Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Kenapa aku?


__ADS_3

* Di Sekolah


Ani disambut dengan hangat oleh kedua sahabatnya karena mereka mengerti jika saat ini Ani sangat membutuhkan sebuah dukungan dari mereka.


Ia berusaha untuk tersenyum di hadapan keduanya. Ya, walau pun hanya senyuman paksa tapi hal itu lebih baik daripada tidak sama sekali.


Ting


Ting


Ting


Tak lama kemudian bel masuk pun berbunyi dan seluruh siswa berbaris di halaman karena akan ada penyampaian dari Kepala Sekolah tentang pergantian Pengurus OSIS yang lama dengan yang Pengurus OSIS yang baru serta pemberitahuan bahwa minggu depan mereka akan mengadakan serah terima kepengurusan kepada Ketua OSIS yang terpilih.


Nurul sangat lega mendengarnya. Akhirnya ia dapat memaksimalkan waktunya untuk belajar karena sebentar lagi mereka akan melaksanakan ulangan semester.


Berbeda halnya dengan Nurul, Raka sedikit kecewa mengetahui hal ini karena ia khawatir jika PO yang baru tidak akan mendukungnya seperti yang sudah dilakukan Nurul dan teman-temannya.


"Sebaiknya aku menemui mereka malam ini." gumamnya.


*****


Sementara itu di tempat lain, Rendi sangat bahagia karena ia terpilih sebagai ketua OSIS di sekolahnya.


"Aku harus berusaha semaksimal mungkin agar aku tidak mengecewakan seluruh teman-teman yang telah mendukungku sampai ke tahap ini." gumamnya di dalam hati setelah puas melihat papan Pengumuman yang berada di depan ruang guru.


"Dan ini merupakan kesempatanku untuk membuktikan kepada Nurul bahwa aku layak untuknya." Ikrarnya di dalam hati sambil tersenyum bangga.


Ting


Ting


Ting


Bel masuk pun berbunyi, seluruh siswa segera masuk ke dalam kelas masing-masing.


"Pasti sekarang Nurul sedang tersenyum karena seminggu lagi ia akan bebas dari segala tanggung jawabnya." gumamnya ketika berada di dalam kelas sambil membayangkan senyuman manis yang khas dengan lesung pipi itu.


Pelajaran pun berjalan seperti biasanya.


* Malam hari

__ADS_1


Setelah sholat Isya Raka segera menarik tangan Rendi untuk bergegas keluar dari Mesjid dan menemui mereka.


Dengan kebingungannya Rendi terpaksa mengayunkan langkahnya untuk mengikuti Raka.


Akhirnya mereka berhenti di depan Gerbang Mesjid.


Setelah Raka menghentikan langkahnya, Rendi memberanikan diri untuk bertanya tapi hal itu hanya diabaikan begitu saja oleh Raka tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Sebenarnya masalah apa yang membuat kak Raka secuek ini denganku?"


"Pasti orang itu sangat penting baginya."


"Aku sangat penasaran."


"Oh mungkinkah Dia ingin menemui Lidya lagi?"


"Akh.... Mungkin saja Dia sudah jatuh cinta."


Gumam Rendi sambil tersenyum tipis menatap ke arah Raka yang sedang tegang menantikan kehadiran tiga orang Gadis yang akan menentukan masa depan kinerjanya di Perpustakaan.


Tak lama kemudian muncullah sosok yang sedang mereka tunggu.


"Assalamu'alaikum Nurul." sapa Raka sambil tersenyum tipis.


"Jadi gadis itu Nurul?"


"Hah... Bagaimana mungkin?"


"Sainganku bertambah dong..."


Pekik Rendi di dalam hatinya karena sangat terkejut ketika mendengar Raka menyapa Nurul secara khusus.


Bukannya menjawab salam, Nurul hanya sibuk menatap ke arah Lidya dan Ani secara bergantian karena seperti biasanya, posisinya berada di tengah.


"Kenapa Aku?" Gumamnya sangat pelan dan masih bisa didengar oleh kedua sahabatnya itu, dengan perasaan bingung ketika melihat Lidya cukup lama. Tapi tak ada jawaban dari kedua sahabatnya itu.


Lidya tidak tahu harus menjawab apa, karena saat ini ia sendiri kaget jika Raka menyapa Nurul secara khusus. Ingin rasanya ia mengatakan bahwa saat ini ia sangat cemburu, tapi... Tidak mungkin ia bersikap seperti itu kan... Toh, ia dan Raka bukan siapa-siapa. Hubungan mereka belum sampai ke tahap saling menyukai, bahkan ia tidak tahu bagaimana perasaan Raka terhadapnya. "Mungkinkah Dia menyukai Nurul?" Batin Lidya. "inikah yang dirasakan Ani selama ini?" sambungnya sambil melihat ke arah Ani.


Akhirnya ia menghembuskan nafasnya dengan kasar dan bergumam, "Ternyata sesakit ini yang dinamakan cemburu kepada sahabat sendiri."


Ia berusaha untuk menyembunyikan perasaannya dan bersikap biasa-biasa saja.

__ADS_1


Ani sangat mengerti bagaimana perasaan Lidya saat ini. Bagaimana pun ia pernah di posisi yang sama. Ingin sekali ia menegur Raka seperti yang dilakukan Lidya beberapa waktu lalu untuk membelanya. Tapi sayangnya ia tidak mempunyai keberanian sebesar itu.


Ia hanya membalas tatapan Lidya dengan perasaan yang penuh keprihatinan.


Melihat kecanggungan yang ada, Raka sedikit bingung dan bertanya


"Apakah ada yang salah dengan kata-kataku?" tanyanya dengan kebingungan.


Pertanyaan itu berhasil mengusir kecanggungan di antara mereka.


"Ekh... Maaf Kak. Wa'alaikumussalam." jawab Nurul dengan senyum kakunya. "Ada yang bisa kami bantu?" tanyanya dengan hati-hati.


"Apa boleh kita berbicara berdua saja?" tanya Raka dengan enggan.


Bagaikan di sambar petir, Rendi membelalakkan matanya menatap ke arah Raka. Untung saja Raka tidak melihat ke arahnya. "Haah berdua?" Pekik Rendi di dalam hatinya karena sangat terkejut ketika mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Raka.


Lidya semakin layu dengan kalimat Raka tersebut. Ya, ia bagaikan sekuntum bunga yang telah layu sebelum mekar sempurna. "Sepertinya aku akan mengalami nasib yang sama dengan Ani." gumam Lidya di dalam hatinya sambil menahan rasa kecewanya karena benih-benih cinta yang baru saja tumbuh kini telah layu seperti tersiram air panas yang berasal dari kecemburuan.


"Hal ini mengingatkanku kepada kejadian waktu itu, ketika kak Rendi mengungkapkan perasaannya kepada Nurul."


"Mungkinkah hal yang sama akan terjadi lagi?"


"Kasihan Lidya, perasaannya pasti sangat kecewa."


"Kenapa harus Nurul lagi?"


Gumamnya di dalam hati kemudian melihat ke arah Lidya sambil mengingat kejadian 17 Agustus lalu.


.


.


.


.


Kalian pasti penasaran kan....


Nantikan jawabannya di bab selanjutnya Readers.


jangan lupa dukungannya, agar Author tambah semangat nge-upnya.

__ADS_1


Happy reading...


__ADS_2