
Namun ketika mereka baru saja keluar dari ruang kelas, Friska dan kedua temannya datang menghampiri mereka untuk meminta maaf atas kejadian kemarin.
"Kalian mau ke mana?" Sapa Friska dengan ramah dan menyunggingkan senyum kakunya.
Sebenarnya ia terpaksa melakukan hal tersebut karena ia yakin bahwa niat baiknya tidak akan berjalan mulus semulus jalan tol.
Dalam hatinya ia sudah memperkirakan bahwa usahanya untuk meminta maaf kepada Lidya hanya akan membuahkan hasil yang nihil, dan prosesnya pun pasti akan berjalan dengan penuh rintangan layaknya sebuah jalan yang penuh dengan lubang di setiap sisinya. Jika ia bergerak sedikit saja, bisa di pastikan bahwa ia akan terjatuh dengan sendirinya dan tak akan ada seorang pun yang akan meraih tangannya untuk sekedar menyelamatkannya dari lubang tersebut.
Ya, itulah balasan yang setimpal untuknya yang telah berbuat jahat kepada orang-orang yang tidak disukainya.
Tapi... ia ingin menggunakan kesempatan yang ada untuk berubah. Walaupun kemungkinan itu masih sangat buram, tapi bukan berarti tidak bisa sama sekali kan...
Mereka bertiga hanya saling melempar pandangan untuk mengekspresikan kebingungan mereka atas perubahan sikap dari Friska yang berubah drastis dari biasanya.
"Kami ingin ke Perpustakaan," jawab Nurul sopan. Bagaimanapun mereka tidak bisa mengabaikan seseorang yang berniat baik.
"Memangnya ada urusan apa dengan kamu Friska?" Tanya Lidya dengan penuh penekanan dan wajahnya yang terlihat tidak senang dengan kehadiran mereka.
"Ck-ck-ck." Friska merasa tertekan dengan ucapan dari Lidya, dengan mengabaikan rasa malunya, ia mengatakan dengan penuh ketulusan bahwa, "Sebenarnya kami ingin meminta_"
"Owh... minta maaf ya..." sela Lidya dengan gaya cueknya sambil menyedekapkan kedua tangannya di depan dada.
"Enak bangat kalian, habis ngelakuin kesalahan terus minta maaf gitu aja." Sambung Lidya dengan nada yang mencemooh.
"Iya, setelah itu pasti kalian akan melakukan kejahilan kalian kepada siswa yang lain lagi kan..." tambah Ani tak kalah sewotnya. Ia gregetan sendiri jika teringat dengan kejadian kemarin yang diungkapkan Nurul kepadanya ketika dalam perjalanan pulang dari rumah Lidya.
Lidya melangkahkan kakinya kedepan , kemudian ia berbisik di telinga Friska, "Aku nggak akan maafin kalian semudah itu Friska."
__ADS_1
Deg
Jantung Friska rasanya berhenti sejenak. Pupus sudah harapannya untuk mendapatkan maaf dari Lidya. Ia hanya bisa memberikan sinyal kepada Nurul dan berharap belas kasihan darinya.
Siska (Teman Friska) yang kebetulan berada di sisi kanan Friska ikut merasa ngeri mendengar ucapan dari Lidya tersebut. Lalu ia mundur dua langkah untuk menjauhi Lidya agar tidak kecipratan amarahnya sambil menarik lengan Siti ke belakang.
Kini, Siska dan Siti berjarak dua langkah di belakang Friska.
Ani yang melihat hal tersebut hanya bisa menahan tawanya, ia merasa bahwa mereka bukanlah orang yang setia kawan. Mereka bahkan tega membiarkan Friska menghadapi Lidya sendirian.
"Jangan gitu Lidya..." cegah Nurul
"Pokoknya, sampai kapan pun aku nggak akan pernah maafin kalian, titik." Tambah Lidya dengan sikap keras kepalanya.
"Ayo Nurul, Ani sebaiknya kita pergi dari sini karena moodku nggak bagus jika berhadapan dengan mereka." kemudian menarik lengan dari kedua sahabatnya itu.
Flashback on
Ketika Lidya dan Nurul keluar dari ruang kelas, Raka membantu Friska untuk duduk di kursi yang sudah disiapkan sebelumnya.
"Apa masih sakit?" tanya Raka
Friska hanya menggangguk pelan sambil memegang perutnya yang masih terasa perih.
"Semoga saja rasa sakit ini bisa dijadikan pelajaran untuk menghentikan segala kelakuan burukmu Friska."
Friska masih diam membisu sambil mencerna kata-kata Raka.
__ADS_1
"Andai kata hari ini saya tidak mengikuti Lidya dan Nurul, saya tidak tahu apa yang akan dilakukan Lidya kepadamu, mungkin Nurul akan mencegahnya tapi tidak mungkin ia akan berhasil. Buktinya saja walaupun saya berada di ruangan yang sama dengan kalian, tidak mempengaruhi kenekatan Lidya untuk memukulmu kan....
"Terlebih lagi jika hanya ada kalian bertiga di ruangan ini." ucapnya dengan nada yang penuh penekanan.
Raka kemudian menarik nafasnya perlahan, "Sebaiknya kamu minta maaf kepada Lidya secepatnya sebelum semuanya terlambat.
"Jika tidak, saya akan melaporkan kejadian ini kepada Kepala Sekolah dan bagian Kesiswaan.
"Apa pun dan bagaimanapun caranya, kamu harus minta maaf.
"Ingat baik-baik Friska."
Raka tidak memberikan celah sama sekali untuk Friska, ia ingin menggali lebih dalam tentang permasalahan dari keduanya tapi waktunya sangat mendesak saat itu karena sebentar lagi ia harus kembali ke Aula untuk melanjutkan acara.
Setelah selesai dengan pidatonya, Raka berdiri dan meninggalkan Friska begitu saja.
Sungguh, Friska ingin menahan Raka agar tetap menemaninya di ruangan itu. Ia ingin mencurahkan segala keluhannya, ia merasa kurang adil saja.
Di dalam hatinya ia bergumam. "Apakah benar Bapak menyukai Lidya?"
Flashback off
.
.
.
__ADS_1