
*Perpustakaan
"Sepertinya ada yang tidak sengaja meninggalkan barang kesayangannya di sini" sambil mengambil buku Diary Ani.
"Kita akan bertemu lagi " sambungnya kemudian tersenyum smirk (senyuman licik).
*Malam hari
"Akh... buku Diaryku kok nggak ada di dalam tas sih" ucap Ani sambil mengeluarkan seluruh isi yang ada di dalam tasnya.
"Kira kira dimana ya... bukankah tadi...
astaga, kenapa bisa ketinggalan di Perpus?" sambil menepuk jidatnya.
"Jangan... jangan.. Aduh gimana kalau orang yang tak dikenal itu membaca buku Diaryku, mau taruh di mana mukaku??"
"Apes bangat deh hari ini"
****
*Keesokan harinya
Walaupun hari Minggu, mereka bertiga tetap melakukan rutinitas jogging setelah sholat Shubuh.
Mereka pun duduk di bawah pohon mangga yang menjadi tempat favorit sekedar melepaskan rasa penat dan merenggangkan otot otot.
"Nur, Lid. kalian harus bantuin aku."
"Bantu apa An?" tanya Nurul
"Kayak orang yang kebakaran jenggot aja." celoteh Lidya
"Buku Diaryku ketinggalan di Perpus."
"Apa" pekik Lidya
"Kamu yakin?" tanya Nurul
"Iya, aku ingat bangat buku itu ada di atas meja."
"Ya udah kalau gitu kita cari besok saja."
"Kalau ketemu sama orang itu gimana?"
"Kita bakalan dihukum, ha ha ha" canda Lidya
"Jangan bercanda dong." kesal Ani
"Iya, iya maaf." kemudian berpikir "Uumm.. Sepertinya kita harus menyusun rencana."
"Setuju." ucap keduanya
*****
*Sementara itu di rumah Ari
Seorang pria yang bertubuh tinggi, kulit sawo matang sedang menikmati udara pagi yang sejuk di atas balkon kamar, dengan sesekali menyunggingkan senyum mengingat kejadian di Perpus. Tiba tiba ia dikagetkan oleh Rendi dan tersadar dari lamunannya
__ADS_1
"Lagi ngapain Paman ganteng?" tanya Rendi sambil menepuk punggung Pamannya itu.
"Jangan panggil Paman Ar!"
"Terus manggilnya apa?
"Kak Raka aja!"
"No, kalau Bunda dengar, bisa-bisa kupingku dijewer nanti."
"Panggil Paman kalau di depan Bunda."
"Yaudah, karena Paman yang minta aku nggak bisa nolak lagi, he he he.."
"Hmmm"
"Pam... ekh Kakak lagi ngapain? dari tadi senyum-senyum sendiri kayak orang yang lagi kasmaran aja."
"He he he... Kamu sok tahu Ren,"
"Ceritain dong, bikin penasaran aja." desak Rendi
"Ummm... sebaiknya diceritain ke Rendi, siapa tahu dapat petunjuk darinya," gumamnya dalam hati. "Gini Ren, kemarin Kakak dijahilin sama 3 orang gadis,"
"Kok bisa?"
"Awalnya Kakak yang mau ngerjain mereka, tapi yang ada Kakak malah dijahilin."
"Ha ha ha..." tawa Rendi pun akhirnya pecah setelah mendengar penjelasan Raka.
"Dasar anak nakal." ucap Raka sambil menjewer telinga Rendi.
"Ampun Paman... aduh, aduh." rintih Rendi karena saat ini telinganya sudah dijewer oleh Raka.
"Jangan panggil Paman" ucap Raka sambil melepaskan tangannya dari telinga Rendi.
"Iya iya.." sambil memegang telinganya yang sakit. "ngomong-ngomong siapa mereka??" sambungnya.
"Nggak tau, mereka kabur gitu aja trus wajah mereka ditutupin pake buku."
"Jadi Kakak tidak bisa mengenali mereka."
"Iya, tapi salah satu dari mereka bernama Nur."
"Haah... Apa mungkin itu Nurul dan kedua sahabatnya? tapikan yang biasa dipanggil Nur itu banyak." gumamnya di dalam hati. "Apa ada petunjuk lainnya?" tanya Rendi untuk memastikan jika dugaannya benar.
