
Hal itu sudah tidak menjadi sesuatu yang asing lagi bagi mereka bertiga atau pun para siswa yang melihatnya, karena mereka sering melihat interaksi mereka yang hanya sebatas urusan di Perpustakaan saja.
"Ada apa Pak?" tanya Nurul ketika Raka sudah menghentikan langkahnya.
"Aku hanya ingin meminta bantuan kalian lagi." jawabnya dengan enggan karena ini sudah yang kesekian kalinya ia meminta bantuan kepada mereka. Tapi ia tidak punya pilihan lain, karena saat ini hanya mereka bertigalah yang sering beriteraksi dengannya.
Mereka hanya saling memandang. "Apa yang bisa kami bantu?" tanya Lidya memberanikan diri karena ia sudah merasa sedikit akrab setelah sering bertemu dengan Raka.
"Aku ingin memberikan buah-buahan ini kepada staff dewan guru, tapi_" jawab Raka sedikit ragu-ragu dengan suara yang semakin lama semakin pelan. Jujur saja ia merasa kalau selama ini ia terus merepotkan mereka.
"Oh... Kami bisa melakukannya." sela Lidya karena ia sudah mengerti arah pembicaraan Raka.
Nurul dan Ani hanya saling menatap dan mengangkat kedua kening mereka ketika melihat interaksi antara keduanya. Bagaimana tidak, selama ini yang terus menjadi juru bicara ketika berhadapan dengan Raka adalah Nurul. Ini adalah yang pertama kalinya Lidya mengambil posisi itu tanpa aba-aba dari Nurul.
Lidya masih tidak menyadari hal itu, kemudian menanyakan tempat di mana Raka menaruh buah-buahan tersebut.
Tak lama kemudian keduanya segera menuju ke tempat duduk panjang yang berada di depan Perpustakaan, di mana sudah berjejer rapi kantong-kantong yang sudah terisi dengan berbagai macam buah seperti Apel, manggis dan jeruk dengan porsi yang sama rata.
Ani dan Nurul yang melihat hal tersebut hanya diam membisu di tempat mereka.
"Ternyata kita diabaikan begitu saja." ucap Ani setelah jarak mereka cukup jauh.
"Iya, kehadiran kita hanya akan menggangu mereka saja." sambung Nurul sedikit kecewa.
"Hmmm, sebaiknya kita pulang saja." cerocos Ani asal.
"Ekh... Jangan kita bakalan dimarahin sama mereka berdua," ucap Nurul sambil menahan tangan Ani agar Ani tidak meninggalkannya. "Kalau hanya menghadapi amarah Lidya, aku nggak masalah. Tapi kalau si Killer yang marah, kesepakatan kita yang sebelumnya jadi batal kan..."
"Kesepakatan yang mana?" bingung Ani
"Aduh An..." sambil menepuk jidatnya pelan. "Tentang laptop itu lho..." sambungnya.
__ADS_1
"Oh... Iya, ya udah sebaiknya kita susul saja." ucap Ani sambil menarik balik tangan Nurul.
"Hmmm."
Sementara itu di sisi yang lain, Lidya yang sudah menyadari kecerobohannya, menjadi salah tingkah ketika berdua dengan Raka. Walau pun saat ini mereka berada di tempat yang terbuka, tapi tetap saja rasanya menjadi asing jika berada bersama seorang laki-laki, apalagi orang itu adalah orang yang kita cintai.
Situasi seperti ini membuat otaknya memikirkan hal yang bukan-bukan lagi karena sebuah kalimat yang sangat akrab di dalam benaknya selalu muncul di saat-saat seperti ini.
"Jika ada seorang Pria dan Wanita yang berada di tempat yang sama, maka... Yang ketiganya adalah setan."
Ya, kalimat itulah yang selalu menghantui Lidya.
Melihat kegelisahan Lidya, akhirnya Raka berinisiatif untuk mengajak Lidya menyusul kembali kedua sahabatnya. Baru saja ia ingin mengutarakan maksudnya, tiba-tiba terdengar langkah kaki yang sedang mendekat.
"Mungkin saja itu mereka."
"Tapi... kenapa mereka datang terlambat?"
"Lalu, apa maksud dari semua ini?"
Berbagai pertanyaan di dalam benaknya menyambut kedatangan Ani dan Nurul sambil menatap mereka dengan tatapan penuh telisik.
Ani dan Nurul yang mendapat tatapan itu hanya bergidik ngeri dan menelan saliva mereka dengan kasar.
Lain halnya dengan mereka, Lidya adalah satu-satunya orang yang tersenyum saat ini. Ia sangat lega melihat kedatangan dari kedua sahabatnya itu.
Saat melihat senyuman yang terukir di wajah Lidya, akhirnya Raka menyimpan segala tanda tanya di dalam benaknya.
tak lama kemudian mereka membawa kantong-kantong buah-buahan tersebut di dalam ruang guru dan mendapat sambutan yang hangat dari seluruh dewan guru yang masih berada di ruang guru. Karena baru kali ini ada yang mempunyai ide seperti Raka. Mereka sangat bersyukur dan perlahan mereka menghilangkan persepsi buruk tentangnya. Walau pun tidak secara keseluruhan, namun sebagian besar sudah mulai bersimpati kepada Raka.
Tak lupa Raka memberikan masing-masing sekantong buah kepada mereka bertiga untuk dibawa pulang. Dengan perasaan enggan mereka menerimanya. Ya, sebenarnya Rakalah yang memaksa mereka untuk menerimanya dengan sebuah ancaman. "Jika kalian tidak menerimanya, maka aku tidak akan mengajari kalian tentang_"
__ADS_1
Sebelum Raka menyelesaikan perkataanya, mereka langsung menyambar kantong buah-buahan tersebut sambil tersenyum kikuk.
Setelah selesai membantu Raka, akhirnya mereka berpamitan untuk pulang. Dan meninggalkan Raka yang sedang bercengkrama dengan beberapa guru laki-laki.
Dalam perjalanan pulang mereka bercengkrama seperti biasa, judul pembicaraan mereka kali ini adalah tentang kebaikan hati si Killer dan kecerobohan Lidya.
"Ya, Dia sudah sangat berubah." itulah kesimpulan mereka saat ini. Karena Nurul dan Ani sudah melupakan tatapan penyambutan kedatangan mereka dari Raka tadi tertutupi dengan keasyikan mereka menggoda Lidya yang salah tingkah jika behadapan dengan Raka.
Setelah puas menggoda Lidya, ingin rasanya Nurul dan Lidya menanyakan kejadian semalam ketika mereka meninggalkan Ani dan Rendi, jujur saja, mereka sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, tapi mereka mengurungkan niatnya agar tidak merusak suasana ini.
Sesampainya di rumah, ada 2 sosok yang sedang menunggunya di teras.
.
.
.
Siapakah itu?
Tulis jawaban kalian di kolom komentar ya...
Jangan lupa dukungannya Readers
Vote
Like
Koment
hadianya juga ya...
__ADS_1
Happy Reading...