
Traangg
Hati Lidya hancur berkeping-keping bagaikan sebuah baskom kaca yang dihentakkan di atas batu besar.
Seketika, tubuhnya melemah seiring dengan deraian air mata yang mengucur deras di wajah cantiknya.
Semuanya sudah berakhir!
Ya, berakhir dengan begitu tragis. Ia hanya bisa mengiringi kepergian Raka dengan sebuah tangisan penyesalan.
"Tapi kenapa pak Raka harus mengunjungi sekolah mereka sebelum kepergiannya?" sambil menyeka sisa-sisa air matanya.
"Mungkinkah ia ingin melihatku untuk terakhir kalinya?
"Ya, sepertinya ia ingin mengucapkan kata-kata perpisahan, namun semuanya menjadi kacau karena sikapku.
"Heehh..., Semoga kita akan bertemu lagi Kak." gumamnya penuh harap.
Dengan ekspresi yang penuh kekecewaan, ia kembali lagi ke dalam kelas. Ia tidak peduli dengan hukuman yang sudah menunggu kedatangannya sedari tadi.
Sementara itu di rumah Rendi, Raka mengambil tas ransel dan bekal makanan yang telah disiapkan bunda Hani yang terletak di atas meja makan.
Sebelum berangkat, ia terkekeh kecil ketika teringat dengan pertemuan pertama dan pertemuan terakhir mereka.
Ia akan menyimpan segala kenangan terindah mereka di dalam relung hatinya.
Setelah mengucapkan basmallah, ia menghidupkan motornya dan melaju dengan kecepatan sedang.
Selamat tinggal Kak,
Selamat tinggal Rendi,
Sampai jumpa lagi Lidya.
Selamat tinggal Readers, he-he-he...
Just kidding Readers..., Author jadi kebawa suasana.
Ok. Kita lanjut lagi Readers-readersku tersayang.
"Apakah kamu menemukannya?" Nurul sangat penasaran dengan jawaban Lidya.
__ADS_1
"Hmmm,"
"Terus?"
"Dia datang ke sini." jawabnya dengan ekpresi yang dingin.
"Bagaimana bisa?"
"Bukankah hal itu sudah sangat jelas?"
"Jelas apanya?"
"Dia ingin menemui Lidya untuk yang terakhir kalinya," jelas Ani.
"Benar juga ya... kalau begitu aku yakin pak Raka akan datang menemuimu lagi." tambah Nurul untuk menyemangati Lidya yang sedang patah hati.
"May be yes, may be no. (Mungkin ya, mungkin tidak)."
"Eits jangan putus asa dulu, buktinya sudah jelas kan..."
"Iya, dia sudah mengakui perasaannya, dan mencoba untuk menemuimu," tambah Nurul
"Hmmm," jawabnya singkat.
.....
Hari demi hari pun berlalu, mereka melewati rutinitas mereka seperti biasanya, hanya saja terasa hambar tanpa kehadiran pelangi kehidupan seperti sebelum-sebelumnya.
Perlahan-lahan, Lidya sudah mulai terbiasa tanpa kehadiran Raka meski ia sering dilanda kerinduan dan penyesalan ketika melihat meja kerja Raka yang tak berpenghuni.
Setiap jam istirahat, mereka akan mengunjungi basecamp mereka seperti biasanya. Namun terasa sedikit asing dan sunyi, bayang-bayang tentang Raka selalu menghantuinya selama hampir sebulan belakangan.
Ya, ia masih belum bisa melupakan sepenuhnya kebersamaan mereka. Bahkan terkadang ia melihat bayang-bayang Raka yang sedang tersenyum padanya.
"Heehh, betapa beratnya merindui seseorang yang telah mengisi relung hati.
"Ternyata cinta itu menyakitkan ya..."
"Ya, terkadang kita baru menyadari arti dari kebersamaan setelah kita kehilangan," jawab Nurul.
"Sayang, kita tidak mempunyai petunjuk apa pun untuk mencarinya."
__ADS_1
"Kenapa harus dicari?"
"Agar tidak kehilangan lagi."
"Tetap nggak bisa gitu Lidya,"
"Kenapa?"
"Karena pangeranlah yang mencari sang putri, bukan kebalikannya."
"Iya juga sih, tapi sampai kapan aku harus menunggu Nurul?"
"Sampai kamu benar-benar siap."
"Aku sudah siap."
"Siap dalam artian sudah pantas menikah."
"Owh..., kalau itu aku belum siap. Aku masih ingin mewujudkan cita-citaku."
"Benar, sebaiknya kita fokus dulu dengan pendidikan kita sampai gelar sarjana, menikmati uang hasil jerih payah sendiri,"
"Nah, setelah itu baru menikah."
"Berarti masih lama dong..."
"Nikmati saja masa-masa remaja yang takkan terulang ini."
"Berjuanglah untuk meraih cita-citamu."
"Masalah jodoh, serahkan saja kepada Yang Maha Mengetahui."
Lidya termotifasi dengan ucapan dari kedua sahabatnya itu, kemudian merangkul keduanya dan berteriak;
..."3 SERANGKAI SEMANGAT!"...
.
.
.
__ADS_1