Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Ketegangan Lidya


__ADS_3

"Sebentar." ucap Raka ketika mereka hendak berdiri setelah membereskan peralatan makan mereka.


Mereka terkejut dan saling memandang satu sama lain dengan sebuah pertanyaan di dalam benak mereka.


"Ada apa lagi?"


Setelah melepas pandangan, Lidya mengangkat keningnya untuk memberikan kode kepada Nurul. Akhirnya Nurul mengangkat suaranya. "Kenapa Pak?" tanya Nurul dengan hati-hati


"Sebenarnya ini tentang hadiah buat kalian." jawab Raka santai setelah menutup rantangnya.


"Hadiah?" tanya mereka tidak percaya dengan apa yang telah ditangkap oleh indra pendengaran mereka sendiri.


"Iya, aku akan mengajarkan kalian tentang cara menggunakan laptop mulai dari hari Senin lusa." jawab Raka tanpa merubah ekspresi datarnya.


"Akh... Aku senang sekali" pekik Ani kegirangan. Ia merasa sangat senang setelah melihat ketulusan Raka.


"Benarkah?" tanya Nurul dan Lidya kompak.


"Hmmm." jawabnya singkat.


Saking senangnya, Lidya langsung mendekati kedua sahabatnya dan mengabaikan jika saat ini masih ada Raka di sampingnya dan nyelonong begitu saja melewati Raka.


Raka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum simpul. Ekh salah, simpel maksudnya. He he he...


Mereka berpelukan kayak teletubies untuk mengekspresikan kegembiraan yang mereka rasakan saat ini.


"Ehem..."


Deheman Raka membuat mereka sadar bahwa masih ada orang lain yang sudah diabaikan.


"Ya iyalah... Masa diajak pelukan." protes Author kepada Raka.


Mau tak mau, mereka menyudahi aksi mereka. Kemudian mengambil rantang makanan masing-masing.


Sekali lagi, Raka melancarkan aksinya.


Ia mengoper rantang makanan Lidya dan menyerahkannya kepada Lidya lengkap dengan sebuah senyum mautnya.


Membuat Lidya hanya bisa pasrah untuk mengagumi sosok pria yang kini berada di hadapannya.


"Rasanya tak percaya..."


"Tapi sungguh terjadi..."


"Akh... Membuatku semakin melayang-layang kayak layangan."


Pekik Lidya di dalam hatinya.


"Hati-hati menjadi layangan putus Lidya." Bisik Author sehingga membuyarkan lamunannya.


Dengan malu-malu ia mengambil rantang dari tangan Raka.


"Terima kasih Pak." ucap Lidya setelah mengambil rantang tersebut sambil menunduk malu.

__ADS_1


Raka bergerak maju mendekati Lidya dan berbisik. "Panggil kak Raka saja."


Dag


Dig


Dug


Deg


Dooor


Rasanya kepala Lidya akan pecah mendapat bisikan dari Raka. Ia terdiam mematung di tempatnya.


Wajahnya jangan ditanya lagi, namun ia berusaha untuk menetralkan detak jantungnya tersebut.


Raka semakin melebarkan senyumnya melihat ekspresi Lidya.


"Si tomboy ini ternyata bisa malu-malu juga." gumamnya di dalam hati.


Sementara itu Nurul dan Ani hanya menjadi penonton lagi dengan kedua netra mereka yang sudah membulat sempurna.


"Ekh, ta_" ucap Lidya setelah berhasil menguasai dirinya lagi yang sebelumnya sudah terbang entah ke langit yang keberapa.


"Sebaiknya kalian segera kembali ke kelas." sela Raka agar Lidya tidak memperpanjang tentang hal tersebut.


"I... Iya Pak." ucap Ani dengan gagap.


Dengan langkah yang terburu-buru Lidya memimpin jalan. Ingin rasanya ia segera sampai di dalam kelas karena ia merasa tak mampu lagi merasakan sebuah sensasi aneh jika masih tetap berhadapan dengan Raka.


Nurul dan Ani hanya diam membisu sambil mengikuti langkah Lidya dari belakang.


"Dia masih sangat berhati-hati." gumam Raka sambil memperhatikan mereka dan masih tetap berdiri di tempatnya semula.


Tak lama kemudian mereka tiba di tempat tujuan. Untung saja belum ada guru yang masuk, lagi pula masih ada beberapa siswa yang bernasib sama di belakang mereka.


Nurul dan Ani hanya menahan keinginan mereka untuk menggoda Lidya karena tak lama kemudian guru mata pelajaran fisika masuk ke dalam kelas mereka.


Pelajaran pun segera dimulai, mereka belajar seperti biasanya.


3 jam kemudian


Ting


Ting


Ting


Bel tanda pelajaran telah selesai pun berbunyi. Dalam perjalanan pulang Nurul dan Ani tak henti-hentinya menggoda Lidya dan menertawakan ekspresi Lidya yang terlihat malu-malu kucing.


Bagaimana tidak, seorang gadis tomboy yang paling ditakuti satu sekolahan karena jago taekwondo, kini berubah menjadi seorang putri malu yang sedang dimabuk asmara.


Setelah puas menggoda Lidya, tiba-tiba Ani merasa sedih, karena teringat dengan kisah cintanya yang sangat jauh berbeda dengan Lidya dan Nurul.

__ADS_1


Ia berusaha menahan genangan air mata yang sudah menggenangi pelupuk matanya dan sedang berlomba-lomba untuk keluar.


Nurul dan Lidya menoleh ke arah Ani di ujung tawa mereka, karena mereka merasa ada yang kurang.


"Kenapa dengan matamu Ani?" tanya Nurul sambil memegang perutnya yang sakit.


Pertanyaan itu berhasil menguapkan lamunannya.


"Ekh, ini hanya karna terlalu banyak tertawa saja." bohong Ani sambil menyeka air matanya.


Lidya dan Nurul dapat merasakan kesedihan dari sahabatnya itu. Mereka mendekatinya dan merangkul kedua tangannya.


"Nggak baik lho nyembunyiin kesedihan dari kami."


"Iya, di antara kita sudah saling terikat melalui perasaan." sambung Nurul


"Dan saat ini tidak ada gunanya menangis untuk sesuatu yang tidak pantas ditangisi." tambah Lidya lagi


"Lebih baik lupakan semua yang pernah terjadi agar kita bisa tersenyum lagi." tambah Nurul lagi


"Seperti ini." ucap Lidya sambil memperlihatkan senyumnya.


"Iya, seperti ini Ani." sambung Nurul dengan senyum khasnya.


Ani masih belum bisa tersenyum.


Akhirnya Lidya menarik ke atas sudut bibir sebelah kanan Ani membentuk sebuah senyuman, dan hal itu diikuti Nurul dengan menarik sudut bibir sebelah kirinya.


"Smile." Ucap keduanya sambil tersenyum.


Dan hal itu berhasil mengeluarkan Ani dari kesedihannya.


"Ha... ha... ha..."


Suara tawa berhasil mengiringi perjalanan mereka kembali.


.


.


.


.


.


Jangan lupa dukungannya Readers.


Kalau bisa berikan hadiah setangkai mawarnya ya. He he he.


Just kidding Readers


Happy reading....

__ADS_1


__ADS_2