
Dua Minggu kemudian, tepatnya hari Minggu tanggal 19 November 2005 Nurul dan Ani bersama panitia lomba Olimpiade Nasional lainnya tiba di kota A.
Mereka akan mengikuti lomba dalam bidang Olahraga dan Matematika yang diwakili mereka dan tiga peserta lainnya dan akan berlangsung selama tiga hari berturut-turut.
Kegiatan tersebut di selenggarakan di sebuah Universitas terbesar yang berada di kota A. Sedangkan tempat tinggal mereka untuk sementara, bertempat di sebuah tempat pelatihan militer yang memiliki halaman yang sangat luas. Tak hanya itu, bangunannya yang bertingkat menambah kekaguman mereka.
"It's amazing,"
"And beautiful."
Begitulah kesan pertama mereka.
Mereka pun berbaris membentuk beberapa kelompok, untuk pembagian kamar.
Setiap kamar terdapat tempat tidur dua tingkat yang terbuat dari besi, di setiap kamar mampu menampung 50 orang dan dilengkapi dengan empat buah kamar mandi di dalamnya.
Lidya memilih tempat tidur yang berada di atas. Sementara Nurul yang takut ketinggian tersebut lebih memilih tempat tidur di bawah Lidya.
Gedung untuk laki-laki dan perempuan terpisah, sehingga dalam satu ruangan tersebut, hanya mereka berdua lah yang saling kenal. Karena ketiga peserta yang lainnya adalah laki-laki.
Pada malam harinya, seluruh peserta berkumpul di sebuah Aula yang sangat besar dan luas. Jika di totalkan jumlahnya sekitar dua peserta dari seluruh penjuru Indonesia.
Nurul dan Ani tak henti-hentinya berdecak kagum dengan segala hal baru yang benar-benar luar biasa menurut mereka.
Bangunan yang mewah, fasilitas yang lengkap, kecanggihan teknologi dan keindahan alam yang berpadu sempurna itu sungguh sesuatu yang membuat mereka tak hanti-hentinya mengucapkan kata 'Waaw'.
Kata-kata sambutan dan peraturan yang di sedang disampaikan oleh pihak panitia melalui mikrofon tersebut terasa seperti angin lewat. Mereka hanya sibuk mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan.
__ADS_1
Untung saja, setelah pertemuan berlangsung panitia yang lainnya membagikan sebuah brosur tentang peraturan yang harus dipatuhi oleh setiap peserta.
Jika tidak, kemungkinan besar akan ada yang tersesat. Terlebih bagi orang-orang yang berasal dari desa seperti mereka.
Mereka pun pulang ke tempat sebelumnya dan melakukan berbagai persiapan untuk kegiatan besok.
Ada yang sibuk belajar, ada yang sibuk menyetrika seragamnya, ada sibuk mengantri untuk menunaikan sholat, ada yang sedang berdiskusi dan ada yang sedang curhat.
Ya, seperti itulah gambaran kegiatan yang berlangsung di dalam kamar mereka. Sementara Nurul dan Lidya lebih memilih untuk istirahat agar besoknya mereka tidak akan terlambat untuk mengantri di depan kamar mandi.
Tepat pukul dua dini hari, Nurul terbangun dari tidurnya dan melaksanakan sholat Tahajjud dimana semua orang sedang tertidur pulas.
Ia melangitkan doanya dengan deraian air mata yang membasahi wajahnya. Ia memohon agar dijauhkan dari kekhilafannya yang telah mengagumi keindahan ciptaan-Nya melebihi Sang Pencipta yang Maha Indah.
Setelah itu, ia memilih untuk beristigfar di atas sajadah sampai tertidur dengan sendirinya.
Tak lama kemudian Adzan subuh berkumandang, Lidya yang baru saja bangun dari tidurnya itu kebingungan mencari kebaradaan Nurul.
Puuk
Refleks, Lidya menoleh ke arahnya. Dengan cepat ia memeluk sahabatnya itu. Ia sangat khawatir dan mengira Nurul akan tersesat. Entahlah, ia merasakan sebuah firasat buruk akan menimpa sahabatnya itu. Karena semalam ia bermimpi buruk tentang Nurul.
Setelah Lidya cukup tenang, Nurul pun melepaskan pelukan mereka.
"Apa yang terjadi Lidya?" Nurul menatap Lidya dengan tatapan yang menenangkan setenang air danau yang menghanyutkan.
"Aku tidak ingin kehilanganmu, aku akan menjagamu." Dengan penuh kecemasan ia mengucapkan isi hatinya.
__ADS_1
Nurul pun hanya tersenyum samar, "Aku baik-baik saja Lidya, ceritakan apa yang kamu khawatirkan." Kemudian Nurul mengajak Lidya untuk duduk di tempat tidurnya sambil menggenggam erat tangan Lidya yang terasa dingin tersebut.
Lidya menceritakan mimpi buruknya semalam tanpa dikurangi atau dilebih-lebihkan.
Setelah Lidya selesai, Nurul pun berkata, "Bukankah itu hanya mimpi?" Buktinya aku baik-baik saja," tanpa melepaskan genggaman tangannya.
Lidya masih sedikit ragu karena mimpinya terasa sangat jelas dan nyata.
"Sudah mandi sana, sudah banyak yang ngantri." sambungnya untuk mengalihkan perhatian.
Lidya tak punya pilihan lain lagi karena ia tidak ingin terlambat. "Iya, tapi kamu harus janji jangan pergi kemana-mana sendirian." Dengan menekankan kata 'sendirian'.
"Iya, iya.
"Kayak aku masih anak kecil saja, harus laporan kalau mau mana-mana.
"Lidya, Lidya... ternyata dibalik sikap cuek dan tomboynya itu tersembunyi sifat keibuan."
Celoteh Nurul setelah jarak mereka cukup jauh. Kemudian ia bersiap-siap untuk berangkat karena sebentar lagi bus akan menjemput seluruh peserta.
Bus yang akan ia tumpangi berbeda dengan bus yang akan ditumpangi Lidya nantinya, karena tempat pelaksanaan lomba dipisahkan sesuai kategori.
Setelah semuanya selesai dengan aktifitas masing-masing, mereka bergegas turun ke bawah melalui anak tangga yang menurut Nurul cukup tinggi.
Mereka pun bergandengan tangan ketika menuruninya. Setelah itu mereka berbaris sesuai dengan nomor peserta.
.
__ADS_1
.
.