
Setengah jam kemudian
Selama dalam perjalanan mengantar Ari, ingin rasanya ia menemani Ari pulang ke kotanya namun sayangnya hal itu tidak mungkin ia lakukan. Ia hanya bisa berharap semoga Ari mendapatkan kehidupan keluarga yang harmonis lagi.
Setelah menempuh perjalanan selama 10 menit mereka sampai di terminal.
"Makasih ya Ren." ucap Ari sambil menepuk bahu Rendi
"Sama-sama Ar"
"Bisa minta tolong nggak Ren" tanya Ari
"Dengan senang hati, selama bisa meringankan rasa gundah gulana he he he..." canda Rendi sambil tertawa terkekeh-kekeh, berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya.
Ari pun hanya bisa menyunggingkan senyumnya. "Kamu bisa aja sebenarnya aku cuma_" ucapannya terhenti karena kedua netranya menangkap sosok gadis yang sangat dikenalnya, ya siapa lagi kalau bukan Nurul.
"Mau nitip salam ya_" dengan gerakan cepat tangan Ari menutup mulut Rendi.
Nurul pun muncul dari belakang Rendi. "Nitip salam sama siapa Kak?" sela Nurul yang sempat mendengar perkataan Rendi.
"Salam sayang untukmu Nurul" bisik Ari di dalam hatinya.
"Eh Nurul, kamu sendirian aja?" tanya Rendi mengalihkan pembicaraan.
"Iya" sambil turun dari sepedanya. "Ini ada titipan dari Umi dan Abah." ucap Nurul kemudian menyerahkan sebuah dus ukuran sedang.
"Wah... udah ngerepotin Nurul" ucap Ari dengan enggan, kemudian mengambil dus yang terisi buah-buahan ( Mangga, Jeruk dan Manggis ).
"Nggak kok, kebetulan kemarin Abah lagi panen buah jadi sekalian aja buat kak Ari."
"Ehem... ehem... buat calon mertua tuh..." canda Rendi walau pun sebenarnya ada perasaan cemburu melihat mereka.
"Jangan didengarin Nur, emang Rendi orangnya kayak gitu suka bangat godain orang."
Nurul pun hanya mengangguk dan tersenyum manis sambil berbisik di dalam hatinya. "Iya juga nggak apa-apa Kak."
"5 menit lagi bis dengan tujuan kota A akan berangkat, diharapkan kepada semua calon penumpang untuk segera menempati tempat duduk masing-masing." tiba tiba terdengar suara dari pengeras suara yang berada di terminal.
Sebelum berangkat, Rendi memeluk Ari sebagai tanda perpisahan.
"Jagain Bunda ya... jangan bikin Bunda nangis" ucap Ari dengan tulus.
"Iya Ar jaga dirimu baik-baik kalau ada apa-apa jangan lupa kabarin aku sama Bunda hiks hiks hiks" tanpa ia sadari air matanya menetes begitu saja tanpa permisi.
"Sudah.... sudah... malu tuh dilihatin Nurul. " ucap Ari sambil menepuk pelan punggung Rendi.
"Ternyata kak Rendi bisa nangis juga ya" ucap Nurul untuk mencairkan suasana.
Rendi pun melepaskan pelukannya. "Aku juga manusia Nur, yang punya perasaan, apalagi _"
"Sudahlah Ren, aku baik-baik saja" sela Ari karena ia tidak ingin Rendi menceritakan masalah keluarganya kepada Nurul.
"Terlebih lagi aku sudah menemukan seseorang yang akan aku perjuangkan untuk menjadi pendampingku kelak, tunggu aku Nurul." bisiknya di dalam hati.
"Mengapa kak Rendi sesedih itu, mungkinkah telah terjadi sesuatu yang tidak baik sama kak Ari?" tanya Nurul di dalam hatinya.
Setelah itu Ari masuk ke dalam Bis, ia sangat beruntung karena tempat duduknya berada di samping jendela.
Sebelum Bis menyalakan mesinnya, Ari menggunakan itu untuk menatap wajah Gadis yang sedang tersenyum manis mengiringi keberangkatannya.
"Aku akan terus menyimpan kenangan manis bersamamu di hatiku Nurul."
"Dan menjadikan senyum manismu sebagai penyemangatku untuk menjalani hari-hariku nanti."
"Semoga yang Maha Kuasa akan mempertemukan kita lagi."