Mendengar pertanyaan Rendi, Raka pun teringat tentang buku Diary yang ditemukannya di atas meja Perpus. "Oh iya, sepertinya salah satu dari mereka meninggalkan buku Diary"
"Buku Diary"
"Sebentar, Kakak ambil dulu" kemudian mengambil buku tersebut dari dalam tasnya dan menyerahkan kepada Rendi.
"Buku Diary ini, iya tidak salah lagi pasti mereka bertiga." gumamnya pelan. "Apa Kakak sudah membacanya?"
"Nggak mugkin Ren," ucap Raka sambil mengernyitkan dahinya
"Syukurlah.." ucap Rendi membatin
__ADS_1
"Apa kamu mengenal mereka?" tanya Raka
"Iya, mereka tinggal di sekitar sini."
"Benarkah? aku tidak sabar lagi bertemu dengan mereka."
Sebelum lanjut, Author mau ngenalin nih yang namanya Raka.
Raka adalah adik sulung dari Bunda Hani yang baru saja datang dari kota B, tahun ini usianya 20 tahun, selisih 3 tahun dari Rendi.
Ia adalah mahasiswa smester 3 di Universitas Sastra yang berada di kota B.
Ia bermaksud melakukan penelitian tentang " Minat Baca " tingkat SD, SMP dan SMA khususnya yang berada di pedesaan, selama 3 bulan ke depan.
Sebelum memulai penelitiannya, ia bermaksud untuk melapor kepada pihak sekolah sekaligus melihat-lihat Perpustakaan.
Namun ketika ia keluar dari ruang kepala sekolah, bel tanda istirahat pun berbunyi. Ia pun memutuskan untuk mengurungkan niatnya ke Perpustakaan dan hendak pergi ke kantin sekolah untuk mengganjal perutnya. saat hendak ke kantin, ia dikejutkan oleh suara canda dan tawa yang lepas di sebuah ruangan yang akan dilewatinya.
"Bukankah ini Perpustakan sekolah?"
sambil melihat ke atas pintu yang tetuliskan PERPUSTAKAAN.
Ia pun menghentikan langkahnya. "Hmmm... Sepertinya ada siswa/siswi yang nakal dan menyalahgunakan Perpustakaan sebagai tempat untuk bermain." gumamnya.
Lalu ia masuk ke dalam, awalnya ia ingin menangkap basah siswa/siswi yang sengaja membuat keributan di Perpustakaan sekaligus melaporkan kelakuan mereka kepada pihak sekolah agar diberikan hukuman.
Namun siapa yang menyangka jika ujung ujungnya Dialah yang dijahili oleh 3 siswi tersebut tanpa mengetahui identitas mereka.
*****
*Keesokan harinya
Hari ini tepatnya hari Senin, seluruh siswa datang lebih awal dari hari-hari biasanya karena pada pagi hari ini mereka akan mengadakan Upacara Bendera.
Setelah selesai mengadakan Upacara, Pembina Upacara ( Kepala Sekolah ) pun memulai kata kata sambutan. Dalam sambutan kali ini, ia menyampaikan beberapa peringatan tentang disiplin dalam jam pelajaran sekaligus memperkenalkan penjaga Perpustakaan yang baru. Yang bernama Raka Aditya Nugroho.
Ya, siapa lagi, Dia adalah Pamannya Rendi sekaligus orang yang tak dikenal, yang berhasil dijahili Nurul dan kedua sahabatnya.
"Nurul, kayaknya perasaanku nggak enak deh." ucap Lidya sambil menunduk agar wajahnya tidak kelihatan.
"Iya nih, aku juga merasakan firasat buruk." tambah Ani dan mulai panik lagi apalagi mengingat tentang buku Diarynya.
"Kalian berdua jangan panik gitu, aku juga ikutan panik nih." tambah Nurul.
"Iya, iya" sahut keduanya dan berusaha untuk bersikap setenang mungkin.
"Jangan lupa rencana kita, sebaiknya beberapa hari ke depan kita bertiga jalan terpisah dulu, biar tidak menimbulkan kecurigaan." ucap Lidya mengingatkan
"Iya, tapi bagaimana dengan buku Diaryku?"
"Kalau masalah itu serahkan saja padaku." ucap Lidya dengan rasa percaya diri.
"Hmm... Aku mengandalkanmu Lid".
Setelah selesai dengan kata kata sambutannya, kepala sekolah mengundang ketua OSIS ke Ruang Guru.
Iya, ketua OSIS dan itu tidak lain adalah Nurul Hiyadah yang biasa dipanggil Nur atau Nurul.
__ADS_1