Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Double date bag. 2


__ADS_3

Refleks, Lidya melangkah ke samping untuk menjauhi Raka, "Ekh, memang nggak sengaja Pak," bantahnya dengan nada yang sedikit tinggi. "Eumm nggak sadar." sambungnya berbisik ke samping.


Raka gemes sendiri melihat tingkah Lidya, kemudian menariknya ke tempat duduk yang dimaksud.


Lidya yang kaget tangannya di tarik oleh Raka, berhenti mendadak dan berucap, "Bukan mahram Pak," protes Lidya


"Maaf nggak sengaja," jawab Raka dengan tatapan yang pura-pura cuek, karena ia ingin memancing amarah Lidya.


Dan usahanya berhasil, Lidya menggertakkan gigi gerahamnya kemudian berkacak pinggang. "Nggak sengaja bagaimana?"


"Nggak sadar." balas Raka mengikuti alasan yang sama dengan Lidya.


Lidya merasa semakin jengkel dengan sikap Raka yang seolah-olah menyindirnya, kemudian melangkah merajuk menuju ke tempat yang dimaksud.


Mereka pun duduk berhadapan di bawah payung pelangi dan dipisahkan oleh sebuah meja bundar yang terbuat dari plastik berwarna merah.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, kita beralih ke tempat Nurul dan Ari.


Mereka duduk berdampingan dengan jarak sekitar dua jengkal sambil menatap ke arah jalanan. Menikmati keindahan malam dan hilir mudik kendaraan yang berlalu lalang.


"Jadi, bagaimana ceritanya pak Raka bisa sampai ke sini?" tanya Nurul sambil mencuri lihat ke arah Ari.


"Sebenarnya beberapa minggu lalu ia berniat mencari pekerjaan dan kebetulan Ayah lagi butuh tambahan tenaga di bidang Administrasi. Jadi ia pindah ke sini untuk melanjutkan kuliahnya sambil bekerja di kantor Ayah."


"Oh ..., jadi ayahnya memiliki sebuah perusahaan?" gumam Nurul di dalam hatinya.

__ADS_1


Ari memiringkan tubuhnya dan menatap Nurul, "Terus bagaimana kalian bisa kenal dengan Pamanku?"


Mendengengar kata 'Paman' berhasil membuat Nurul menengok ke Arahnya. "Paman?"


"Ya, ia adalah adik dari ayah."


"Berarti ayah kamu, bunda Hani sama pak Raka saudara kandung?"


"Ya, dia Paman muda untuk aku dan Rendi."


"Ternyata dunia ini kecil ya," ucap Nurul kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke arah jalanan, ia baru menyadari bahwa mereka saling bersitatap.


Ari hanya mengulas sebuah senyuman samar melihat tingkah Nurul tersebut, dan keadaan pun terasa canggung.


"Ceritakan bagaimana pertemuan kalian," ucap Ari untuk mengusir perasaan canggung di antara keduanya.


Akh, rasanya waktu terhenti sejenak ketika melihat sang pujaan hati tertawa dan tersenyum bahagia. Sangat indah dan membuat sang waktu terasa memiliki warna yang berbeda.


Senyumannya, canda tawanya, air mata kebahagiaannya membuat Ari merasakan betapa indah perasaannya saat ini. Andaikan sang waktu bisa berhenti sebentar saja, ia ingin mengabadikan moment tersebut untuk dikenang saat jarak terpaksa harus memisahkan mereka.


"Dan ternyata mereka saling mencintai." itulah akhir kisah antara Lidya dan Raka yang diceritakan oleh Nurul.


Ari yang sedari tadi hanya diam mendengarkan kisah yang didongengkan oleh Nurul dengan berbagai ekspresi itu. Merasa kurang puas tapi apa daya ia harus berakhir dengan sebuah kesimpulan yang sudah bisa ditebaknya.


Sejujurnya ia tidak terlalu peduli dengan kisah mereka, ia hanya ingin mengulur waktu untuk tetap bersama dengan Nurul dan melihat ekpresi polosnya itu. "Pantas saja, waktu aku mengatakan akan bertemu dengan kalian, ia memaksaku untuk ikut."

__ADS_1


"Apa kalian tinggal serumah?"


"Ya, dengan begitu bisa sekalian menghemat biaya, lagi pula aku jadi punya teman di rumah." jawabnya sekenanya.


"Dan sepertinya Lidyalah yang merubahnya menjadi lebih mandiri dan berusaha lebih keras lagi." gumamnya di dalam hati.


Nurul pun menengok ke arah Ari, msih ada yang kurang jelas baginya. "Maksud Kakak?"


"Aku anak satu-satunya di keluargaku, dan aku merasa sangat senang dengan keberadaannya."


"Oh ... jadi gitu, pasti sangat dimanja."


Ari tersenyum kecut, "Lebih tepatnya, sangat kesepian." jawabnya dengan lirih.


"Apa Kak?"


"Hmmm, tidak apa-apa. Oh iya, aku mau ngucapin selamat atas prestasi kamu." ucapnya mengalihkan pembicaraan. Kemudian memberikan sebuah kado kepada Nurul.


"Terima kasih Kak." ucapnya setelah menerima kado tersebut sambil tersenyum tulus.


Sementara itu di sisi yang lainnya,


"Terima kasih Mas," ucap Lidya kepada tukang sate yang mengantar pesanan mereka.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2