
Mobil mereka pun sampai di terminal, satu persatu keluar dari mobil tersebut. Dengan berat hati mereka melambaikan tangan sebagai ucapan selamat tinggal kepada mereka, keduanya tidak meninggalkan tempat tersebut sebelum Bus yang di tumpangi Nurul dan Lidya berangkat.
Kini mereka benar-benar berpisah lagi ...
Dengan berat hati mereka memutar arah menuju ke Universitas B,
Adapun harapan Raka adalah sebagai berikut,
Sementara itu di sisi yang lainnya, tepatnya di sebuah bus ada seorang gadis yang menatap ke arah jendela dengan tatapan yang kosong. Tanpa sadar gadis itu menitikkan air mata kesedihan yang sedari tadi dibendungnya.
Sementara gadis yang berada di sebelahnya sedang sibuk membuka kado pemberian dari sang kekasih karena ia sangat penasaran dengan isi di dalamnya.
"Akh, hanya sebuah gantungan kunci berbentuk ..." Ia pun mencoba membongkar bagian bawah tempat duduknya untuk melihat jika ada sesuatu yang terjatuh, ia merasa gantungan tersebut tidak utuh. "Hanya berbentuk setengah hati saja, sementara hati yang setengahnya di mana?" gumamnya di dalam hati sambil meraba-raba kolong tempat duduknya.
Buugh
Kepalanya terbentur di pinggiran bus, ia pun meringis kesakitan dan menggosok-gosok bagian kepalanya yang terasa sakit itu. Kemudian ia berdiri hendak duduk di tempat duduknya semula, namun ia mendapati sahabatnya yang sedang berlinangan air mata.
Ia pun langsung menyimpan hadiah itu di tas ranselnya dan beralih menatap kepada sahabatnya itu, kemudian mengusap air matanya. "Apa yang sedang kamu pikirkan, mengapa kamu menangis seperti ini Nurul?"
Nurul yang tersadar dari lamunannya langsung menyeka sisa-sisa air matanya itu, "Nggak apa-apa Lid, kayaknya kemasukan debu, he-he-he" ia berusaha menyembunyikan kesedihannya dengan berpura-pura tersenyum dan terkekeh kecil.
Lidya langsung memeluknya dan berucap, "Ceritakanlah apa yang terjadi di antara kalian, jangan memendam semuanya sendirian, aku akan tetap berada di sampingmu Nurul."
Nurul pun terisak dalam pelukan sahabatnya itu, setelah tangisnya mulai mereda, ia mengatakan bahwa rencana pertunangan Ari dan Chika akan dilaksanakan bulan depan, dan ia tidak ingin menjadi perusak dari rencana tersebut. Ia mengatakan hal itu dengan tersedu-sedu.
"Sakit rasanya jika berada di posisi Nurul," gumamnya di dalam hati. "Pantas saja hari ini kak Ari menatap Nurul dengan tatapan yang sulit diartikan." sambungnya lagi.
__ADS_1
Ia hanya mengusap punggung sahabatnya itu dan membiarkannya menumpahkan segala kesedihan yang dirasakan olehnya. Tak lama kemudian Nurul tertidur di pundaknya, dengan pelan, Lidya merebahkan kepala Nurul di atas pangkuannya kemudian mengusap wajah sahabatnya itu.
Perjalanan yang masih panjang itu pun berhasil membuatnya tertidur sambil menyandarkan kepalanya di kaca jendela.
Waktu pun berlalu, tak terasa mereka hampir sampai di tempat yang di tuju. Saat Bus itu sampai di terminal tujuan, keduanya masih terlelap dalam tidur mereka, sehingga kenek Bus terpaksa membangunkan mereka.
"Dek, Dek kita sudah sampai Dek." ucapnya sambil menggoyang-goyangkan bahu mereka secara bergantian.
"Sudah sampai Pak? Akh senangnya ..." Lidya langsung merenggangkan tubuhnya yang terasa keram, kemudian membangunkan Nurul.
Seluruh penumpang pun turun dari bus tersebut, kedatangan mereka di sambut oleh beberapa guru dan orang tua dari masing-masing peserta lomba.
Peluk hangat dari orang tua memang obat yang sangat manjur ketika rasa lelah duduk seharian di dalam Bus.
Segala kenangan tentang kota B hanyalah tinggal kenangan yang tak akan mungkin terulang lagi. Kini mereka harus menghadapi hari-hari yang baru di desa mereka yang tercinta.
Say good bye to B town.
Setelah menemukannya ia pun membaca surat tersebut;
Assalamualaikum Lidya sayang ...
Maaf jika aku memanggilmu sayang, karena hanya melalui surat ini aku bisa mengucapkan kata itu. Oh iya, Bagaimana perjalanan kalian, aku berharap semoga tidak ada halangan apa pun.
Aku tahu kamu merasa kecewa dengan hadiah dariku, tapi tahukah kamu apa arti dari hadiah itu?
Itu adalah sebuah gantungan kunci yang memiliki pasangan, dan pasangannya sekarang berada bersamaku. Dan gantungan itu adalah benda pertama yang aku beli dengan uang hasil keringatku sendiri, adapun alasan mengapa aku memilih benda itu, karena aku ingin engkau membawa sebahagian hatiku bersamamu dan sebahagiannya lagi akan kujaga untukmu selalu Lidya.
Sebagai penutup surat ini aku ingin mempersembahkan sebuah puisi untuk kita, ya untukmu dan untukku.
__ADS_1
Layaknya siang dan malam yang bertemu di kala senja yang menyisakan keindahan
Pertemuan singkat kita nan indah itu
Tak kan pernah kulupa
Segala kenangan telah terekam di dalam sanubariku
Biar kumiliki hingga senja berlalu
Setiap pertengkaran dan perselisihan layaknya anak kecil
Setiap kebersamaan dan ketidaksengajaan yang tak disadari
Setiap celotehan dan umpatan yang selalu menghiasi kebersamaan kita.
Bagaimana aku bisa melupakan semua itu?
Satu hal yang perlu kau tau
Melupakanmu, aku tak mampu
Segala tentangmu serupa sang mentari
Walau ia terbenam hari ini
Ia akan datang lagi di hari esok
^^^Salam sayang dan rinduku ^^^
__ADS_1
^^^untukmu Lidya^^^
^^^Raka^^^