Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Drama keluarga Lidya


__ADS_3

Sebelumnya Author minta maaf ya Readers-readersku tersayang, karena Author baru sempat nge Up hari ini. Author bukan sengaja kok, kemarin itu ada sesuatu yang sedikit mendesak. Jadi hari ini baru bisa ngetik lagi.


Maaf ya....


Kalian pasti udah kangen kan....


Akh.... Author geer bangat sih. He he he...


.


.


.


.


Next


Setelah sholat Jum'at.


Dalam perjalanan pulang, Ayah Lidya sibuk mencari-cari sosok yang sudah membuatnya semakin penasaran selama beberapa hari ini.


Namun hasilnya nihil, karena sosok itu tidak sempat melaksanakan sholat Jum'at di Mesjid. Ia sedikit terlambat pulang ke rumah dan hal itu disebabkan oleh kesibukannya membantu Pak Hari ( Guru Olahraga ) untuk merapikan beberapa perlengkapan olahraga yang tidak sempat disimpan oleh siswa-siswi tadi pagi.


Setelah sampai di rumah, ia disambut dengan keberadaan Lidya yang sudah tertidur di atas sofa sambil memegang erat sebuah jeruk di tangannya.


Dengan sangat hati-hati ia mengangkat Lidya dan memindahkannya ke dalam kamar.


"Sepertinya kamu sangat lelah Nak,"


"Ayah semakin penasaran dengan sosok si Killer itu."


"Sampai-sampai membuatmu enggan melepaskan buah pemberian darinya."


Gumamnya sambil memandang wajah cantik Lidya yang sedang tertidur pulas.


Cup


Sebuah ciuman mendarat di kening Lidya.


"Tidurlah dengan nyenyak Nak." Bisik Ayahnya setelah mencium kening Lidya. Dan keluar untuk menemui Adit dan mengajaknya makan siang.


Setelah selesai makan, Ayah Lidya menanyakan tentang si Killer kepada Adit.

__ADS_1


Dengan senang hati Adit memberitahukan semua informasi yang ia dapatkan dari Rendi kemarin, bahkan ia tidak menutupi ketika ia sengaja menguping pembicaraan dari Lidya dan kedua sahabatnya malam itu.


Ayahnya hanya mendengarkan penjelasan Adit dengan seksama. Kini Ayahnya sudah mengetahui sedikit tentang sosok Raka.


Beberapa jam kemudian,


Kriing


Kriing


Kriing


Tepat pukul 16.00 Alarm jam weker yang berada di atas meja belajar pun berbunyi.


Sehingga membuat seorang gadis yang sedang berada di alam mimpinya menjadi terusik.


Dengan pelan ia membuka matanya, dan mengamati sekitar ruangan sambil mengumpulkan kesadarannya. Setelah berhasil, dengan gerakan yang secepat kilat ia langsung turun dari tempat tidurnya ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul 16.00


"Astagfirullah, kenapa aku ketiduran?" gumamnya saat ia sudah berdiri dengan sempurna.


"Ekh... Bukannya tadi aku ada di sofa?" ucapnya sambil mengingat-ngingat lagi.


"Hmmm pasti Papa yang mindahin aku."


Tanpa banyak basa basi lagi, ia langsung menuju dapur untuk mencari mbok Ina. Karena ia khawatir jika buah-buahan tersebut sudah dilahap Adit.


Ceklek


Baru saja ia membuka pintu kamarnya, aroma khas dari kulit jeruk langsung menyerang indera penciumannya.


Sambil berjalan mengendus-ngendus sumber aroma itu, akhirnya ia sampai di taman belakang rumahnya dan disambut dengan pemandangan yang sesuai dengan apa yang terlintas dalam pikirannya barusan.


Ya, Adit dan Sang Ayah tercintanya sedang menyantap buah-buahan itu dengan santainya.


Lidya yang sedang mengintip dari balik tembok hanya menelan salivanya dengan kasar dan bola mata yang telah membulat sempurna serta tangan kirinya sudah dikepalkan.


Karena tangan kanannya sedang memegang buah jeruk ya, Readers. He he he...


Kini kepalanya sudah terasa panas, seakan-akan ada semburan asap yang telah keluar dari telinga.


Iya, kayak di kartun-kartun itu lho...


Kalau saja hal itu hanya dilakukan Adit sendirian, pasti saat ini di tempat tersebut sedang terjadi sebuah pertempuran bersenjata buah-buahan.

__ADS_1


Saking gemesnya, tanpa sadar Lidya menggigit buah jeruk yang berada di tangannya.


Dan ternyata...


Hal itu mampu menetralisir amarahnya yang sudah meledak-ledak. Bagaimana tidak, rasa masam dari kulit jeruk mampu mengalihkan perhatiannya dam membuat air mukanya berubah drastis.


Adit yang sedari tadi berpura-pura tidak mengetahui keberadaan Lidya, akhirnya tidak bisa menahan tawa ketika melihat perubahan ekspresi itu.


"Ha ha ha..." Tawanya pecah sambil menahan perutnya yang mulai terasa sakit.


Lidya menggeram melihat kelakuan Adiknya dan segera mendekati mereka.


Sementara ayahnya masih belum menyadari keberadaan Lidya yang sedang mendekat dari belakang. Karena posisi Ayahnya membelakangi arah pintu.


"Uhuk.. Uhuk..." Adit tersedak dengan buah jeruk yang berada di dalam mulutnya.


Refleks, Ayah Lidya memukul pelan pungung Adit untuk memberikan pertolongan pertama.


"Ha ha ha...." kini gantian Lidya yang menertawai kesialan Adiknya itu. "Itu adalah hukumanmu ha ha ha." ucap Lidya disela-sela tawanya." Ia tertawa sampai terpingkal-pingkal dan meneteskan air matanya.


Dan... Ayahnya sudah menyadari apa yang sedang terjadi, kemudian mengajak Lidya duduk bersama mereka.


"Akh... Aku iri dengan keharmonisan mereka." rengek Author.


Kalau kalian bagaimana Readers?


.


.


.


Jangan lupa


Vote


Like


Koment


Subcribenya Readers.


Happy reading....

__ADS_1


__ADS_2