Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Kesedihan Nurul


__ADS_3

Keesokan harinya, setelah sholat Subuh Lidya mengajak Nurul untuk berlari kecil mengelilingi taman yang mereka kunjungi semalam.


Udaranya cukup sejuk, meski tidak sesejuk udara yang ada di desa mereka. Suasananya pun cukup ramai, banyak orang yang melakukan hal yang sama dengan mereka.


Ada anak-anak, remaja dan orang dewasa bercampur baur di taman tersebut. Adapula beberapa pasangan yang berlari kecil sambil bergandengan tangan.


Hampir satu jam lamanya mereka berlari, kemudian beristirahat di sebuah tempat duduk yang terbuat dari beton dan terletak di tengah taman.


Tak lama kemudian, Lidya meninggalkan Nurul karena ia ingin ke toilet. Ia bertanya kepada orang-orang yang berada di sekitar mereka.


Dalam kesendirian, Nurul memikirkan tentang Ari. Ya, ia sangat rindu dan ingin bertemu walau hanya sebentar saja. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Ari darinya. Ia merasa janggal sejak Ari berusaha untuk menjauhi mereka.


"Jika memang kak Ari masih menyimpan rasa itu, bukankah seharusnya ia menemuiku walau hanya sekedar mengucapkan salam atau selamat atas keberhasilanku?" gumamnya di dalam hati."


Fikirannya hanya berputar-putar tentang Ari. Ia menjadi bingung dalam kesendiriannya, ia tidak fokus dengan situasi yang ada di sekitarnya.


Di antara sadar dan tidak sadar, ia menangkap sosok yang dirindukannya itu bersama seorang gadis cantik, putih, dengan potongan rambut sebahu yang tergerai lurus.

__ADS_1


"Kak Ari?!" Gumamnya tidak percaya lalu menepuk pipinya pelan.


"Aku tidak berkhayal, ini kenyataan!" sambungnya lagi kemudian ia mendekati mereka untuk memastikan kenyataan yang masih sulit diterima oleh akal sehatnya.


Ia pun bersembunyi di balik pohon yang cukup besar dan menjaga jarak dari mereka. "Ya, tidak salah lagi, tapi siapa gadis yang berada di sampingnya itu?"


"Mereka cukup mesra," pedih rasanya melihat sang Pangeran disuapi oleh seorang Gadis yang cantik dan lebih seksi darinya itu.


Ia mencoba menahan air matanya yang sudah menumpuk memaksa untuk keluar. Dengan berat hati ia menyemangati dirinya sendiri, "Aku bukan siapa-siapanya, bahkan pertemuan kita hanya sebentar. Ya, hanya sebentar yang mampu menciptakan sebuah rasa indah yang berbuah masam. Sangat masam, hiks-hiks-hiks.


Tanpa sadar air matanya bercucuran tanpa izin dari sang pemilik, sebuah uluran tangan dari sahabatnya pun tampak di hadapannya, saat ia duduk meringkuk dibalik batang pohon tersebut.


Entah apa yang telah terjadi, ia masih belum bisa menyimpulkan kebenarannya.


Nurul mendongakkan kepalanya melihat ke arah Lidya, matanya dan hidungnya sudah memerah. Ia meraih uluran tangan sahabatnya itu, berdiri dan memeluk sahabatnya serta membenamkan wajahnya untuk menangis sejadi-jadinya dalam diam.


Tak ingin diketahui ataupun dicurigai oleh orang-orang sekitar, Lidya memapah Nurul untuk kembali ke hotel B.

__ADS_1


"Memang, cinta itu terkadang menyakitkan."


Nurul masih sesegukan tanpa suara, Lidya pun melanjutkan ucapannya. "Apakah Gadis yang bersama kak Ari itu adalah Gadis yang kemarin menjebakmu?" tanya Lidya untuk memastikan lagi walaupun sebenarnya ia sudah mengetahui kebenarannya.


Nurul mengangguk samar, kemudian ia berkata, "Sepertinya aku sudah mengerti maksud dari perbuatannya itu."


"Ya, dia cemburu buta, tapi bukan berarti dia bisa seenaknya nyakitin kamu kan...?" protes Lidya, ia merasa tidak senang jika ada salah satu sahabatnya yang menjadi korban dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab seperti Chika.


"Sudahlah, sebaiknya kita menghindar saja, aku tidak ingin masalah ini dibesar-besarkan."


"No, aku tidak setuju Nurul, aku punya sebuah rencana," tolak Lidya sambil menyunggingkan senyum jahatnya.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya Readers...


__ADS_2