Bisik Ari sambil menatap Nurul yang sedang melambai ke arahnya.
Setelah memastikan keberangkatannya, Rendi dan Nurul pun pulang ke rumah masing-masing.
Rendi yang mengendarai sepeda motor hanya menjalankan motornya pelan sehingga beriringan dengan sepeda Nurul.
Di tengah perjalanan keduanya merasa canggung.
Tidak ada percakapan yang terjadi diantara keduanya. Ingin rasanya Nurul menanyakan sesuatu tentang Ari tapi dia merasa ragu, sehingga ia mengingat sesuatu yang belum ia berikan kepada Rendi.
"Oh iya Kak, hampir kelupaan." kemudian turun dari sepedanya, "Ini buat Kakak" sambil menyerahkan sebuah kantong yang berisi buah-buahan.
"Makasih Nur" sambil mengambil kantong buah dari tangan Nurul.
"Sama-sama Kak, kalau gitu aku langsung ke rumah Ani. Assalamu'alaikum"
"Waalaikumussalam"
__ADS_1
*Sementara itu di dalam bis
Para penumpang sudah duduk di tempat masing-masing, semua orang sedang sibuk menata barang bawaan mereka. Dari semua penumpang tampaklah seorang Pria tampan yang sedang kasmaran. Tersenyum-senyum sendiri mengingat semua kenangan tentang pujaan hatinya.
Apakah kamu mempunyai perasaan yang sama Nurul???
Mungkinkah kita akan bertemu lagi??
Itulah pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul di dalam benaknya.
Terima kasih sudah memberikan seminggu yang sangat berkesan.
Setelah lelah dengan segala perasaan gundahnya, kedua netranya mulai terpejam, ia pun tertidur karena perjalanan masih beberapa jam lagi.
****
*Rumah Ani
"Assalamu'alaikum Bunda" sapa Nurul
"Waalaikussalam Nurul" jawab Bunda Anita sambil meletakkan pot bunga yang baru saja diisi bunga ganoderma.
"Waah.... taman bunga Bunda makin cantik aja" ucap Nurul dengan sinar mata yang penuh kekaguman.
"He he he... Siapa dulu dong yang ngerawatnya"
"Bunda gitu lho.... He he he...." sambung Nurul sambil tertawa terkekeh-kekeh
Tak lama kemudian Lidya dan Ani datang.
"Lagi bahas apa nih, kayaknya seru bangat" tanya Lidya sambil berjalan mendekat
"Boleh gabung nggak" sambung Ani
"Boleh dong..." jawab Nurul dan Bunda Anita serempak.
****
Di pekarangan rumah Ani yang ditumbuhi berbagai macam bunga, terdapat 2 buah tempat duduk yang cukup panjang dan terbuat dari bambu, tempat itulah yang kini menjadi tempat favorit mereka ketika berkunjung ke rumah Ani.
Sebuah tempat yang nyaman untuk merelaksasi segala kepenatan atau pun hanya sekedar berbincang-bincang.
"Oh... jadi kamu dari terminal?" ucap Lidya
"He he he .. Maaf soalnya tadi aku buru-buru."
"Emangnya kamu ngapain??"
"Cuma ngasih buah-buahan aja sama kak Ari"
"Benaran?" tanya Lidya dengan tatapan mengintrogasi
"Iya... kalian kenapa sih?" tanya Nurul karena merasa risih dengan tatapan Lidya.
"Apa kamu nggak ngerasa ada yang spesial gitu?"
Nurul pun semakin tak mengerti arah pembicaraan Lidya. "Akh .. Kalian bicara apa sih?"
"Nur... Nur... kamu nggak usah malu sama kita kali." jawab Ani
"Maksud kalian apa?" tanya Nurul semakin bingung.
"Kamu suka kan sama kak Ari?" jawab Lidya
"Udah... jangan pura-pura lagi deh." sambung Ani
"Ummm... Kalau menurut aku kalian cocok kok" tambah Lidya
Nurul pun hanya diam dan menunduk menanggapi pertanyaan dan pernyataan dari kedua sahabatnya itu.
"Tuh... benar kan? kalau diam aja berarti jawabannya iya dong..."
Nurul menghela nafas dan menghembuskan nafasnya dengan kasar, "Sebenarnya... aku juga masih bingung An, Lid, bagaimana pun aku sama kak Ari baru saja ketemu, dan belum tentu kita akan bertemu lagi."
