Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Selamat tinggal kak Rendi.


__ADS_3

Sebelum lanjut, Author mau menceritakan penyebab dari perubahan sikap Ani sampai menyerah begitu saja dan memutuskan untuk tidak berharap lagi kepada Rendi .


Flashback on


Setelah Lidya sadar dari lamunannya, ia sangat malu. Ia segera membalas pelukan Nurul dan menyembunyikan wajahnya yang sudah bersemu merah di bahu sahabatnya itu.


Setelah puas berpelukan, Nurul mengeluarkan segala tanda tanya di dalam benaknya.


"Lidya, sejak kapan kamu menyukainya?" tanya Nurul sambil memberikan minuman dingin kepada Lidya.


"Ekh itu_"


"Kalian berdua kayaknya lagi senang bangat ya..." sela Ani yang baru saja datang dari toilet.


"Iya, akhirnya Lidya_"


Tiba-tiba Lidya menutup mulut Nurul dengan tangannya agar tidak menceritakan yang sebenarnya.


"Kenapa Lid?" bingung Ani


"Jangan ngomongin hal itu di sini, entar kedengaran yang lain. Kan aku malu..." jawab Lidya sambil tersipu malu.


"Iya.. Iya, sabar ya An." ucap Nurul setelah Lidya mengeluarkan tangannya.


"Aku jadi semakin penasaran deh." desak Ani


"Ya, karena berita ini sangat penting." tambah Nurul saking senangnya.


"Benarkah?"


"Hmmm"


"Aku sudah tak sabar lagi Nurul, Lidya."


"Nanti aku ceritain setelah kita selesai sholat isya."


"Kelamaan Nurul." rajuk Ani


"Ya udah, kalau kelamaan mending nggak usah diceritain." balas Lidya


"Iya, iya janji ya..."


"Hmmm" Jawab Lidya singkat.


Ting


Ting


Ting


Bel masuk pun berbunyi. Mereka bertiga menuju ke dalam kelas.


Sebenarnya Lidya sangat enggan meninggalkan tempat itu, tapi mau gimana lagi mereka harus segera masuk ke kelas. Dengan langkah malasnya ia mengikuti Nurul dan Ani dari belakang sambil mencuri lihat ke arah Raka yang kebetulan mengikuti kepergian mereka dengan sebuah senyuman mautnya.


Deg


Hati Lidya serasa ingin berteriak.


"Akh... Kakak tampan, aku ingin menyimpan senyummanmu itu di dalam sakuku."


"Emang bisa ya Lid?" tanya Author he he he


*****

__ADS_1


Malam hari


Setelah sholat Isya, mereka sudah sepakat akan berkumpul di rumah Lidya. Saat ini mereka sedang duduk di taman belakang rumahnya.


Tempat itu menjadi tempat favorit mereka jika ada hal penting yang ingin di bahas.


"Ayo Lid, ceritain dong. Aku penasaran bangat nih."


"Nurul saja deh, aku malu." ucap Lidya sambil menunduk menyembunyikan wajah tomatnya itu.


Nurul hanya tersenyum memperlihatkan lesung pipinya ketika melihat ekspresi sahabatnya yang sedang kasmaran itu.


"Wajah kamu lucu bangat Lidya." ledek Ani.


"Oh... Sepertinya aku bisa menebak gejala-gejala seperti ini." sambung Ani. "Apa kamu sedang jatuh cinta Lidya?" tanyanya dengan tatapan penuh selidik.


Lidya hanya mengaggukkan kepalanya samar sambil menahan malu.


"Akh... Benarkah?" tanya Ani setengah kaget. "Aku turut bahagia mendengarnya Lidya." ucapnya sambil memeluk Lidya.


Nurul pun tak mau kalah dan memeluk kedua sahabatnya itu.


"Makasih Ani, Nurul." ucapnya sambil melepas pelukan dari kedua sahabatnya.


"Oh ya, sejak kapan Lid?"


"Aku nggak tau," jawab Lidya dengan enteng


"Bagaimana bisa?" bingung Ani


Lidya menghembuskan nafasnya pelan sambil memperbaiki duduknya.


"Cinta itu memang membingungkan Ani, kata orang ada datang seperti jaelangkung."


"Rasanya aku tidak percaya. Tapi inilah kebenarnya."


Ucap Lidya sambil mengingat sosok cinta monyetnya yang tidak lain adalah Rendi.


Ani merasa ada yang kurang dimengerti olehnya, "Apa maksud kamu seperti jaelangkung Lidya?" bingung Ani


"Aku juga tidak mengerti." tambah Nurul


"Maksudnya rasa itu datang dan pergi begitu saja tanpa kita sadari. Gitu lho..." jelas Lidya dengqn nada yang sedikit menggurui.


Tapi Ani dan Nurul hanya saling berpandanan dan mengangkat kedua bahu mereka pertanda mereka belum terlalu memahami maksud dari Lidya.


