Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Senyum kemenangan


__ADS_3

"Dasar Gadis Kampung tidak tahu malu," rutuknya sambil membersihkan gaunnya tersebut.


"Awas saja kalian, aku akan terus mengingat kejadian ini dan membalaskan dendam kepada kalian Gadis Kampungan." celotehnya dengan menekankan kata 'Gadis Kampungan' sambil mengepalkan tangannya melihat ke arah cermin, dengan sesekali terdengar gemertak dari gigi gerahamnya karena menahan amarahnya yang sudah memuncak.


Benar-benar malam yang sangat kelam baginya, ia menaruh dendam yang teramat sangat kepada Nurul dan Lidya.


Ia pun membasuh wajahnya yang sudah memerah marah tersebut dengan air dingin yang ada di wastafel, perlahan rona wajahnya mulai memutih kembali.


Ia pun menghembuskan nafas kesalnya, sebelum menemui kedua orang tuanya. Selain itu, ia tidak ingin terlihat liar di hadapan mami Elfi. Ia tahu bahwa mami Elfi mendambakan seorang gadis cantik yang berhati lembutlah yang akan menjadi pendamping Ari.


Setelah selesai dengan kegiatannya, ia pun memasang wajah tertekan saat keluar dari pintu toilet dan berniat untuk melaporkan kejadian tersebut untuk menjatuhkan nama Nurul di hadapan mami Elfi.


Tak lupa ia melangkah dengan gaya yang lunglai sebagai bumbu untuk kesempurnaan aktingnya nanti.


Dan benar saja, ekspresinya itu berhasil mencuri perhatian mami Elfi. "Apa yang terjadi denganmu Chika?" mami Elfi mendekati dan merangkul Chika untuk membantunya kembali ke tempat duduk.


Hal yang sama juga tampak di raut wajah kedua orangtuanya namun ia memberikan sinyal kepada keduanya bahwa saat ini ia hanya sedang berakting, dan kodenya itu diterima dengan baik dan jelas oleh mereka.


Mereka pun ikut berakting bersama anaknya sambil meraba-raba alur cerita yang akan dimainkan oleh anaknya tersebut.


Sementara mami Elfi mengusap pipi Chika yang sudah duduk manis dengan wajah yang lesu, "Ayo ceritakan apa yang sebenarnya terjadi Chika, jangan membuat Mami kebingungan seperti ini. Mami akan membelamu Chika, katakan saja!" Pintanya dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran.


"Sepertinya sudah masuk perangkap," girang Chika di dalam hatinya. Ia pun memasang wajah memelasnya, "Gadis kampung yang bersama kak Ari memuntahkan makanannya ke gaunku Mami," rengeknya sambil mengerutkan bibirnya seperti anak kecil yang memohon belas kasihan. "Ini buktinya Mami." Ia pun menunjukkan gaunnya yang masih basah tersebut.

__ADS_1


Mami Elfi masih terdiam berusaha mencerna kalimat yang diucapkan Chika, "Sekarang Ari dan gadis itu ada di mana?" Terlihat jelas ada amarah dari tatapan mami Elfi tersebut. Membuat Chika tersenyum penuh kemenangan.


Ia pun berdiri dan meraih telapak tangan mami Elfi untuk menuntunnya ke tempat Ari dan Nurul, kemudian diikuti oleh kedua orangtuanya dari belakang.


Namun sangat disayangkan, rencana untuk balas dendam kali itu harus gagal di tengah jalan. Hal itu disebabkan, ketika mereka sampai di tempat yang di maksud, pasangan double date tersebut sudah tidak berada di tempat mereka karena mereka langsung pulang ke hotel B setelah kepergian Chika.


Sungguh Chika dibuat kesal untuk yang ke sekian kalinya, ingin rasanya ia mengumpat dan mengeluarkan kata-kata yang penuh amarah yang tersimpan di dalam hatinya itu. Ia pun m e r e m a s gaunnya untuk menumpahkan kekesalannya.


"Di mana tempat mereka Chika?" tanya mami Elfi ketika Chika menghentikan langkahnya tepat di tempat ia berdiri saat Nurul menyemburkan makanan ke gaunnya tadi.


Ia pun tersadar seketika, kemudian terduduk pasrah di tempat duduk yang tadinya di duduki Ari. Ia pun memasang wajah kasihan, "Di sini Mami, tapi sepertinya mereka sudah pulang." jelasnya dengan nada yang melemah seperti orang yang sedang putus asa.


Membuat mami Elfi merasa kasihan dan berucap, "Tenang saja sayang, Mami akan mencari tahu keberadaan gadis itu." bujuknya dengan menekankan kata 'gadis itu' menandakan ada rasa ketidak nyamananlah yang ada di dalam hatinya jika ia membayangkan bagaimana caranya gadis itu menyerang Chika.


Tak lama kemudian, mereka berpamitan untuk pulang dengan membawa sebuah kemenangan. Mereka sudah berhasil menipu mami Elfi dua kali berturut-turut. Mereka sangat yakin, usaha mereka malam ini akan berhasil seratus persen.


"Ternyata mami Elfi sangat mudah dibodohi," ucap bunda Ratna (Ibunya Chika) saat mereka dalam perjalanan untuk pulang.


"Tentu saja, selama ini aku selalu menggunakan trik yang sama untuk terus mendekati Ari."


"Kamu sangat hebat Nak," puji ayahnya sambil mengacak-ngacak rambutnya.


"Akting kamu benar-benar sangat meyakinkan, Bunda saja hampir tertipu jika saat itu kamu tidak mengirimkan kode kepada kami, benar kan Yah," tambah bunda Ratna sambil mencubit pipi Chika gemes.

__ADS_1


"He-he-he," anak siapa dulu dong.


Mereka pun menuju ke rumah dengan senyuman kemenangan yang menghiasi wajah mereka.


Sementara itu di sisi yang lainnya, mami Elfi mencoba untuk menghubungi Ari.


"Ya Mami,"


"Kamu di mana Nak?"


"Sedang menuju ke restoran Xxxx, kenapa Mami?"


"Mami tungguin di parkiran ya Nak,"


"Ya,"


Seketika, sambungan telepon pun terputus, ia sudah tidak ingin berpura-pura lebih lama lagi. Sejujurnya ia sudah tidak sabar ingin mengintrogasi kejadian yang terjadi antara gadis itu dan Chika. Mengingat perkataan Chika saja mampu membuatnya mendengus kesal.


Tak lama kemudian mobil yang di kendarai Ari memasuki area parkiran dimana sang mami sedang berdiri menunggu kedatangan mereka.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2