain berfikiran yang aneh-aneh jika kita hanya berdua saja." tolak Nurul dengan tegas. Bagaimana pun saat ini mereka berada di lingkungan mesjid, jadi Raka tidak bisa memarahinya jika ada hal yang kurang berkenan baginya.
Mendengar penolakan dari Nurul, akhirnya Raka menyadari kesalahannya. "Benar juga" batin Raka. Sebenarnya ia tidak bermaksud seperti itu, hal itu hanya menjadi kebiasaannya ketika berada di kotanya dulu. Ia lupa jika saat ini ia masih berada di sebuah desa yang masih sangat ketat dengan pergaulan antara laki-laki dan perempuan.
Karena tidak ada respon dari Raka, alhirnya Nurul membuka suaranya lagi. "Apa aku bisa mengajak salah satu dari mereka?" tanya Nurul kemudian
Tanpa basa basi lagi Raka langsung menyetujui usulnya. "Baiklah,"
Setelah mendengar Raka menyetujui usul Nurul, akhirnya mereka semua bisa bernafas lega.
__ADS_1
Raka yang melihat ada perbedaan dari sikap mereka merasa bingung sendiri, dan bergumam di dalam hatinya. "Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan mereka?"
Nurul segera menarik tangan Lidya untuk menemaninya menghadapi si Killer, dan meninggalkan Ani bersama dengan Rendi.
Mungkin sebuah kesalahan ketika mereka meninggalkan Ani bersama Rendi, bagaimana pun hal itu bisa mempengaruhi tekad Ani yang sudah berusaha untuk melupakan Rendi. Tapi tidak mungkin Nurul mengajak Ani bersamanya, karena mereka berdua sama-sama penakut jika berhadapan dengan si Killer. Hanya Lidyalah yang cocok menemani Nurul saat ini. Walau pun sedikit beresiko ketika mereka meninggalkan Ani.
Raka segera menjauh dari tempat itu. Ia berjalan sekitar 7 meter dari tempatnya semula dan hal itu diikuti oleh Nurul dan Lidya dari belakangnya.
"Apa yang ingin Bapak bicarakan?" tanya Nurul setelah jarak mereka kurang dari satu meter.
"Sebenarnya ini tentang Perpustakaan." ucapnya dengan tenang
"Perpustakaan?" tanya Lidya sambil mengernyitkan keningnya karena sedikit terkejut dengan perkataan Raka. Ini sungguh di luar dugaan.
"Iya Perpustakaan." jawabnya dengan nada yang sedikit menekankan.
"Ada apa dengan Perpustakaan?" bingung Nurul.
Setelah merasa lega akhirnya ia segera mengutarakan maksudnya. "Sebenarnya... Setelah mendengar tentang pergantian PO yang baru, aku khawatir dengan nasib Perpustakaan jika kamu sudah lepas dari jabatan itu Nurul." ucapnya sambil menahan rasa malunya jika hal itu akan mendapat cemoohan dari Nurul dan Lidya.
"Oh... Kalau masalah itu Bapak tenang saja, masih ada 1 minggu lagi kan..." jawab Nurul dengan enteng tanpa merendahkan lawan bicaranya.
"Selain itu PO yang baru pasti mempunyai program yang lebih bagus dari saya." sambungnya dengan sebuah senyuman.
"Dan kami tetap akan membantu Bapak kok." tambah Lidya ketika mulai menguasai hatinya yang sedang berteriak "Aku sangat lega mendengarnya."
Nurul melihat ke arah Lidya sekilas dan menyambung ucapannya. "Bagaimana pun Perpustakaan itu adalah Basecamp kami." jawab Nurul dengan hati-hati.
"Hanya saja kami masih sedikit enggan untuk kembali ke Basecamp kami jika Bapak tidak mengizinkannya."
Raka sangat lega mendengarnya, ternyata mereka sangat baik. "Syukurlah kalau begitu, dan aku akan mengizinkan kalian mengunjungi Perpustakaan kapan saja."
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Nurul dengan sinar mata yang sudah berbinar.
"Hmmm"
"Terima kasih Pak." ucap Lidya dengan senyuman manis yang sudah terukir di wajahnya sambil melihat ke arah Nurul dan Raka secara bergantian.
Blush
Menjadikan Raka tidak dapat mengontrol detak jantungnya lagi.
"Akh... Kenapa hal ini terjadi lagi." pekiknya sambil berusaha untuk menetralkan debaran jantungnya saat ini
Sementara itu di sisi yang lain.
.
.
.
.
Akh... Senangnya Author bisa nge Up 3 bab hari ini, dan hal itu karena dukungan kalian lho para Readersku tersayang.
Oh ya, sebelumnya Author minta maaf ya... atas keterlambatan mengenai pengumuman dari penerima hadiah yang Author umumkan beberapa hari lalu.
Hal itu dikarenakan update informasi terbarunya besok.
Jadi...
In syaa Allah Author akan mengumumkan penerima hadiahnya besok ya....
__ADS_1
Happy reading Readers....