Lidya yang menangkap kebingungan dari kedua sahabatnya itu terpaksa mengungkapkan sebuah kebenaran yang selama ini ia sembunyikan. Karena ia merasa bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk memberitahukan kepada mereka. Toh, perasaan tersebut sudah tidak ada lagi kan... Lagi pula ia sudah menemukan sosok pangeran yang sesungguhnya. Dengan penuh keyakinan ia menjelaskan maksud dari perkataannya tersebut. "Seperti halnya ketika aku menyukai Rendi." sambungnya


"Maksud kamu kak Rendi?"


"Iya."


"Jadi kamu pernah menyukai kak Rendi juga?" tanya Ani setengah kaget.


"Ya, tapi itu dulu, dan rasa itu hilang begitu saja Ani."


"Aku pikir hanya aku saja yang seperti itu Lidya." tambah Nurul


Ani semakin terkejut dengan pernyataan dari Nurul, ia tidak menyangka jika kedua sahabatnya juga mempunyai suatu perasaan yang khusus kepada Rendi. Namun ia tidak berhak untuk melarang keduanya, karena sampai saat ini ia dan Rendi tidak punya hubungan yang khusus. Akhirnya ia memilih untuk memperjelas maksud dari kedua sahabatnya itu. Ia tidak ingin memikirkan hal yang bukan-bukan terhadap keduanya. "Maksud kamu Nurul?" tanyanya kemudian.


"Aku juga sempat kagum dengan Kak Rendi." jawab Nurul dengan santai, karena memang ia tidak punya rasa yang khusus. Ia hanya mengagumi sosok Rendi yang ramah, tidak sombong dan mudah bergaul dengan siapa saja.


Ani sangat lega mendengar pengakuan Nurul. "Akh.. Kalian berdua jahat bangat. Kenapa kalian tidak pernah memberitahukan hal ini?" celoteh Ani sambil memukul pelan kedua sahabatnya.

__ADS_1


"Karena kami masih meragukannya Ani." jawab mereka serentak dan saling menatap.


"Dan aku merasakan sesuatu yang berbeda jika aku berhadapan dengan si Killer."


"Aku juga bisa merasakan hal yang berbeda dengan Ustadz tampanku." sambung Nurul sambil membayangkan sosok pangerannya.


"Apakah Ustadz tampanmu itu kak Ari?" tanya Lidya.


"Akhirnya aku keceplosan." gumam Nurul dan masih bisa di dengar oleh kedua sahabatnya.


"Isshh... Kalian bikin aku iri aja deh." protes Ani


"Tenang saja Ani, suatu saat nanti kamu akan menemukan seseorang yang benar-benar mencintaimu."


"Iya aku setuju dengan Nurul. Sebaiknya lupakan semua tentang Rendi. Toh selama ini Dia tidak pernah menganggap kamu kan..."


"Iya, padahal Dia sudah mengetahui perasaan kamu terhadapnya." tambah Nurul.


"Tapi..."


"Tenang saja Ani, suatu saat nanti kamu akan menemukan cinta sejatimu."


"Aku..."


"Apa kamu mau menanggung sakit hati kepada orang yang sama selama hidupmu?"


"Iya An, lupakan saja orang yang tidak pernah menghargai perasaanmu itu."


Ani yang mendapat serangan bertubi-tubi dari kedua sahabatnya itu tidak dapat melarikan diri lagi. Akhirnya ia menyetujui saran dari kedua sahabatnya.


"Baiklah, aku akan mencobanya." ucapnya dengan sedikit terpaksa karena ia merasa tidak akan sanggup untuk melepaskan perasaan yang sudah lama tumbuh di lubuk hati terdalamnya.


"Semangat Ani." ucap Lidya sambil memegang bahu kanan Ani.


"Kamu pasti bisa." sambung Nurul sambil memegang bahu kiri Ani.


Ani menatap kedua sahabatnya itu secara bergantian dan tatapannya itu mendapat balasan senyum tulus dari kedua sahabatnya.


Ia merasa seperti mendapatkan sebuah kekuatan super yang sudah lama terpendam di dalam dirinya, kemudian....


"Ya, aku akan mencobanya."


Dengan penuh semangat ia mengikrarkan segala tekad yang ada di hatinya sambil mengepalkan kedua tangannya dan mengangkatnya sejajar dengan kepalanya.


"Semangat Ani, kamu pasti bisa." sorak Author.


Tanpa mereka sadari ada sepasang telinga dan yang sedang mengawasi mereka di balik pohon bunga yang cukup rimbun.


.


.


.


.


Hmmm... Akan seperti apa ya hari-hari Ani tanpa bayang-bayang dari Rendi?


Dan, siapakah orang yg menguping itu?


Nantikan jawabannya di bab berikutnya Readers.


tinggalkan jejak kalian ya.....

__ADS_1


Happy Reading...


__ADS_2