
Hay Readers...
Sebelum lanjut, Author mau nanya nih, boleh kan.....
Kira-kira kalian lebih suka yang mana?
Seminggu yang berkesan ala Nurul dan Ari?
Atau...
Seminggu yang berkesan ala Lidya dan Raka + tikus kecilnya?
Jangan lupa isi jawaban kalian di kolom komentar ya...
Happy reading Readers...
.
.
.
.
.
Selama dalam perjalanan terasa sangat canggung, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Raka. Ia sedang memikirkan Lidya.
Memikirkan apakah Lidya mau bergabung dengan Nurul dan Ani untuk membantunya, atau justru sebaliknya.
Lidya akan mencegah Nurul dan Ani untuk membantunya.
"Ya mungkin saja," gumam Raka di dalam hatinya.
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah masing-masing.
*****
Sementara itu di rumah Lidya
"Aku harus segera mandi untuk menghilangkan jejak si Killer itu." celoteh Lidya setelah sampai di dalam kamarnya.
"Akh... kenapa juga aku harus bersembunyi di belakangnya, sampai-sampai memintanya untuk menggendongku."
"Apa yang ada dipikiran Nurul dan Ani ketika melihatku digendong Raka?"
"Nurul dan Ani, astaga..." pekiknya sambil menepuk jidatnya pelan.
"Kenapa aku meninggalkan mereka di sana?"
"Lidya, Lidya kamu sangat ceroboh." rutuknya kepada dirinya sendiri.
Kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.
__ADS_1
"Bau parfum ini sangat menenangkan." gumamnya tanpa sadar.
Tak lama kemudian ia memasuki alam mimpinya, karena ia merasa sangat lelah, lelah melawan rasa takut kepada sosok kecil itu dan lelah dengan amarahnya kepada Raka.
Di rumah Rendi
Raka segera bebersih karena sebentar lagi adzan Dzuhur berkumandang.
"Astaga." pekik Rendi setelah melihat bekas gigitan dari Lidya yang berada di bahu kanan Raka. Karena saat ini Raka hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya.
"Ada apa dengan bocah ini?" batin Raka.
"Apa yang terjadi dengan bahu Kakak?" tanya Rendi sambil mendekati Raka, dan tatapan tajam setajam pisau, ekh salah setajam silet. He he he...
Pertanyaan Rendi menyadarkannya dan segera menutupi bekas gigitan itu. "Ini bukan apa-apa." jawab Raka sambil menjauhi Rendi.
"Ayolah Kak, aku tidak akan memberitahukan apapun sama Bunda." desak Rendi.
Akhirnya Raka menceritakan kejadian yang terjadi di Perpustakaan pagi tadi.
Tak lama kemudian..
"Ha... ha.. ha..." tawa Rendi pecah ketika mendengar cerita Raka.
"Sudah aku bilang kan, Dia itu bukan Gadis biasa Kak, ha... ha... ha..." ucap Rendi di tengah tawanya.
"Dasar Bocah.... Berani-beraninya menertawakanku." celoteh Raka sambil menjewer telinga Rendi.
"Hmmm, awas saja kalau hal ini diketahui Bunda."
"Iya, iya.."
Setelah bebersih, mereka langsung bersiap-siap ke Mesjid.
Sore hari
Nurul yang masih khawatir dengan keadaan Lidya, mendatangi Lidya di rumahnya.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam, ekh.. Dek Nurul, cari non Lidya ya..." sapa mbok Ina.
(Awalnya mbok Ina memenggil Nurul dengan sebutan Non, tapi Nurul merasa nggak nyaman dengan sebutan itu. Sehingga ia meminta mbok Ina untuk memanggilnya DEK NURUL saja.)
"Iya Mbok."
"Non Lidyanya ada di kamar, sepertinya masih tidur,"
"Oh... Biar aku tunggu disini saja Mbok, siapa tau sebentar lagi Dia bangun."
"Baik dek Nurul."
"Mbok buatin teh manis dulu ya..."
__ADS_1
"Air putih aja Mbok."
Akhirnya mbok Ina kembali ke dapur dan mengambil air putih untuk Nurul.
Ketika mbok Ina akan mengantar air putih, hampir saja air itu jatuh dari nampan karena hampir bertabrakan dengan Lidya yang baru saja keluar dari kamarnya dan hendak mengambil air minum di dapur.
"Mbok kok tahu sih kalau aku haus bangat," ucap Lidya sambil menyambar segelas air putih dan langsung meminumnya.
"Ekh... Non, itu untuk dek Nurul."
"Nurul?"
"Iya Non, Dia sedang menunggu Non di teras rumah."
"Diganti dengan jus aja Mbok," ucap Lidya.
"Iya Non."
Lidya segera menemui Nurul, ia ingin meminta maaf karena telah meninggalkannya di Perpustakaan tanpa berpamitan terlebih dahulu.
"Kamu sendirian aja, Aninya mana?" tanya Lidya sambil duduk di kursi yang berdekatan dengan Nurul.
"Ani nggak tahu kalau aku ke sini," jawab Nurul. Bagaimana keadaanmu Lidya?"
"Aku baik-baik saja."
Tiba-tiba Nurul mancium bau parfum yang sangat asing di indra penciumannya.
"Apa kamu ganti parfum Lid?" tanya Nurul sambil mendengus di dekat Lidya.
"Astaga... Ini jejak parfum Raka." pekiknya di dalam hati.
"Ekh... Mungkin hidungmu lagi bermasalah, aku nggak pernah ganti parfum kok." ucap Lidya sambil menjauh dari Nurul.
"Aku mandi dulu ya..., kamu jangan ke mana-mana."
Nurul hanya mengernyitkan keningnya ketika melihat kelakuan Lidya.
"Apa mungkin Lidya menyembunyikan sesuatu?" gumamnya di dalam hati.
Tak lama kemudian mbok Ina datang membawakan segelas jus untuk Nurul.
.
.
.
.
Jangan lupa ninggalin jejak kalian yach Readers...
Happy reading...
__ADS_1