Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Kecelakaan di Perpustakaan


__ADS_3

40 menit kemudian...


Bruuk


Raka yang kehilangan keseimbangan ketika mencuri lihat ke arah Lidya, membuatnya terjatuh dari bangku plastik yang sedang dinaikinya.


Refleks, keempatnya menoleh ke sumber suara.


Ingin rasanya Rendi tertawa terbahak-bahak melihat posisi Raka saat ini yang sangat menggelikan.


Bagaimana tidak, orang super perfeksionis itu posisinya saat ini adalah terduduk di atas lantai yang berada di sudut rak dengan satu kakinya yang masih berada di atas bangku plastik.


Kalian pasti sudah bisa membayangkannya kan... Readers?


Akhirnya ia hanya menutup mulutnya dengan sangat rapat agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun.


Ia sudah memprediksi jika hal itu tidak dilakukan, maka sebuah hukuman akan menyambutnya dengan segera.


"Pffft" terdengar suara tawa dari sisi sebelah. Mereka tak dapat menahannya lagi. Wajah mereka kini sudah memerah.


Raka yang mendengar suara tawa tersebut berusaha untuk bangkit, namun...


Bruuk


Tumpukan buku-buku yang berada di rak paling atas jatuh dan menghujani Raka, akibat dari pergerakannya yang telah membuat rak buku sedikit bergoyang.


"Aawww..."


Pekiknya sambil memegang bekas gigitan Lidya yang tertimpa sebuah buku yang cukup tebal.


Melihat hal itu Lidya langsung mendekati Raka, karena merasa sangat khawatir. Ia masih ingat dengan jelas di bahu yang sakit itulah terdapat bekas gigitan darinya kemarin.


"Bapak baik-baik saja kan?" Tanya Lidya setelah membantu Raka berdiri.


Nurul, Ani dan Rendi hanya menjadi penonton setia yang menantikan adegan berikutnya.


Sementara itu Raka masih tidak percaya bahwa orang yang sedang membantunya saat ini adalah Lidya, karena awalnya ia mengira jika Rendilah yang akan membantunya.


"Gadis ini..." Gumam Raka di dalam hatinya.


Melihat Raka yang masih diam membisu, membuat Lidya semakin khawatir.


"Apa masih sakit?" tanya Lidya dengan hati-hati sambil menatap wajah Raka dengan sangat intens, seakan-akan ia ingin mencari sesuatu yang ingin dipastikannya saat ini. Jarak mereka pun sangat dekat.


Ketiga penonton setia masih diam membisu, dengan bola mata yang sudah membulat sempurna.

__ADS_1


Mendapat tatapan dari Lidya, membuat Raka hanya bisa menelan salivanya dengan kasar.


Deg


Deg


Deg


"Akh.... Kenapa jantungku menjadi berdebar-debar seperti ini?" rutuknya di dalam hati.


Raka masih tidak bereaksi.


Akhirnya Lidya memberanikan diri untuk mencoba memeriksa bahu Raka. Dengan cepat ia menarik pakaian yang menutupi bahunya untuk memeriksa jika terdapat cedera yang parah.


Melihat kelakuan Lidya membuat ketiga penonton tersebut hanya bisa terperanga tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.


Mereka tidak ingin mengganggu pemeran utama Pria dan pemeran utama Wanita untuk menyelesaikan adegannya.


Namun hal itu segera dicegahnya dan memegang tangan Lidya. "Apa yang akan kamu lakukan Lidya?" tanya Raka sambil menahan gemuruh di jantungnya saat ini yang semakin sulit dikendalikan.


"Aku hanya ingin memeriksanya saja." jawab Lidya dengan polosnya.


Raka tidak habis pikir dengan kenekatan Lidya. "Tidak perlu." ucap Raka sambil menepis tangan Lidya pelan.


"Aku baik-baik saja" sambung Raka dan segera menjauh dari Lidya untuk mendamaikan alunan jantungnya yang sudah ingin meloncat keluar.


Sementara itu Raka segera menyambar botol air mineralnya yang berada di meja staffnya, kemudian meneguknya hampir tandas. Ia merasa sangat haus, tak lama kemudian ia merasa sedikit rileks karena setelah debaran jantungnya sudah tak seberisik tadi, kemudian ia segera melayangkan tatapan sadisnya kepada Rendi.


Deg


Rendi yang mendapat tatapan dari Raka langsung bergidik ngeri terasa seperti tersengat listrik.


"Akh... Aku pasti kena hukuman lagi." gumamnya di dalam hati.


Sementara itu di sisi lain


Lidya yang mendapat penolakan dari Raka hanya terdiam kaku.


"Kenapa Dia menolak bantuanku?"


"Apa mungkin Dia masih marah?"


"Akh... Buat apa juga aku memikirkannya?"


"Toh Dia sekarang baik-baik saja kan..."

__ADS_1


"Lagi pula itu salahnya sendiri, buat apa aku sekhawatir ini."


"Lidya... Lidya... Dia tidak membutuhkan bantuanmu."


"Buktinya, Dia tidak mengucapkan terima kasih kan..."


"Hmmm... Sepertinya aku sudah salah mengira."


Setelah selesai dengan celotehannya, akhirnya ia mendekati Nurul dan Ani.


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Ani


"Hmmm." jawab Lidya singkat.


"Kamu duduk di sini saja biar aku dan Ani yang akan membereskan buku-buku itu."


"Hmmm."


Ada kekecewaan yang tergambar jelas di wajahnya saat ini. Ingin rasanya ia menanyakan langsung kepada Raka, namun hal itu segera ditepisnya.


"Untuk apa aku memikirkannya lagi." gumamnya


Akhirnya ia hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar untuk membuang segala beban di hatinya.


Rendi yang masih mendapat tatapan dari Raka segera mencari alasan untuk membantu Nurul dan Ani.


"Hmm... Bisa dibilang sekali dayung dua tiga pulau terlampaui." gumam Author


Bagaimana tidak, selain bebas dari Raka, ia bisa menjadikan kesempatan ini untuk mendekati Nurul kan...


"Rendi... Rendi... Sungguh cerdiknya kamu mencari kesempatan dalam kesempitan." gumam Author lagi.


.


.


.


.


Kira-kira bagaimana kelanjutannya ya...


Jangan lupa dukungannya Readers


like, vote, dan hadiahnya ya....

__ADS_1


Karena dukunganmu adalah semangatku.


Happy reading....


__ADS_2