
3 jam kemudian
Ting
Ting
Ting
Bel tanda Waktu pelajaran telah usai pun berbunyi. Siswa-siswi berhamburan keluar dari ruang kelas.
Dalam perjalanan pulang kali ini, Nurul dan Ani langsung mengintrogasi Lidya tentang perasaannya ketika berhadapan dengan laptop ketika praktek di Perpustakaan tadi.
Dan dengan penuh semangat Lidya menjabarkan perasaannya. Rona wajahnya melebihi kilauan sinar mentari, sangat terasa silau bagi kedua sahabatnya. Seakan-akan Lidya sudah terkena virus yang sulit dideteksi.
Nurul dan Ani kesusahan mengidentifikasi gejala yang sedang dialami oleh sahabat mereka itu.
"Hmmm, rasanya seperti berada di dunia lain," ucap Lidya sambil menaruh kedua tangannya di bagian belakang kepalanya.
"Dunia lain?" tanya Nurul dan Ani serentak karena merasa aneh dengan jawaban dari Lidya.
Dengan santainya ia melanjutkan pembicaraan.
"Iya, sepertinya di dunia itu hanya ada aku dan Dia."
"Dia akan melakukan semua yang aku perintahkan."
"Aku adalah Ratunya dan Dia adalah pelayanku."
"Rasanya... aku ingin terus berada bersamanya..."
"Setiap waktu, sampai seumur hidupku."
"Akh... Aku ingin memilikinya."
__ADS_1
Ucapnya dengan penuh penghayatan, seakan-akan ia sedang berada di suatu tempat yang berada di luar jangkauan kedua sahabatnya. Ia menjelaskan sambil menaruh kedua tangannya di atas dada, lengkap dengan ekspresi kekaguman yang sudah overdosis.
Nurul dan Ani hanya saling menatap keheranan atas penjabaran dari Lidya yang panjang lebar itu, sambil mengeleng-gelengkan kepala mereka karena tidak percaya dengan sesuatu yang sedang dialami Lidya.
"Sebenarnya apa yang Lidya bicarakan?"
"Iya, aku juga bingung..."
"Serumit itukah perasaannya kepada laptop?"
"Ini sih lebih parah dari pada orang yang kasmaran."
"Huss, jangan ngomong ngawur akh." Tegur Nurul.
"Iya, iya..."
"Melihat gejala-gejala ini, kita harus berhati-hati dengan benda itu."
"Ya, jangan biarkan benda itu menguasai kita."
Mereka berikrar sambil mengumpulkan Tekad yang sudah bulat agar tidak terkena penyakit gila teknologi seperti Lidya.
Mereka hanya membiarkan Lidya tenggelam dalam dunia fantasinya bersama laptop.
Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah masing-masing.
"Assalamualaikum..." ucap Lidya
"Waalaikumussalam..."
"Papa udah pulang Mbok?" tanya Lidya untuk memastikan karena ia melihat mobil Ayahnya yang sudah terparkir di halaman depan.
"Iya Non, Tuan baru aja nyampe?"
__ADS_1
"Akh... Pas bangat." ucapnya dengan penuh semangat.
*****
Sementara itu di sisi yang lainnya.
Ada seorang Pria yang sedang duduk melamun di balkon kamar sambil tersenyum-senyum sendiri karena mengingat kejadian waktu istirahat tadi.
Dimulai dari sebuah penantian yang berujung pada kekecewaan, akhirnya terbayarkan dengan sebuah kebersamaan yang sangat berarti untuknya.
Kalian pasti sudah bisa menebak Pria itu kan... Ya, siapa lagi kalau bukan Raka. Si killer yang sedang menyandang sebagai guru les komputer gratis dari sekelompok gadis yang telah membantunya dalam banyak hal.
Di tengah lamunannya, ia diusik oleh kedatangan Rendi yang mengajaknya untuk makan siang.
"Aku masih kenyang Ren," tolaknya dengan sopan.
Akhirnya Rendi memilih untuk duduk bersama Raka sambil memandang pematang sawah yang sangat menyejukkan hati.
Beberapa menit kedepan mereka larut dengan pikiran masing-masing.
Raka yang melanjutkan kenangannya ketika bertemu dengan Lidya, membuatnya cengengesan sendiri. Ia tak mampu menahan rasa gelinya ketika mengulang kembali memori tentang semua yang telah terjadi antara ia dengan ketiga gadis itu.
"Apa ada sesuatu yang membuat Kakak bahagia?" tanya Rendi setelah menyadari Raka yang sedang menahan tawanya sendiri.
"Hmmm, sepertinya... Aku sudah jatuh cinta Ren."
"Dengan Lidya?"
"Ekh, bagaimana kamu tahu Ren?"
.
.
__ADS_1
.
.