Aku hanya takut jika benih-benih cinta ini akan terus tumbuh dan layu sebelum berkembang, bisik Nurul di dalam hatinya.
"Lagi pula kita kan baru kelas 9 apa bisa cinta-cintaan..." sambung Nurul.
"Eh... jangan salah," bantah Lidya. "Aku saja waktu kelas 7 sudah jatuh cinta sama seseorang." ucapnya dengan bangga.
Ani yang mendengar pengakuan Lidya tertawa terbahak-bahak "Ha .... ha.... ha.... Emang cewek tomboy kayak kamu bisa jatuh cinta??"
"Bisa dong... Walaupun penampilan aku tomboy, tapi hatiku.... sungguh lembut dan penuh cinta..." ucap Lidya sepenuh hati.
__ADS_1
"Iya... iya.." ucap Nurul sambil menahan tawanya karena merasa sangat lucu dengan gaya Lidya.
"Memangnya cowok kayak apa yang mau sama cewek tomboy gini ???" ledek Ani
"Ada deh.... nanti besok aku tunjukkin ke kalian."
Tawa Ani pun semakin pecah mendengar celotehan Lidya "Ha.. ha.... ha... Lid, Lid, kamu pede bangat sih mungkin saja Dia cuma mau main-main sama kamu.
"Sudah An, nggak boleh suudzon gitu." ucap Nurul
"Iya nih.. dari tadi sewot melulu" ucap Lidya
"Habisnya... kamu ceritanya ngawur gitu"
"Emang benar kok, aku nggak ngawur." bentak Lidya
"Ok kalau kamu ngawur, kamu harus traktir aku dan Nurul selama seminggu"
"Nggak boleh kayak gitu An..." sela Nurul
"Ok, aku setuju" Lidya pun tak mau kalah dari Ani
"Hei... Kok jadi gini sih" ucap Nurul menengahi perdebatan kedua sahabatnya. "Mending aku pulang aja deh" rajuk Nurul
"Jangan Nur" cegah Lidya
"Gara-gara kamu nih" sewot Lidya
"Ok kalian bisa berhenti kan.."
"Huuh" sebel Ani sambil menoleh ke samping.
Tak lama kemudian Bunda Anita datang membawa buah mangga yang sudah dikupas dan dipotong menjadi beberapa bagian.
"Makasih Bundaku sayang" ucap Ani sambil mengambil buah.
"Taaak" refleks Bunda Anita memukul punggung tangan Ani "Ih... jorok Nak cuci tangan dulu sana."
Mereka bertiga pun mencuci tangan di kran air yang berada di dekat taman bunga itu.
"Nah... kalau gini kan enak makannya" ucap Bunda sambil tersenyum "Ngomong-ngomong kalian tadi lagi ributin apaan, kayaknya seru bangat?" tanya Bunda Anita
"Oh... Itu Bunda _"
"Lidya punya gebetan waktu kelas 7, ha ha ha...." cerocos Ani sambil tertawa.
Bunda Anita pun menatap dengan tatapan yang mengintrogasi ke arah lidya.
"Eh... Iya Bunda hanya cinta monyet, tapi nggak pacaran kok, cuma naksir aja." jawab Lidya dengan satu nafas karena melihat tatapan Bunda Anita seakan - akan ingin menerkamnya.
"Emang Dia nembak kamu Lid?" tanya Ani penasaran
"Ani... Pokoknya Bunda nggak mau ya... kalau kalian pacaran." ucap Bunda Anita dengan penuh penegasan "Pokoknya apapun alasannya nggak boleh, titik." sambung Bunda Anita dengan nada yang lebih tinggi.
"I.. iya Bunda..." jawab mereka serentak karena melihat Bunda Anita yang sudah marah - marah.
Bunda Anita pun merasa puas setelah mendengar jawaban dari mereka bertiga. "Bagus" ucap Bunda Anita sambil berkacak pinggang.
"Sudah boleh makan kan bun?" tanya Ani mencairkan suasana
"Boleh, tapi nggak boleh ada pembicaraan tentang cowok lagi"
"Makasih Bunda... Bunda baik deh" bujuk Nurul
"Uummm... Manis bangat Bunda..."
"Apanya ?"
"Senyumnya Bunda" goda Lidya
"Kalian ini, mau Bunda cubit ya.."
.
.
.
Jangan lupa like, favorit dan votenya ya....
Karena dukunganmu sangat berarti untukku
Happy reading Readers..
__ADS_1